Ilman Assyifa Szami

254 posts

Ilman Assyifa Szami banner
Ilman Assyifa Szami

Ilman Assyifa Szami

@ilmanszami

personal views only☺️

Katılım Mart 2023
605 Takip Edilen437 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
Ilman Assyifa Szami
Ilman Assyifa Szami@ilmanszami·
Di tengah libur perkuliahan, saya memutuskan untuk merangkum beberapa tugas kuliah yang saya lakukan serta beberapa publikasi yang telah dirilis dalam Bahasa Inggris menjadi artikel ringan dalam Bahasa Indonesia agar lebih inklusif. Semoga bermanfaat! 🧵
Indonesia
1
4
43
5.3K
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Abdi Zihaul
Abdi Zihaul@zhlbd·
Pidato Presiden @prabowo 20/5 kemarin sangat kental nuansa interventionism. Hasil analisis teks menggunakan GPT 5.5:
Abdi Zihaul tweet media
Indonesia
2
7
30
2.7K
Ilman Assyifa Szami
Ilman Assyifa Szami@ilmanszami·
semakin khawatir karena nulis dengan bahasa indonesia rasanya makin sulit: memilih kosakata yang tepat, tata bahasa yang sesuai, dan juga harus tetap memastikan bahwa bahasanya gak kaku dan mudah dibaca :s still have a lot of learning to do, i guess.
Indonesia
0
0
0
59
Ilman Assyifa Szami
Ilman Assyifa Szami@ilmanszami·
Akhirnya ada waktu luang lagi untuk lanjutin tradisi lama: mengubah tugas-tugas kampus jadi tulisan blog dalam bahasa indonesia agar lebih inklusif.
Ilman Assyifa Szami@ilmanszami

Ketika suara dapat dibeli, demokrasi kehilangan esensinya. Lalu, apa sebenarnya yang membuat praktik ini begitu merusak bagi demokrasi? Dan mengapa sekadar melarangnya secara hukum tidak cukup? 8.Serangan Fajar dan Kesetaraan yang Belum Selesai @ilmanszami/serangan-fajar-dan-kesetaraan-yang-belum-selesai-91beead1c95e" target="_blank" rel="nofollow noopener">medium.com/@ilmanszami/se…

