V retweetledi
V
23K posts

V retweetledi
V retweetledi
V retweetledi
V retweetledi

Guys, gua punya tante sebut aja Tante Anita yang nikah di umur 32 tahun dan sampai sekarang masih jadi bahan obrolan di arisan keluarga.
Bukan karena ada yang salah dengan hidupnya.
Tapi justru karena tidak ada yang salah sama sekali dan itu yang bikin beberapa anggota keluarga tidak bisa berhenti kasih komentar yang tidak diminta.
Waktu teman-teman seangkatannya sudah ramai kondangan dan upload foto hamil di Instagram, Tante Anita lagi solo trip keliling Lombok dan Labuan Bajo sendirian dengan carrier 40 liter dan itinerary yang dia susun sendiri.
Waktu sepupu-sepupunya sibuk hunting furnitur rumah baru, dia lagi negosiasi salary untuk posisi yang dia impikan sejak awal karir.
Waktu orang-orang sekitarnya mulai panik dengan usia dan tekanan sosial yang makin kencang, dia lagi menikmati weekend di warung kopi favoritnya di Bandung dengan buku dan es kopi susu tanpa harus izin atau laporan ke siapapun.
Dan dia melakukan semua itu bukan karena tidak ada yang mau.
Bukan karena tidak mampu lebih awal.
Tapi karena dia sadar betul satu hal yang banyak orang baru menyadarinya setelah sudah terlanjur bahwa waktu untuk benar-benar menjadi diri sendiri itu punya batas dan tidak bisa diputar ulang.
Gua pernah nanya langsung ke Tante Anita suatu malam waktu kami lagi ngobrol santai di teras rumah neneknya.
Tante dulu tidak takut dibilang telat nikah?
atau jadi perawan tua gitu ??
Dia senyum.
Minum tehnya dulu.
Baru jawab.
Telat dari jadwal siapa coba hahahahah??
Dan gua diam cukup lama karena gua sendiri tidak bisa jawab.
Jadwal itu dibuat oleh siapa sebenernya?
Orang tua?
Tetangga?
Algoritma Instagram yang terus-terusan rekomendasikan konten wedding dan baby shower setiap kali gua buka aplikasi tengah malam?
Tante Anita sekarang sudah menikah.
Dengan seseorang yang dia bilang worth untuk mengubah seluruh ritme hidup yang sudah dia bangun pelan-pelan selama bertahun-tahun.
Dan yang paling menarik adalah dia tidak menyesal sedikit pun menunggu selama itu.
Justru sebaliknya.
Dia bilang justru karena dia pernah hidup sepenuhnya sebagai individu yang mandiri dan utuh punya penghasilan sendiri, punya circle sendiri, punya goals dan rutinitas dan cara menikmati hidup yang benar-benar miliknya sendiri dia masuk ke pernikahan tanpa membawa kekosongan yang butuh diisi oleh orang lain.
Dia tidak menikah karena takut kesepian.
Tidak menikah karena tekanan keluarga yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
Tidak menikah karena merasa waktunya hampir habis.
Dia menikah karena dia ketemu seseorang yang hidupnya genuinely lebih baik kalau orang itu ada di dalamnya.
Tapi Tante Anita juga sangat jujur soal satu hal yang jarang dibicarakan orang dengan terbuka.
Setelah menikah semuanya berubah.
Bukan buruk.
Tapi berbeda secara fundamental.
Mau pergi ke mana harus dikomunikasikan.
Mau ambil keputusan besar harus dipertimbangkan berdua.
Mau spontan harus mempertimbangkan kondisi dan perasaan orang lain yang haknya sama besarnya dengan hak kamu.
Kebebasan yang dulu seratus persen miliknya sendiri sekarang punya dimensi baru yang namanya tanggung jawab bersama.
Dan itu bukan keluhan.
Itu kenyataan yang dia terima dengan sadar dan dengan siap karena dia masuk ke sana bukan dalam kondisi kosong yang butuh diisi tapi dalam kondisi penuh yang siap untuk dibagi.
Tante Anita tidak menunda pernikahan karena takut atau karena tidak ada pilihan.
Dia menunda karena dia tahu ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan dengan sepenuh hati waktu kamu masih sendiri.
Dan waktu itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun begitu sudah berlalu.
Jalan jauh sendirian keliling Indonesia.
Kerja keras untuk sesuatu yang murni kamu mau tanpa harus mempertimbangkan impact-nya ke orang lain.
Buat keputusan yang sepenuhnya milik kamu sendiri.
Salah dan belajar dan jatuh atas nama diri sendiri saja tanpa ada yang ikut menanggung konsekuensinya.
Bukan karena hidup berkeluarga tidak indah.
Tapi karena ada fase dalam hidup yang kalau dilewatkan terburu-buru tidak bisa diganti dengan apapun setelahnya.
Dan menikmati fase itu sepenuhnya sebelum melangkah ke fase berikutnya bukan sesuatu yang perlu dimintakan maaf kepada siapapun.
Kang Defor🇮🇩@dewafortunaa
to all perempuan cantik, please take note. main yang jauh dulu, kerja sampe capek dulu, nikmatin, temuin diri lo sendiri sampe akhirnya lo bakal temuin yg setara. stop mikir nikah kalau lagi cape, stop mikir berhenti kalau lagi berat bgt. semua harus dilewati sampai selesai.
Indonesia
V retweetledi
V retweetledi
V retweetledi
V retweetledi
V retweetledi

the soft world tour is heading to asia and australia later this year 🌹
pre-sale begins MARCH 24TH onwards (code required)
general sale begins MARCH 27TH onwards
go to thisislany.com/tour and sign up for your city to receive pre-sale code and all on sale information ❤️🔥

English
V retweetledi
V retweetledi

If you ended a relationship and realized she didn’t go looking for another man, didn’t go out partying, but instead started running, training, taking care of herself, and distancing herself from everyone so she could overcome herself… I’m sorry to tell you that she truly did love you. And I’m sorry to say you let a very good woman slip away one you won’t find again, not even in another lifetime.
English














