🌈

13K posts

🌈 banner
🌈

🌈

@cupiiitt

si tukang makan

Bululawang, Malang Katılım Aralık 2014
524 Takip Edilen291 Takipçiler
🌈 retweetledi
harry fajri
harry fajri@harry_fajri·
Mohon di up gais karna media belum ada berita in tentang kejadian ini. Kebakaran besar terjadi di jalur pipa gas menyusul ledakan pagi ini di Gampong Blang Rubek, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.
Indonesia
9
3.3K
5.5K
48.9K
🌈 retweetledi
Denis Malhotra
Denis Malhotra@denismalhotra·
Tidak ada warga negara yang setiap hari mendoakan presidennya segera mati melebihi warga negara Indonesia.
Indonesia
133
8.9K
27.3K
267.5K
🌈 retweetledi
JUBI NEWS
JUBI NEWS@News_jubi·
Kabar duka dari Papua. Aliko Walia (Laki-laki, 8 tahun) meninggal dunia setelah berjuang 36 hari dengan luka tembak tembus di dada kanan. Ia menjadi korban saat operasi militer di Puncak pada 14 April lalu. Ibunya, Wundilina Tabuni (Perempuan, 40 tahun), tewas di tempat pada hari kejadian. 🥀 Selengkapnya:  jubi.id/meepago/2026/a… #PengungsiInternalPapua #IDPsPapua #Papua #Indonesia #WestPapua #PapuanLivesMatter jubi.id | FB: JubiNews | X: @News_jubi | IG: newsjubi | Tiktok: @jubinews | Youtube: @jubinews
JUBI NEWS tweet media
Indonesia
363
22.2K
44.8K
1.2M
🌈 retweetledi
cozy 🕷️
cozy 🕷️@cozyaltruis·
Pantesan kalah 3 kali Pantesan dinilai 11/100 Pantesan diberhentikan BJ Habibie Ternyata beneran se gak layak itu jadi presiden.
Indonesia
334
34.8K
98.8K
1M
🌈 retweetledi
fahri salam
fahri salam@fahrisalam·
“Kamu dari TVRI harusnya enggak boleh bertanya seperti itu,” kata Teddy. “Siapa yang nyuruh kamu?” Bagaimana Seskab Teddy mengatur arus informasi Istana dan mengancam wartawan plus petinggi media. Artikel lanjutan dari serial 'Dead Press Society", baca: projectmultatuli.org/bencana-inform…
Indonesia
483
17.4K
34.6K
2.4M
🌈 retweetledi
muklas
muklas@mukaikhlas·
yang stress jadi wni boleh retweet
Indonesia
209
63.6K
59.4K
1M
🌈 retweetledi
PINO
PINO@sebijipenyu·
Sebuah perbedaan Omongan Orang Pinter Vs Omongan Orang Tantrum
Indonesia
509
23.1K
54.5K
1.4M
🌈 retweetledi
Cinta Laura Kiehl
Cinta Laura Kiehl@xcintakiehlx·
18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu. Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu". Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan." Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata? Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri. Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya. Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa? Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
Indonesia
265
12.9K
28.8K
439.6K
🌈
🌈@cupiiitt·
Cerita ini jadi petuah yg amat penting untuk new mom seperti diriku 🥹
Kr@karirfess

Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama. Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang. Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya. Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup. Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun. Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya. Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.

Indonesia
0
0
0
10
🌈 retweetledi
imnotsizuu
imnotsizuu@thvrsdayarchive·
@basebuku date canceled, rupiah anjlok negaranya mau bubar tapi dia masih ributin bacaan orang
Indonesia
2
488
2.9K
43.6K
🌈
🌈@cupiiitt·
Penjabaran selogis ini, ngga akan masuk ke otak si Roy² yg malah masalahin letak infus 😭
Lambe Saham@LambeSahamjja