Indonesia
1
0
0
122
Ilman Assyifa Szami
Ilman Assyifa Szami@ilmanszami·
Ketika suara dapat dibeli, demokrasi kehilangan esensinya. Lalu, apa sebenarnya yang membuat praktik ini begitu merusak bagi demokrasi? Dan mengapa sekadar melarangnya secara hukum tidak cukup? 8.Serangan Fajar dan Kesetaraan yang Belum Selesai @ilmanszami/serangan-fajar-dan-kesetaraan-yang-belum-selesai-91beead1c95e" target="_blank" rel="nofollow noopener">medium.com/@ilmanszami/se…
Indonesia
0
0
0
196
Ilman Assyifa Szami
Ilman Assyifa Szami@ilmanszami·
Hunian layak menjadi tantangan besar Jakarta. Terinspirasi dari studi yang kami lakukan di 2019, saya menulis sedikit intisari dari riset tsb di artikel kali ini. 7. Menyediakan Hunian Layak Bagi Warga Jakarta: Sebuah Pembelajaran @ilmanszami/menyediakan-hunian-layak-bagi-warga-jakarta-e55b22cf5914" target="_blank" rel="nofollow noopener">medium.com/@ilmanszami/me…
Indonesia
1
0
1
147
Ilman Assyifa Szami
Ilman Assyifa Szami@ilmanszami·
Di tengah libur perkuliahan, saya memutuskan untuk merangkum beberapa tugas kuliah yang saya lakukan serta beberapa publikasi yang telah dirilis dalam Bahasa Inggris menjadi artikel ringan dalam Bahasa Indonesia agar lebih inklusif. Semoga bermanfaat! 🧵
Indonesia
1
4
43
5.3K
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
420
20.8K
51.6K
1.4M
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Arif Novianto
Arif Novianto@arifnovianto_id·
BERBEDA dengan hasil riset yg berkesimpulan bahwa warga berpendapatan menengah-bawah cenderung pro MBG, hasil riset kami menemukan sebaliknya. 80,2% warga dng pendapatan kurang dari 2 juta/bulan justru tidak setuju program MBG dilanjutkan. Mengapa demikian?
Arif Novianto tweet mediaArif Novianto tweet mediaArif Novianto tweet mediaArif Novianto tweet media
Indonesia
39
1.9K
3.8K
82.5K
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Lee Crawfurd
Lee Crawfurd@leecrawfurd·
@demetriastudy Structural adjustment programmes happened in countries that were already in trouble. That's why they happened. So its not surprising that they *correlate* with bad outcomes. I don't think there's much evidence that they *caused* bad outcomes here.
English
4
2
64
1.8K
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Matthew E. Kahn
Matthew E. Kahn@mattkahn1966·
I have worked with ChatGPT to replicate the main figure in the famous QJE 2026 paper by Bilal and Kanzig. The Macroeconomic Impact of Climate Change: Global vs. Local Temperature. The 1960 to 2019 result vanishes if we focus on the years 1980 to 2019!! drive.google.com/file/d/1QeQolz…
Matthew E. Kahn tweet media
English
7
31
216
75.7K
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Kevin Kurnia
Kevin Kurnia@arvkevin·
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, ada dokter internship meninggal di tempatnya bertugas karena campak... kalau ini bukan wake up call supaya Menkes serius mendata, menelusur, mengejar imunisasi dan menindak antivax sih sudah tak tahu lagi ya bicara apa. Lansia bisa kena.
Indonesia
125
7.4K
25.6K
1.4M
Ilman Assyifa Szami retweetledi
The Kobeissi Letter
The Kobeissi Letter@KobeissiLetter·
Which Asian countries are the most exposed to rising oil prices? Oil prices rising from $70 to $85 reduces Singapore's real GDP growth by -1.5 percentage points, the largest hit in the region. Taiwan follows closely at -1.2 percentage points. Hong Kong, Korea, and India would see a reduction of -0.5 to -0.7 percentage points each. The Philippines, Malaysia, Thailand, and Indonesia face a hit of -0.3 to -0.5 percentage points. Meanwhile, China is the least exposed at -0.1 percentage points, as its oil imports are better diversified than those of its neighbors. With oil now at ~$100, far above the $85 modeled here, the real GDP impact across Asia is significantly larger. Most major Asian economies are highly exposed to oil price swings.
The Kobeissi Letter tweet media
English
115
491
1.9K
499.9K
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Yanuar Nugroho
Yanuar Nugroho@yanuarnugroho·
sebaiknya @Kemlu_RI saja yang memberi penjelasan daripada staf @KSPgoid ini. komunikasi kebijakan publik itu penting. dan mesti dimulai dari hal mendasar: dilakukan oleh institusi yang memang diberi mandat mengampu isu. bukan karena satu institusi ada di istana lalu menjelaskan semua hal.
SINDOnews@SINDOnews

