Iqbal
30.5K posts

Iqbal
@iqbalfd
Cita-cita: migunani marang liyan, selebihnya suka-suka Tuhan

Hampir tiga dekade berlalu, alih-alih merawat demokrasi, kita justru menyaksikan negara ini lari mundur ke belakang. Agenda pemberantasan KKN kini dilumpuhkan perlahan. Institusi antikorupsi dilucuti kewenangannya, sementara oligarki dan kapitalisme kroni semakin mencengkeram hajat hidup orang banyak. Lebih mengerikan lagi, kita sedang dihadapkan dengan mesin white-washing sejarah. Memori kolektif tentang kejahatan kemanusiaan dan tragedi 1998 secara sistematis disangkal dan ditulis ulang demi mengamankan wajah kekuasaan. Normalisasi militerisme pun kembali merayap, mengokupasi ruang-ruang sipil dengan dalih stabilitas. Reformasi mungkin telah mati, tetapi perjuangan merawat ingatan tidak boleh berhenti. Mari kita rumuskan kembali imajinasi kolektif yang baru untuk melawan autokrasi. Panjang umur perlawanan! @KontraS @celios_id #reformasi #reformasidikorupsi




Massa Aksi Kamisan: Prabowo-Gibran Sama Saja dengan Soeharto

ناشطة ألمانية مشاركة في أسطول الصمود: قاموا بضربي كل يوم ولم يقدموا لي الطعام أو الشراب


Sehari setelah turunnya Soeharto tentara mulai bergerak memukul mundur mahasiswa yang masih bertahan dan membuat barikade di Gedung DPR/MPR. Aparat mengerahkan truk-truk militer dan bus untuk mengangkut pulang para mahasiswa. 📽️ BBC





Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara Siti Hafsa diduga melakukan intimidasi kepada korban dugaan pemerkosaan berinisial P (18). Korban merupakan pekerja rumah tangga (PRT) di rumah pribadi Bupati Konawe Selatan, Irham Kalenggo. P jadi korban dugaan perkosaan yang dilakukan Candra (32) keponakan istri Irham Kalenggo, Nurlita Jaya. Tindakan bejat pelaku dilakukan di rumah pribadi bupati Irham Kalenggo di Jl Brigjen M Yoenoes, Kelurahan Lepo-lepo, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, pada Selasa (12/5/2026) malam. Usai insiden, korban melaporkan kejadian itu ke Polresta Kendari. Siti Hafsa ternyata menyusul korban. Ia menemui P dan menawarkan agar berdamai dengan menikahi keponakan Kadis Kesehatan Konsel itu. "Dia datangi korban di polres, dia bilang, dek kenapa kamu tidak menikah saja dengan ini pelaku," ungkap kuasa hukum korban, Fadri Laulewulu kepada kendarihariini, saat dikonfirmasi, pada Senin (18/5/2026). Fadri bilang, korban menolak keras tawaran itu. Sebab, disamping karena akan menjadi masalah baru, pelaku juga telah memiliki istri dan satu anak. "Jelas korban tidak mau," tegas Fadri. Selain tawaran menikah, kepada korban, Siti Hafsa juga mengiming-imingi uang senilai Rp 25 juta untuk modal kuliah dan seekor sapi jika mau berdamai dengan pelaku. "Ambil mi uang peohala Rp 25 juta sebagai biaya kuliah mu. Dan ko ingat, kalau kasus ini berlanjut, namanya Bupati Konsel akan rusak, akan tercoreng," kata Fadri meniru pernyataan Kadis PPPA kepada korban. Menurut Fadri, tindakan Kadis PPPA Konsel di luar kewenangannya. Pasalnya, lokasi kejadian berada di Kota Kendari. Ditambah lagi, kasus ini tak berkaitan dengan urusan kedinasan. "DP3 ini seharusnya melindungi dan berpihak kepada korban. Bukan malah terkesan membela pelaku dan menyudutkan korban dengan pilihan damai. Kadis ini sangat tidak kompeten dengan jabatannya," kesal Fadri. Kadis PPPA Konsel, Siti Hafsa tak merespons pesan Whatsapp jurnalis kendarihariini saat dihubungi sejak Minggu (17/5/2026).

Yang terhormat, Pak Dadan dan Jajaran Badan Gizi Nasional RI. Semoga masukan ini sampai dan dapat dipertimbangkan Pak Dadan dan jajaran.


28 years ago today, Soeharto stepped down from office after more than three decades in power.




makin jelas, negara akan menjadikan rakyat lahan bisnis. Mereka 'memaksa' untuk berbelanja ke Koperasi Merah Putih, dengan mengusik minimarket yang sudah puluhan tahun beroperasi dan menyumbang pajak ratusan Milyar. sebanyak 25 gerai Alfa dan Indomaret wajib tutup karena melanggar aturan jarak. Koperasi merah putih kan koperasi, konsepnya beda dong? Kalau minimarket dianggap pesaing, itu sih topengnya doang koperasi.

YANG PENTING NGOMONG

This has become part of daily life for children trying to get an education in Aceh Tengah, especially in Reje Payung, Jamat District, Indonesia. They have to struggle through recurring floods just to reach school. Even in their laughter, there is a touch of sadness, as they are forced to live and survive in these repeated flood conditions.



