固定されたツイート
maskit
45.4K posts

maskit
@maskiit
Copywriter. Tifosi @acffiorentina. Opinions/Tweets are my own.
Indonesia 参加日 Mayıs 2010
254 フォロー中1.2K フォロワー

Mau bilang "tidak" tapi kasian sama temen yang sampai gadai aset untuk biayain dapur 🫠
Ardianto Satriawan@ardisatriawan
Tidak 😂
Indonesia

@josepsibuea Ini pancake yg jualnya orang Jerman ya? Karena viral di medsos jadinya antri panjang atau sebelumnya memang udah rame?
Indonesia
maskit がリツイート
maskit がリツイート

Duka cita mendalam atas meninggalnya
Therry Mully dari duo Jingga bersama @feutomo yang populer lewat lagu “Tentang Aku” (1995). Lagu ini pernah direkam ulang @andienaisyah di album Kinanti (2002), dan direkam ulang Fe untuk film Aruna & Lidahnya (2018)

Indonesia
maskit がリツイート
maskit がリツイート

Gw termasuk yang selalu ngerasa ada yang aneh tiap masuk bioskop. Air putih botolan yang di Indomaret cuma 3 ribuan, di bioskop dijual 22 ribu. Mana tumbler juga dilarang masuk.
Gw selama ini mikir itu cuma "template bioskop" karena kebanyakan gitu. Ternyata pas gw bongkar lapkeu XXI, ini bukan sekedar iseng, tapi hasil desain yang strategis.
Sepanjang 2025, XXI (kode saham CNMA) cetak pendapatan sekitar Rp5,86 triliun. Dari situ, tiket nyumbang Rp3,6 triliun, dan makanan-minuman Rp2 triliun.
Coba resapi. Dari lima koma sekian triliun, dua triliunnya dari popcorn, soda, sama air botolan tadi.
Pasti ada yang nanya: kenapa nggak naikin harga tiket aja kalau mau cuan? Kenapa harus lewat snack?
Jawabannya ada di satu hal yang jarang dipikirin penonton. Tiket bioskop itu bukan sepenuhnya punya bioskop. Di model global, studio film ngambil potongan gede dari penjualan tiket, apalagi di minggu-minggu awal rilis. Angkanya bisa 60-70% lari ke studio (ini pola di pasar US, gw belum nemu rincian kontrak XXI yang dipublish).
Jadi dari tiket Rp50 ribu, yang nyangkut di kantong bioskop tipis.
Nah, makanan dan minuman beda cerita. Itu 100% punya bioskop, nggak dibagi ke siapa pun.
Dan marginnya brutal. Di chain gede kayak AMC sama Cinemark, margin F&B tembus 80 persenan. Popcorn yang modal bikinnya recehan bisa dijual dengan markup ratusan persen.
Ini namanya model "razor and blades". Sama kayak Xbox yang dijual rugi biar lo beli gamenya. Atau printer murah tapi tintanya mahal selangit.
Tiket itu umpan. Yang lo bayar pas haus dan laper di dalem, itu mesin duitnya.
Terus kenapa tumbler dilarang? Gw mau cerita sesuatu dulu.
April kemarin, XXI ngebolehin tumbler masuk. Dibungkus jadi kampanye lingkungan, "Save the Planet". Mereka bahkan klaim udah bantu ngurangin lebih dari 20 ribu kemasan plastik. Tanggal 6 Juni kemarin, kampanyenya kelar. Larangan balik lagi. Sehari kemudian, tweet kak @americhanoo_ viral.
Detik ketika lo masuk bioskop itu otomatis jadi captive audience. Nggak ada Indomaret di bioskop, nggak ada warung. Cuma ada satu penjual, dan dia yang nentuin harga. Air 22 ribu jadi masuk akal buat mereka, bukan buat lu.
Yang bikin gw mikir, ini nggak murni soal serakah.
Ada riset ekonomi yang nyimpulin snack mahal justru bikin harga tiket bisa ditahan murah. Yang nyubsidi tiket murah lo ya orang-orang yang jajan popcorn. Penonton dibelah dua: yang cuma nonton, sama yang nonton plus jajan.
Dan di Indonesia, XXI punya posisi industri bioskop yang bikin model ini makin kuat. Pas IPO 2023 mereka punya sekitar 225 bioskop, jauh di atas CGV (71) sama Cinepolis (60). Akhir 2025 udah 267 bioskop dan 1.388 layar.
Kalau satu pemain nguasain mayoritas layar, daya tawar lo sebagai penonton makin kecil. Istilahnya yak, terima aja lah kenyatannya gini hehe.
Jadi pas lo kesel liat air 22 ribu, perasaan diperes lo itu nggak salah. Lo emang lagi bayarin separuh ekosistem bioskop dari satu botol air.
Tapi yang lebih nyangkut di kepala gw: kalau snack mahal itu yang nahan tiket tetap murah, lo rela tiket naik asal boleh bawa tumbler sendiri? Atau biarin aja kayak sekarang?
taca@americhanoo_
XXI ngelarang pengunjung bawa tumbler tapi air putih ukuran standard dijual 22k?? mau naik haji kah?? @cinema21
Indonesia
maskit がリツイート

🗣️ "Kak, bantu cetak invoicenya dan dicap basah ya, dikirimkan ke alamat kami."
Di bisnis ku, client seperti ini sudah kurang dari 1%, udah minoritas. Kebanyakan nerima invoice dalam bentuk PDF saja. Ga butuh dikirimin tagihan fisik di kertas.
Kalian gimana? Masih mayoritas harus cetak, ttd dan cap basah kah?
Indonesia
maskit がリツイート
maskit がリツイート

maskit がリツイート
maskit がリツイート
maskit がリツイート
maskit がリツイート

@nocturnalcutie kakkk ceritanya reminds me so much of this substack post!!! mungkin hari ini ceritanya juga find its way towards us just to remind us once again that we’ll be okay and everything will just be fine

English
maskit がリツイート
maskit がリツイート
maskit がリツイート



