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia, menguraikan 20 poin rencana perdamaian Gaza yang dibuat oleh Board of Peace (BoP). Rencana tersebut merupakan dasar kesediaan Indonesia bergabung dalam BoP. "Dalam menilai sesuatu, menganalisa dan memberikan judgement, kita harus benar-benar objektif. Hati-hati melihat dari semua sisi dan membaca secara detail apa yang sedang ingin kita analisa," ujar Ulta seperti dikutip pada Sabtu (7/3). Ia menepis anggapan bahwa BoP tidak membela kepentingan Palestina. Dalam poin nomor 9 yang dibuat BoP, Gaza direncanakan akan berada di bawah pemerintahan transisi yang dipimpin Komite Palestina. Kemudian di poin nomor 16, disebutkan bahwa Gaza tidak akan dikuasai oleh Israel. Bahkan Israel ditekan untuk meninggalkan Gaza. "Ini memperlihatkan keberimbangan poin nomor 16. Ditekankan di sini bahwa Israel ditekan untuk tidak mengokupansi atau menganeksasi Gaza. Sudah dijelaskan di sini kalau Israel dan semua kepentingannya harus meninggalkan Gaza," ucap Ulta. Lalu dalam poin 19 dan 20 yang dibuat BoP, Palestina nantinya didorong untuk menentukan nasib sendiri serta membangun negara secara mandiri. "Lucu kalau dibilang enggak ada poin yang menyebutkan atau mengadvokasi kemerdekaan Palestina di BoP. Bahasanya mungkin berbeda, tapi ini adalah pathway. Nomor 19 dan 20, dibilang bahwa ketika program ini sudah berjalan, akan diberikan pathway kepada Palestinian Authority (PA) untuk self determination and statehood. Jadi diberikan jalan untuk menentukan nasib mereka sendiri dan membangun negara mereka sendiri. PA akan menjadi representasi aspirasi masyarakat Gaza," Ulta menerangkan. #SINDONews #SINDONewscom #SINDNewsBeyondHeadlines #SINDONe7wsTV #iNewsMediaGroup #BeritaTerkini #KSP #TenagaAhliUtama #KantorStafPresiden #20Poin #BoardofPeace #Gaza #Israel #Palestina

Indonesia
31
331
702
46.9K
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Donald J. Trump
Donald J. Trump@realDonaldTrump·
In order to get elected, @BarackObama will start a war with Iran.
English
8.3K
67.2K
102.5K
0
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Ahlus Soresu wal Djem So
Ahlus Soresu wal Djem So@ObiWan_Catnobi·
Tiap ada real issue & valid protest ke rezim, (di)muncul(kan) kasus awardee LPDP problematis yg ga signifikan jumlahnya, diframing seolah sistemis. Padahal problem sistemis dari LPDP adalah pemerintah ga bangun industri, ekosistem, & komunitas saintifik buat yg balik
Indonesia
20
443
1.2K
35.9K
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Ilman Assyifa Szami
Ilman Assyifa Szami@ilmanszami·
@leecrawfurd @CGDev @biniegu Hi Lee, nice research! I wonder how the trend line will look like if we remove South Africa from the 2nd picture. Do you see any noticeable changes in the pattern?
English
0
0
0
282
Ilman Assyifa Szami retweetledi
Faris Abdurrachman
Faris Abdurrachman@farisrachman_1·
We’re all just trying to do our best in this very wild, very uncertain world.
English
0
6
13
588
Ilman Assyifa Szami retweetledi
ε — δ
ε — δ@sihir_sains·
needless to say, lo ga butuh gelar PhD in economics untuk bisa kritis soal kebijakan pemerintah logika dan alur berpikir jernih soal system thinking + familiarity with data >>> credentialism
Indonesia
4
71
749
139.9K
Ilman Assyifa Szami
Ilman Assyifa Szami@ilmanszami·
Terus masih ada yang bingung kenapa banyak orang dengan gelar sarjana dan pascasarjana yang pengangguran 🐼
Katadata.co.id@KATADATAcoid

Kursi Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan atau OJK yang baru kabarnya akan segera terisi. Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Mukhamad Misbakhun disebut-sebut sebagai calon kuat Ketua DK OJK. Berdasarkan informasi yang dihimpun Katadata.co.id dari dua sumber di level tinggi, politisi Partai Golkar berpeluang menjadi ketua baru OJK tanpa melalui pemilihan oleh panitia seleksi alias pansel. “Ketua Komisi XI mau jadi Ketua OJK,” kata sumber itu, Selasa (2/2) malam. Katadata.co.id berupaya mengonfirmasi kabar itu kepada Anggota Dewan Komisioner OJK pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dan Misbakhun. Namun, hingga berita ini ditulis, keduanya belum merespons upaya konfirmasi tersebut. Selengkapnya: katadata.co.id/finansial/keua… #OJK #Misbakhun #Katadatacoid #KalauBicaraPakaiData

Indonesia
0
0
1
246