Guys, Ahok baru ngomong sesuatu soal Chromebook dan MBG yang menurut gue paling jujur dan paling berani dari siapapun yang gue dengar dalam beberapa bulan terakhir. Dan dia ngomongnya bukan sebagai pembela Nadiem. Dia ngomong sebagai orang yang paham betul bagaimana sistem pendidikan dan teknologi seharusnya bekerja. Soal Chromebook dan kenapa Ahok marah: Ahok bilang dengan sangat tegas: pengadaan Chromebook itu sebenarnya adalah kebijakan yang sangat masuk akal secara logika. Chromebook itu bukan laptop biasa. Operating system-nya berbasis cloud sekali beli langsung include semuanya, tidak perlu diperbarui terus-menerus. Harganya jauh lebih terjangkau dari laptop konvensional. Dan yang paling penting sistemnya dirancang agar anak tidak bisa nonton video porno, tidak bisa judi online, dan seluruh aktivitas belajar bisa dipantau. Ahok kasih contoh nyata. Ada guru di Jawa Barat yang punya empat sertifikat internasional bisa mengajar di level dunia. Ujiannya hanya 10 dolar. Bayangkan kalau semua guru Indonesia bisa akses sertifikasi seperti itu lewat Chromebook yang terhubung Starlink di daerah terpencil anak di kampung tiba-tiba bisa belajar setara dengan anak di Kanada atau Australia. Itu bukan mimpi. Itu sudah bisa dilakukan sekarang dengan teknologi yang ada. "Bayangin kalau semua anak kita di kampung ada Starlink juga kan. Anak di kampung kita tiba-tiba belajar setara dengan orang di Kanada atau di Amerika atau di Australia." Lalu kenapa Ahok merasa ini sengaja dihambat: Ahok bilang dengan sangat hati-hati karena takut diproses hukum lagi tapi dia tetap bilang: "Saya pikir ini sengaja." Logikanya sederhana dan sangat keras. Kalau rakyat pintar, rakyat kritis, rakyat bisa akses informasi dari mana saja mereka lebih sulit dikuasai. Lebih sulit dibohongi. Lebih sulit dimanipulasi menjelang pemilu. Sistem yang membiarkan rakyat bodoh dan miskin adalah sistem yang menguntungkan mereka yang berkuasa. Karena rakyat yang bodoh dan miskin lebih mudah disuap dengan sembako, lebih mudah digiring dengan hoaks, lebih mudah dikontrol dengan ketergantungan pada program-program yang terkesan murah hati tapi tidak memberdayakan. MBG- makan bergizi gratis menurut Ahok adalah contoh dari cara berpikir yang sama. Daripada kasih rakyat laptop yang bisa membuka pintu dunia, lebih mudah kasih makanan yang habis dimakan dan orang tetap tergantung besok makannya dari mana. "Kalau saya tanya mau bikin sekolah bagus, kasih makan bergizi atau rakyat punya laptop yang bisa komunikasi ke mana-mana?" Yang paling menohok soal survei dan legitimasi: Ahok tidak berhenti di situ. Dia lanjutkan dengan sesuatu yang sangat pedas. Pemerintah melakukan survei. Rakyat bilang mereka suka makanan gratis. Lalu itu dijadikan legitimasi untuk program MBG. Seolah-olah karena rakyat minta ya sudah diberikan. Tapi Ahok membaliknya: kalau kamu memberikan sesuatu kepada orang yang tidak pernah tahu bahwa ada pilihan yang jauh lebih baik tentu mereka akan pilih yang ada di depan mata. Itu bukan preferensi yang genuine. Itu keterbatasan informasi yang dimanfaatkan sebagai justifikasi. "Mereka juga pintar. Dia survei, Pak. Rakyat suka makanan itu jadi legitimasi." Dan soal Nadiem yang sekarang dituntut 27 tahun: Ahok tidak membela Nadiem secara personal. Tapi dia bilang satu hal yang sangat logis dan sangat sulit dibantah: Menteri itu tidak pernah menyentuh anggaran secara langsung. Menteri membuat kebijakan. Yang mengeksekusi adalah birokrasi di bawahnya. Kalau ada yang salah dalam eksekusi pertanyaannya adalah: apakah menteri yang memerintahkan secara eksplisit? Apakah ada aliran dana yang bisa dibuktikan masuk ke kantong menteri? PPATK sudah menjawab: tidak ada. Nol aliran dana ke Nadiem dari siapapun. "Saya pikir ya ini soal profesionalisme. Menteri kan enggak pernah nyentuh anggaran perantaran kan, kecuali dia nyuruh ya atau terima ya." Ahok tidak sedang bicara soal Chromebook sebagai produk. Dia sedang bicara soal pilihan fundamental sebuah bangsa: apakah kita mau membangun rakyat yang pintar dan mandiri, atau kita mau mempertahankan sistem di mana rakyat tetap bergantung pada belas kasihan penguasa? MBG memberikan makan hari ini. Chromebook bisa mengubah nasib seumur hidup. Dan ketika kebijakan yang lebih transformatif justru dipersoalkan secara hukum sementara program yang lebih konsumtif dirayakan sebagai prestasi itu bukan kebetulan. Itu adalah pilihan yang sangat disengaja oleh mereka yang paling diuntungkan dari rakyat yang tetap tidak berdaya.

