
Salah satu faktornya: laki-laki sering memisahkan "tipe buat pacaran" dan "tipe buat nikah" secara tidak sadar. Yang dianggap "tipe" seringkali cuma preferensi visual jangka pendek yang didorong dopamin. Pas nikah, kriterianya bergeser ke stabilitas, kecocokan nilai, tekanan sosial/keluarga. Masalahnya muncul ketika setelah nikah dia sadar preferensi visualnya nggak hilang, dan mulai nyalahin pasangan atas sesuatu yang dari awal emang bukan prioritasnya.


















