Kosong
44.7K posts

Kosong
@siivanf
fafifuwasweswoss = Mulut lu bauu
Korea Utara Se unió Ekim 2013
439 Siguiendo259 Seguidores

Gue jujur aja, sedikit banyak nyalahin kaum nyinyir!
Tiap hari kerjanya ngereog tentang Pemerintah kurang inilah kurang itu lah, semua salah!
Akhirnya membawa dapak buruk untuk IDR kita.
Gegara mereka, semua kena imbasnya.
Dikondisikan lah efek dari postingan sosmed kalian.
VivaCoid@VIVAcoid
Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar AS, Mendag: Kesempatan Ekspor Kita Makin Bagus viva.co.id/bisnis/1903235…
Indonesia

@Fahrihamzah Lucu nih orang,gausah komen aneh2 dah urusin aja kerjaan sbg menteri (meski cm wakil)
Indonesia

BERHENTILAH MENYALAHKAN DIRI SENDIRI, APALAGI MEMINTA IZIN UNTUK MAJU!
Fahri Hamzah
Politisi, Alumni Universitas Indonesia, Mantan Wakil Ketua DPR RI.
Ada satu gejala yang selalu muncul setiap kali Indonesia mencoba melangkah lebih jauh. Bukan kritik terhadap detail kebijakan. Bukan perdebatan tentang angka. Bukan pula perbedaan pandangan yang wajar dalam demokrasi. Yang muncul adalah sesuatu yang lebih dalam: keraguan terhadap kemampuan bangsa ini sendiri. Kita melihatnya berulang-ulang dalam sejarah.
Pada awal kemerdekaan, kita meragukan diri: apakah bangsa ini bisa merdeka? Apakah bahan baku untuk menjadi sebuah republik sudah cukup? Belanda dan Eropa terus meragukan kita didukung segelintir orang yang percaya bahwa kita belum siap—sehingga klaim Belanda dan sekutu untuk kembali disertai tindakan nyata: agresi militer berkali-kali.
Di fase pertengahan Orde Baru, ketika Indonesia ingin membangun industri strategis, muncul suara yang mengatakan kita belum mampu. Ketika Indonesia ingin menguasai teknologi, muncul suara yang mengatakan lebih baik membeli dari luar.
Lalu selanjutnya sampai sekarang, ketika Indonesia ingin mengolah sumber daya alam sendiri, muncul suara yang mengatakan pasar akan menghukum. Ketika Indonesia ingin memainkan peran lebih besar di panggung internasional, muncul suara yang mengatakan kita sebaiknya tidak terlalu percaya diri. Pola ini begitu konsisten sehingga sulit dianggap sebagai kebetulan.
Perdebatan terbaru mengenai diplomasi Presiden Prabowo sebenarnya memperlihatkan gejala yang sama.
Di satu sisi, ada pandangan yang melihat aktivitas diplomasi Presiden sebagai bagian dari upaya menempatkan Indonesia dalam konfigurasi dunia yang sedang berubah. Dunia hari ini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh satu atau dua kekuatan besar. Negara-negara menengah (middle powers) mulai mencari ruangnya sendiri. Dalam konteks itu, Indonesia bukan sekadar peserta dalam percaturan global, melainkan calon pemain yang semakin diperhitungkan.
Di sisi lain, muncul kritik yang mempertanyakan efektivitas, biaya, frekuensi perjalanan, dan hasil konkret dari diplomasi tersebut. Kritik seperti ini penting.
Demokrasi membutuhkan pengawasan. Setiap kebijakan publik harus dapat dipertanggungjawabkan.
Tetapi yang menarik justru bukan perbedaan pendapatnya. Yang menarik adalah bagaimana sebagian dari kita begitu cepat berasumsi bahwa langkah keluar Indonesia pasti berlebihan, terlalu ambisius, atau berpotensi gagal. Seolah-olah menjadi negara besar adalah sesuatu yang pantas bagi bangsa lain, tetapi tidak sepenuhnya pantas bagi Indonesia.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa hampir semua negara yang kemudian menjadi kekuatan besar terlebih dahulu membangun jaringan pengaruh internasionalnya. Amerika Serikat tidak menjadi kekuatan global hanya karena ukuran ekonominya. Ia membangun aliansi, institusi, pasar, dan pengaruh politik selama puluhan tahun.
China tidak menjadi pemain utama dunia hanya karena jumlah penduduknya. Ia membangun hubungan ekonomi, investasi, teknologi, dan diplomasi secara sistematis selama beberapa dekade. Turki, India, Korea Selatan, bahkan negara kecil seperti Singapura memahami bahwa masa depan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam negeri, tetapi juga oleh kemampuannya memengaruhi lingkungan strategis di luar dirinya.
Indonesia

