
Hanif
17K posts









Obsesi kalian terhadap Arsenal sebenarnya malah membuatku tersanjung. Kalian mendoakan kehancuran kami karena klub kalian sendiri terlalu membosankan untuk dibicarakan. Kami adalah tokoh utama dalam sepak bola, kalian semua hanyalah aktor pendukung dalam film dokumenter kami.





Bayangin, 9 kali tembus final, tapi 7 kali cuma jadi saksi tim lain angkat piala. Statisik yang bikin Juventini kena mental tiap kali denger anthem Liga Champions. Mereka kalah bukan karena skuadnya ampas. Mau era dominasi Serie A tahun 90-an yang isinya monster semua, era taktik pragmatis robotik 2003, sampai era tembok Berlin BBC + Buffon di 2015 & 2017, ujung-ujungnya tetep aja kena curse. Apesnya lagi, di era modern mereka kudu ketemu Barca lagi di puncak kejayaan trio MSN sama mesin gol Madrid yang lagi ganas-ganasnya. Gelar terakhir mereka aja udah lama banget. 1996, menang adu penalti lawan Ajax. Setelah itu? Tiap denger lagu UCL di final, berakhirnya sama aja, senyum kecut sambil nonton tim lain nari-nari di podium. Dari 7 kekalahan itu, mana yang paling nyesek? 2003 kalah adu penalti dari sesama tim Italia, atau 2017 yang literally dibantai Madrid tanpa bisa ngapa-ngapain?