Indonesia
0
1
3
366
🌈 retweetledi
F.
F.@sunflowred·
Kita disini kerja yg bener sampe gila meanwhile di luar sana ada yg dpt 6jt per hari cuma buat ngeracunin anak sekolah if that doesn’t radicalize you idk what will
Indonesia
39
17.4K
38.8K
388.1K
🌈 retweetledi
Ken Hans
Ken Hans@kenhans03·
Hanya dalam 17 bulan (Mei 1998 – Oktober 1999), B.J. Habibie berhasil melakukan keajaiban ekonomi: menekan Rupiah dari Rp16.800 ke level Rp7.000 per Dolar AS. Meski latar belakangnya teknik dirgantara, langkah beliau sangat jenius. Alfatihah untuk Pak Habibie 🙏
Indonesia
96
2K
5.9K
90.9K
🌈 retweetledi
kiv z
kiv z@triwul82·
Novel Baswedan: "Disiram air keras itu sakit sekali!" Sebagai sesama korban, Bang Novel geram liat teror ke Andrie Yunus cuma disebut 'kenakalan'. ​Bagaimana mungkin tindakan keji yang bikin luka berat dianggap remeh? Hakim bukannya berpihak pada korban, malah condong ke pelaku. Ini bukan peradilan, ini penghinaan terhadap kemanusiaan. Bang Novel juga soroti sikap Hakim yang minim kepedulian & malah mengintimidasi korban yang sedang berjuang pulih. Saat Pembela HAM diserang, negara harusnya melindungi, bukan malah jadi bagian dari sirkus yang melindungi penjahat. Teror terencana dengan dampak permanen kok dianggap main-main? Jangan ganggu proses pemulihan korban dengan ancaman jemput paksa & sidang sandiwara. Rakyat mencatat setiap polah hakim yang mencederai nurani. Sumber vidio : Tribunnews
Indonesia
19
724
1.7K
22K
🌈 retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Nadiem Makarim baru saja berbicara di depan media setelah mendengar tuntutan jaksa dan apa yang dia katakan menurut gue adalah salah satu momen paling menggetarkan yang pernah terjadi di depan kamera dalam sejarah hukum Indonesia belakangan ini. Bukan karena dramanya. Tapi karena pertanyaannya yang tidak bisa dijawab dengan mudah. Angka yang tidak masuk akal: Jaksa menuntut Nadiem 18 tahun penjara ditambah denda. Kalau uang pengganti tidak dibayar ditambah 9 tahun lagi. Total efektif: 27 tahun. Uang penggantinya? Rp809 miliar ditambah Rp4,8 triliun. Total sekitar Rp5,6 triliun. Sementara total kekayaan Nadiem di akhir masa jabatan menteri menurut pengakuannya tidak sampai Rp500 miliar. Dan Nadiem langsung mengajukan pertanyaan yang menurut gue tidak ada jawaban rasionalnya: "Tuntutan saya lebih besar dari pembunuh. Tuntutan saya lebih besar dari teroris. lebih parah dari kasus ferdi sambo lebih parah dari kasus pembunuhan yang menghilangkan nyawa seseorang Kenapa?" Dari mana angka Rp4,8 triliun itu: Ini yang paling mengejutkan. Angka Rp4,8 triliun diambil dari SPT pajak Nadiem tahun 2022 di mana dia melaporkan nilai IPO Gojek sebagai kekayaan. Bukan uang yang dia terima tunai. Bukan transfer yang masuk ke rekeningnya. Tapi nilai saham pada saat IPO yang sifatnya sementara dan tidak pernah dicairkan dalam jumlah itu. "Itu bukan uang yang saya terima. Itu