Menlu kita sarjana teknik komputer, mantan TNI pangkat Letnan Satu yang resign sebelum naik pangkat, nol rekam jejak diplomasi.
Prabowo pilih dia bukan karena kapasitas, tapi karena dia orang kepercayaan sejak jadi sekpri.
Hasilnya?
a. Dubes RI untuk AS kosong lebih dari 2 tahun , baru keisi Agustus 2025 setelah didesak DPR, dan Sugiono sendiri ngaku di rapat resmi: "ini kesalahan kami"
b. Rapat koordinasi dubes tertunda hampir setahun
c. Para dubes pulang ke Indonesia, kesulitan menemui Menlu-nya sendiri
d. Diplomat karier demoralisasi, anggaran dipotong, merasa inisiatif mereka nggak akan pernah direspons dari atas
Sampai akhirnya Dino Patti Djalal , diplomat 40 tahun
, terpaksa bikin video di Instagram karena semua jalur komunikasi ke Sugiono diblokir berbulan-bulan.
Bukan dikritik lawan politik.
Dikritik orang dalam sendiri.
Ini bukan soal kurang pengalaman.
Ini soal Menlu yang jarang masuk kantor, ngurus negara kayak ngurus titipan boss-nya.

Indonesia

Dear laki-laki tolong atuh kl kondangan jangan pake sepatu lari, iya tau sepatunya mahal tapi kalian harus hargai momen org yg mengundang.
Apalagi udh pake sepatu olahraga celana jeans dan kemeja batik. Kecuali emang yg ngundang dresscodenya olahraga.
Beli loafers atau pantofel kan bisa beli yg harganya gak mahal tapi keliatannya sopan.
belajarlah well dress, bukan soal mahal, tapi soal taste dan tahu menempatkan diri. Cara berpakaianmu sesuai dengan acara nunjukkin respect bukan cuma ke acaranya tapi ke diri lo sendiri.
heran balesan musang2 ini. bersih rapi wangi dikit, dikira gay, sampe kapan mau fashion CoD musang terus?
cc:threads


Indonesia

Halo.
Saya sering memakai kereta api untuk perjalanan rutin Semarang-Jakarta, dan sebaliknya. Di kereta, saya sering mendapati contoh seperti ini.
Dan salat seperti ini: tidak sah (jika yang dikerjakan adalah salat fardu).
Pertama, semangat shalatnya patut diapresiasi. Tapi harus diketahui bahwa salat itu ada fikihnya, dan contoh di bawah ini bisa jadi melewatkannya.
Berdiri (qiyam) adalah rukun salat fardu. Kecuali si Mas salat sunnah, maka tidak perlu berdiri (meski bukan di kereta, salat sunnah dengan duduk diperbolehkan).
Maka berdiri, meskipun sedang di kendaraan apapun (termasuk kereta), masih menjadi wajib bagi orang salat. Fikih menjelaskan: jika kalian mampu berdiri, ya wajib berdiri.
Ada pengecualian, tapi sempit:
1. Kalau kendaraannya terlalu bergoyan sehingga berdiri benar-benar membahayakan kalian,
2. Tidak ada ruang sama sekali untuk berdiri, atau
3. Khawatir waktu salatnya habis sementara turun tidak mungkin.
Sebagai pengguna setia KAI, saya cukup tahu betul umumnya sudah ada musala yang bersih di gerbong dekat restoran.
Kalau ada musala, dan fisiknya si Mas mampu berdiri, maka salat di kursi penumpang seperti ini: belum sah menurut kebanyakan ulama (jumhur).
Sekali lagi, niat si Mas sudah benar, dan harus diapresiasi.
Tinggal mengubah caranya saja.
🙏
🍋Mama Lemon 🍋@MamaLemonmoh
Yang model begini jangan di simpen di gerbong belakang please 😭
Indonesia

@freddieshoover @LittleScrett_ Yaelah,baru beberapa hari jadi suami-istri
Indonesia

@LittleScrett_ Syifa sabar bgt pantes diganti jd yg lebih baik. JAUUUH LEBIH BAIK.
Indonesia

Saya tidak seekstrim ini, tapi sepanjang penelusuran saya terhadap sumber sejarah primer yang masanya tidak jauh dengan tokoh yang dianggap bagian dari Wali Songo ini, hanya ada 1 sumber manuskrip yang meyakinkan saya karena telah diuji lab dan dikaji dalam karya ilmiah
TxtdariUGM@Txtdariiugm
Wali Sanga diragukan keasliannya. Sejarah tidak mewariskan infromasi apapun tentang rupa fisiknya. ga adabukti apapun yg menyatakan mereka pernah hidup pada masa yang sama. Jumlah mereka ga diketahui secara pasti ada berapa.
Indonesia















