
koperasi merah putih jalur konsep "hidden gem"
Febri Krisnanto Wiyono
21.5K posts

@Feb__K
Being a male is a matter of birth. Being a man is a matter of age. Being a gentleman is a matter of choice

koperasi merah putih jalur konsep "hidden gem"



Pebisnis SPPG kalo lagi untung diem-diem aja, giliran ngerasain rugi, kenceng banget teriaknya. Harusnya paham risiko bisnis tuh gimana. Apalagi berbisnis dengan pemerintah. Aneh. 😂

Yang mengerikan adalah kalau mitra mbg ini dapat dananya hasil dari utang bank, terus dapurnya malah nggak jalan, mandeg. Alamat pusing tujuh keliling.


Guys, hari ini ada berita yang menurut gue paling penting dan paling tidak banyak dibahas dengan jujur. Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga lagi dari 5,25% menjadi 5,5%. Ini kenaikan kedua dalam waktu singkat. padahaal belum ada sebulan lalu baru menaikkan hari ini di naikkan lagi Dan yang bikin gue tertegun: pemerintah selama ini bilang ekonomi kita baik-baik saja. Fundamental kuat. PDB tumbuh 5,61%. Inflasi terjaga. Tapi kalau memang baik-baik saja kenapa BI harus terus naikkan suku bunga? Pertama apa artinya suku bunga naik dalam bahasa sehari-hari: Suku bunga adalah harga dari uang. Ketika BI naikkan suku bunga semua biaya pinjaman ikut naik. KPR yang cicilannya sudah beratmakin berat. Pinjaman usaha UMKM bunganya nakin. Kredit kendaraan lebih mahal. Dan bank akan lebih ketat memberi pinjaman karena biaya dananya naik. Singkatnya: uang makin mahal. Dan rakyat yang punya utang langsung merasakan dampaknya. Dan ini alasan resmi BI yang paling penting untuk dipahami: BI menyebut dua alasan utama. Pertama — rupiah melemah lebih dalam dari yang diperkirakan sejak rapat bulan lalu. Bukan hanya karena gejolak global. Tapi juga karena aliran keluar investasi portofolio asing dari Indonesia yang terus terjadi. Kedua — untuk menarik investor asing supaya mau kembali menaruh uang di Indonesia BI harus menaikkan imbal hasil. Artinya: Indonesia harus menawarkan bunga yang lebih tinggi supaya orang mau beli obligasi dan simpan uang di sini. "Kenaikan ini sebagai langkah pre-emptive untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah." Dan ini yang paling kontradiktif dan paling perlu dipertanyakan: Kalau fundamental ekonomi Indonesia benar-benar kuat investor asing tidak perlu didrayu dengan bunga tinggi untuk tetap di sini. Mereka akan bertahan sendiri karena melihat prospek yang bagus. Tapi kenyataannya asing terus keluar. Dan satu-satunya cara untuk menahan mereka adalah dengan naikkan bunga yang artinya bayar lebih mahal untuk mempertahankan kepercayaan mereka. Ini bukan tanda ekonomi yang sehat. Ini tanda ekonomi yang sedang berjuang keras untuk menjaga kepercayaan. Dan ini dampak nyata yang paling dirasakan rakyat biasa: Setiap kenaikan 25 basis poin suku bunga BI efeknya berantai ke seluruh sistem keuangan. Bank akan naikkan bunga kredit. Cicilan KPR yang variabel langsung naik. UMKM yang butuh modal kerja harus bayar bunga lebih tinggi. Pengembang properti tahan proyek karena biaya makin mahal. Dan daya beli yang sudah tertekan makin tertekan lagi karena konsumsi berbasis kredit jadi lebih mahal. Di saat yang sama pinjol melonjak dari Rp30 triliun ke Rp103 triliun artinya jutaan orang sudah bergantung pada pinjaman untuk kebutuhan sehari-hari. Dan sekarang semua cicilan itu jadi lebih mahal. Dan ini yang paling ironis: Suku bunga naik seharusnya memperkuat rupiah. Tapi rupiah sudah di Rp18.100 dan belum ada tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Artinya: obatnya sudah dua kali diminum tapi pasiennya belum membaik. Dan dokter sudah kehabisan pilihan selain terus naikkan dosis yang efek sampingnya semakin berat bagi ekonomi riil. Prof Ferry Latuhihin sudah bilang ini jauh sebelumnya: BI naikkan suku bunga 50 basis poin sebelumnya pun diketawain pasar. Karena masalahnya bukan di suku bunga. Masalahnya di kepercayaanyang tidak bisa diperbaiki hanya dengan angka bunga yang lebih tinggi. Dua kali naik suku bunga dalam waktu singkat bukan tanda pemerintah sedang mengeksekusi rencana yang matang. Ini tanda pemadam kebakaran yang terus menyiram dengan air sementara sumber apinya belum diidentifikasi dengan benar. Kalau kondisi ekonomi benar-benar baik-baik saja seperti yang terus diklaim maka kenaikan suku bunga ini tidak perlu terjadi. Faktanya terjadi. Dan itu sendiri sudah menjawab pertanyaan tentang seberapa baik kondisi yang sesungguhnya.