cuma nilai IPO. Dari situ dia ambil, oke sekarang harus dibayar balik. Apa logikanya? Dan untuk Rp809 miliar menurut Nadiem itu adalah transfer antara dua perusahaan Gojek yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, tidak ada hubungannya dengan Google, tidak ada hubungannya dengan pengadaan Chromebook. Yang paling telak tidak ada aliran dana ke Nadiem: Di sinilah argumen Nadiem paling kuat dan paling sulit dibantah. PPATK tidak menemukan transfer ke Nadiem. Tidak ada aliran dana dari vendor ke Nadiem. Tidak ada aliran dari Google ke Nadiem. Tidak ada dari PT Akap. Tidak ada dari PTG. Nol. Dan Nadiem mengajukan satu analogi yang sederhana tapi sangat mengena: " Di dalam sidang mobil yang dihadirkan itu biru, harganya 100. Di dalam tuntutan tiba-tiba mobilnya merah dan harganya 50. Sesuatu yang sudah dibuktikan dengan dokumentasi, dengan saksi di dalam tuntutan balik lagi ke dakwaan awal. Buat apa sidang?" Yang paling menohok dari seluruh pernyataan Nadiem: Dia tidak memilih untuk pergi. Dia tidak menyesal masuk ke pemerintahan. Bahkan setelah semua ini. "Untuk mencari uang itu bisa seumur hidup. Untuk membantu generasi penerus bangsa kita menjadi lebih baik itu hanya kesempatan sekali dalam hidup." Dan kemudian dia bilang sesuatu yang membuat ruangan itu hening: "Saya sakit hati. Saya patah hati. Tapi orang cuma patah hati kalau dia cinta. Saya patah hati karena saya cinta negara ini." Yang perlu dikawal masyarakat: Malam setelah pernyataan ini Nadiem menjalani operasi. Dia bilang kondisinya akan semakin parah kalau tidak segera ditangani. Ini bukan drama. Ini realitas dari seseorang yang sedang menghadapi ancaman 27 tahun penjara sambil menjalani prosedur medis. Dan pertanyaan yang harus terus diajukan adalah: kalau memang tidak ada aliran dana yang bisa dibuktikan kalau PPATK pun tidak menemukan transfer ke terdakwa atas dasar apa tuntutan sebesar ini bisa dikeluarkan? Sistem hukum yang baik tidak seharusnya membuat seorang mantan menteri yang membangun Gojek dan menyuarakan pendidikan digital harus bertanya kenapa tuntutannya lebih berat dari teroris. Kalau faktanya sudah terang benderang di persidangan tapi tuntutannya mengabaikan fakta itu maka yang sedang kita saksikan bukan proses hukum. Itu adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Dan Nadiem benar soal satu hal: kalau orang tanpa nama besar dan tanpa suara mengalami hal yang sama tidak akan ada yang tahu. Tidak ada yang meliput. Tidak ada yang peduli. Berapa banyak Nadiem-Nadiem tanpa nama yang sudah terjebak dalam sistem yang sama? just for nadiem yang telah membuka lapangan pekerjaan yang mungkin lebih berjasa daripada pemerintah itu sendrii,aparat dan penegak hukum itu sendiri
Lambe Saham tweet media
Indonesia
105
562
1.3K
42.9K
🌈 retweetledi
Endless Story
Endless Story@xendless_s·
Harusnya satu satu dong 😰
Indonesia
409
2.6K
17.3K
535.4K