
Averroes
41 posts

Averroes
@leternities
in man’s struggle against the world, bet on the world.


DOSEN AGRO UPN JOGJA terduga kasus KS! gue spill bukti2nya di utas ini!


Now I understand why the idea of GovTech Indo will never work. The old guard wont like the idea of simplifying complex bureaucracy. Btw, if im not mistaken, last year we heard about Indonesians working for the Singaporean GovTech. That might be an option!


tbh gue ga nyangka akun yg tiap hari share berita palsu bisa ngasih jawaban panjang lebar seperti ini well gue jawab ya 1. Mas, justru yang bikin strawman itu balasan mas sendiri. Saya tidak bilang semua orang yang pilih GoRide Hemat adalah “musuh” atau tidak peduli driver. Saya soroti hipokrisinya segmen orang yang suka posting “kasihan driver Gojek, harus sejahtera”, tapi setiap hari pilih opsi termurah + promo gila-gilaan, lalu gak pernah kasih tips. Itu fakta perilaku yang observable, bukan musuh fiktif. 2. Ya, Gojek (dan Grab) memang ambil komisi besar dulu (sekitar 20%), dan mereka desain promo + tarif hemat supaya volume naik & dominasi pasar. Itu benar. Tapi konsumen bukan korban pasif. Konsumen yang terus pilih yang termurah memberi sinyal pasar bahwa tarif rendah itu oke. Dengan kata lain ya pada dasarnya customer suka dengan praktik eksploitasi ini. 3. Mas bilang solusinya bukan tips atau pilih yang mahal, tapi “ganti status mitra jadi pekerja + jaminan sosial”. Itu klasik kiri-utopis Kalau driver jadi karyawan tetap, Gojek harus bayar UMR, BPJS full, cuti, dll. Biayanya naik drastis, tarif ke penumpang harus naik (atau perusahaan rugi & kurangi armada). Siapa yang bayar? Tetap penumpang. 4. Mau driver sejahtera = harus ada yang bayar lebih. Entah lewat tarif naik, tips, atau pilih opsi premium. Menyalahkan “korporasi saja” sambil tetap pilih opsi hemat tiap hari itu tidak rasional. 5. Kalau mas betul-betul peduli kesejahteraan driver, dukung tarif yang lebih masuk akal + komisi rendah + insentif transparan. Bukan narasi “semua salah platform, penumpang cuma korban”. Itu juga simplifikasi berlebihan. Market bukan charity

Soal kasus Nadiem, aku lebih sepakat dengan penjelasan Prof. Mahfud. Proyek Chromebook kabarnya sudah ditolak sejak era Prof. Muhadjir dan dianggap gagal di Malaysia, namun kenapa justru diloloskan di era Nadiem? Bahkan pembicaraan sudah dilakukan sebelum ia menjadi menteri.


A person once told me that when you love someone dearly from the heart of yours, nothing about them is ever too much or too little for you to bear. They’re just the right amount. Then by that, nothing is ever too much to ask from the person who truly loves you
