تغريدة مثبتة
windy
40.1K posts

windy أُعيد تغريده

Pohon sebesar itu udh bisa jadi habitat puluhan spesies. Selain, kuskus, bisa ada burung, serangga, anggrek, pakis, reptil kecil, liana, lumut, dll. Blm lagi ada yg endangered statusnya.
Ini aja baru 1 pohon! Misalnya 2,5 juta ha hutan yg dibabat gimana?? Tau deh, pikir sendiri
Aida Greenbury@AidaGreenbury
There’s a spotted cuscus in the tree! My goodness! 📍Merauke, Papua 📹 bobyyy___6
Indonesia
windy أُعيد تغريده
windy أُعيد تغريده

Baru saja selesai lihat film dokumenter Pesta Babi (Pig Feast) dan semuanya terasa sangat piluh.
Kesimpulanku:
Semua yang dipertontonkan oleh pemerintah Indonesia di tanah Papua bukan lagi sekadar salah urus birokrasi atau kegagalan kalkulasi ekonomi, melainkan sebuah bentuk structural and cultural genocide yang dilegitimasi oleh hukum negara. Di bawah jargon luhur “Ketahanan Pangan” dan “Transisi Energi Hijau,” negara secara sadar dan sistematis sedang mencabut fondasi paling mendasar dari eksistensi manusia Papua: ruang hidup mereka.
Ketika 2,5 juta hektar hutan adat dirobohkan secara brutal oleh ribuan ekskavator oligarki, negara ngga cuma sedang menebang pohon; mereka sedang mengeksekusi mati sebuah peradaban. Bagi masyarakat asli Papua, hutan bukan sekadar komoditas atau hamparan tanah kosong (terra nullius), melainkan rahim kebudayaan, supermarket spiritual, dan jaring pengaman sosial yang telah menghidupi mereka selama ribuan tahun. Dengan memutus hubungan eksistensial antara manusia Papua dengan tanah ulayatnya melalui de-saguasi paksa dan korporatisasi agraria, pemerintah secara sengaja sedang menciptakan kondisi slow-motion extinction bagi bangsa Melanesia di atas tanah leluhur mereka sendiri.
Kekejaman ini semakin telanjang ketika instrumen pertahanan negara militeristik (TNI) didegradasi fungsinya menjadi sekadar security bayaran bagi para taipan kelapa sawit dan industri tebu. Atas nama Proyek Strategis Nasional (PSN), moncong senjata diarahkan kepada pemilik sah tanah adat yang menolak tunduk pada kompensasi hina senilai Rp300.000 per hektar. Ini adalah bentuk proletarisasi paksa dan subordinasi rasial: orang Papua dirampas kedaulatan pangannya, dihancurkan kebun ubinya, dicemari sumber airnya oleh pestisida korporasi, lalu dipaksa mengemis menjadi buruh kasar berupah murah di atas tanah yang mereka miliki. Ketika mereka melawan, palang sasi adat mereka digeser oleh laras senapan, dan teriakan minta tolong mereka dibungkam di balik jeruji besi dengan cap “separatis.”
Pemerintah Jakarta bertindak layaknya “Pilatus modern”—mencuci tangan di atas penderitaan ratusan ribu pengungsi internal di pedalaman Papua yang melahirkan di tengah belantara akibat trauma operasi militer yang nggak pernah usai. Negara memamerkan tumpukan uang triliunan rupiah hasil denda korporasi dan pertumbuhan ekonomi di televisi nasional, sementara di garis depan pasifik, anak-anak gen-Z Papua kehilangan masa depan karena ruang ekologisnya telah berganti menjadi tangki bensin kendaraan masyarakat urban di Pulau Jawa.
Kalau kolonialisme Belanda masa lalu mengeksploitasi Jawa melalui Cultuurstelsel (tanam paksa) demi mengisi kas negara di Amsterdam, maka hari ini Indonesia sedang menduplikasi kejahatan yang persis sama: memeras darah, tanah, dan air mata Papua demi memperkaya segelintir dinasti oligarki di Jakarta. Mengklaim Papua sebagai bagian dari Republik namun memperlakukan manusianya seperti hama yang menghalangi laju buldozer kapital adalah kemunafikan politik tertinggi.
Ini bukan pembangunan; ini adalah penaklukan sepihak, sebuah pesta pora oligarki yang dibayar mahal dengan harga kepunahan sebuah bangsa.



Indonesia
windy أُعيد تغريده
windy أُعيد تغريده
windy أُعيد تغريده
windy أُعيد تغريده
windy أُعيد تغريده

Halo teman-teman. Orangutan induk-anak di video tsb sudah dievakuasi oleh tim BKSDA Kaltim dan COP tanggal 25 September 2023. Namanya Mauliyan & baby Ariandi.
Sudah dirawat oleh tim rehab kami sampai sehat, dan sudah dilepasliarkan kembali ke hutan lindung tanggal 14 Maret 2024.
MasBRO 🦉🫶@MasBRO_back
Miris! Orangutan kurus kering turun ke jalan "Kelaparan" Kutai Timur
Indonesia
windy أُعيد تغريده
windy أُعيد تغريده
windy أُعيد تغريده

Pantai Kartika di Sulawesi Utara.
Hancur karena Tambang...😭
Kemana @kemenhut_ri @ESDM_Sulselprov
Indonesia
windy أُعيد تغريده
windy أُعيد تغريده

I don’t think people understand the gravity of what we are looking at in this photo. This should infuriate every single one of us.
Melo ⭒@wyomelo
Deforestation of Sumatra 😕
English
windy أُعيد تغريده

windy أُعيد تغريده

coba yang kemarin ngusir orang orang suruh jangan nonton pesta babi, berani usir media Al Jazeera juga ngga buat jangan di sebar luaskan?
semakin kalian tutup tutupin semakin terbuka kan.
#pestababi
Al Jazeera English@AJEnglish
Indonesian authorities have shut down several screenings of a new documentary on alleged human rights abuses in Papua, including Indigenous land seizures. Rights groups and international media still face restricted access to the region. Al Jazeera’s @JesWashington reports.
Indonesia
windy أُعيد تغريده

Alat berat robohkan rumah terakhir satwa langka Marsupilami, di Hutan Papua Selatan.
Biadab kalian @kemenhut_ri
Indonesia
windy أُعيد تغريده
windy أُعيد تغريده

noise.talks
Sebuah lagu tradisional dari suku Mamuna di pedalaman Papua kembali menarik perhatian publik setelah makna di balik liriknya berhasil diungkap. Lagu yang dikenal dengan suara khas dan nuansa alam yang kuat itu ternyata menyimpan kisah cinta tradisional antara dua suku di Papua.
Lagu tersebut menceritakan pertemuan seorang gadis dari suku Lani dengan pria dari suku Momuna. Dalam kisahnya, sang gadis tanpa sengaja melangkahi busur dan anak panah yang dianggap sakral oleh masyarakat Momuna, hingga memunculkan nyanyian yang berisi pertanyaan, rasa kecewa, sekaligus ungkapan cinta.
Bagi masyarakat Momuna, busur dan anak panah bukan sekadar alat berburu, melainkan simbol kehidupan, identitas, dan warisan leluhur. Melalui lagu itu pula, para pria menyatakan bahwa jika sang gadis memilih menjadi bagian dari suku mereka, ia akan dijaga, dicintai, dan menjadi bagian dari kehidupan komunitas mereka.
Keaslian suara dan makna budaya yang terkandung di dalam lagu ini membuat banyak orang menyebutnya sebagai salah satu "suara alam paling murni" dari pedalaman Papua.
Indonesia
windy أُعيد تغريده












