


Ouza
9.2K posts

@azuozao
Bone jaw | had ouken | sbren sbeve | sul omte a | Se’s sy’re bro? | menggaunglantangkan




HR: We lost another senior employee today. CEO: What happened? HR: He resigned after receiving an external offer. CEO: That makes no sense. We could have matched it. HR: That is the issue. We were willing to pay a stranger 70% more for the same role, but would not give our existing employee even a 20% raise. CEO: External hiring is different. That is market pricing. HR: He noticed that too. CEO: We appreciated his loyalty. He had been here for years. HR: Yes. And during those years, he consistently exceeded expectations while being told to “wait for the next review cycle.” CEO: But budgets are complicated for internal employees. HR: Apparently not for external candidates. The new hire budget was approved in three days. His raise request sat for eight months. CEO: We had to stay competitive in the hiring market. HR: He was part of that same market. The only difference is that another company valued him before we did. CEO: So he left over salary? HR: Not just salary. He left because he realized loyalty was being rewarded less than leaving. CEO: That is unfortunate. HR: Yes. Companies will sometimes trust a candidate after a 45-minute interview more than an employee who already proved themselves for five years. CEO: So what are you saying? HR: If companies only recognize employee value after a resignation letter appears, then eventually employees will stop waiting to be appreciated internally. Sometimes the fastest way for an employee to get market value is to stop being your employee.

GAIS PLS😭😭 kurang kurangin belanja kebutuhan tersier, yang gapenting penting banget gausah di beli, ekonomi negara kita udah rusak banget, ini jadi alert buat kita, karena di situasi kaya gini ‘The rich getting richer, and the poor getting judged for surviving’, walaupun kita punya tuhan yang maha kaya tapi ayo spend wisely mulai dari sekarang hiks😭😭





Baca di sini: megapolitan.kompas.com/read/2026/05/1… Rumah penulis buku, Ahmad Bahar, di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, didatangi oleh belasan orang yang mengaku anggota ormas GRIB Jaya pada Minggu (17/5/2026) lalu. ~AC #Megapolitan



Mahasiswa di tarik mundur, rakyat dipukul, pers dibungkam. Kita gak minta banyak, hanya cabut pergub nomor 2 tentang jaminan kesehatan aceh. Setiap warga aceh punya hak untuk menerima kesehatan yang sama tanpa desil-desilan.


cuma mo bilang hari ini di point coffee beli himalayan butterscoth cuma bayar 19ribuuuu



tbh gue ga nyangka akun yg tiap hari share berita palsu bisa ngasih jawaban panjang lebar seperti ini well gue jawab ya 1. Mas, justru yang bikin strawman itu balasan mas sendiri. Saya tidak bilang semua orang yang pilih GoRide Hemat adalah “musuh” atau tidak peduli driver. Saya soroti hipokrisinya segmen orang yang suka posting “kasihan driver Gojek, harus sejahtera”, tapi setiap hari pilih opsi termurah + promo gila-gilaan, lalu gak pernah kasih tips. Itu fakta perilaku yang observable, bukan musuh fiktif. 2. Ya, Gojek (dan Grab) memang ambil komisi besar dulu (sekitar 20%), dan mereka desain promo + tarif hemat supaya volume naik & dominasi pasar. Itu benar. Tapi konsumen bukan korban pasif. Konsumen yang terus pilih yang termurah memberi sinyal pasar bahwa tarif rendah itu oke. Dengan kata lain ya pada dasarnya customer suka dengan praktik eksploitasi ini. 3. Mas bilang solusinya bukan tips atau pilih yang mahal, tapi “ganti status mitra jadi pekerja + jaminan sosial”. Itu klasik kiri-utopis Kalau driver jadi karyawan tetap, Gojek harus bayar UMR, BPJS full, cuti, dll. Biayanya naik drastis, tarif ke penumpang harus naik (atau perusahaan rugi & kurangi armada). Siapa yang bayar? Tetap penumpang. 4. Mau driver sejahtera = harus ada yang bayar lebih. Entah lewat tarif naik, tips, atau pilih opsi premium. Menyalahkan “korporasi saja” sambil tetap pilih opsi hemat tiap hari itu tidak rasional. 5. Kalau mas betul-betul peduli kesejahteraan driver, dukung tarif yang lebih masuk akal + komisi rendah + insentif transparan. Bukan narasi “semua salah platform, penumpang cuma korban”. Itu juga simplifikasi berlebihan. Market bukan charity

Ya Allahu…. Stock Split saham sampai harus dijelaskan pakai bahasa bayi gini ya 😭 Pak Jaksa yang terhormat, Mau jumlah saham bertambah jutaan kali lipat sekalipun, namanya stock split mah nilai sahamnya dan persentase kepemilikannya tetap sama


Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Mei 2026 dijadwalkan pada Selasa-Rabu, 19-20 Mei 2026. Trinh Nguyen, ekonom senior di Natixis meramal Bank Indonesia tidak memiliki banyak pilihan selain menaikkan suku bunga acuan pada pekan depan.

Kasus nadiem efek dominonya besar banget loh. Akhirnya orang yg bener-bener punya kapasitas intelektual takut dan ogah buat terlibat dalam tata kelola pemerintahan Indonesia. Dampaknya pejabat kita ke depannya diisi sama orang-orang yg ga kompeten.

"mau dolar berapa ribu kek, kan kalian di desa desa ga pake dolar, yang pusing yang sering keluar negri" guys, boleh nyerah jadi WNI ga sih kalo pemimpinnya aja kyk gini???😭😭

