



Satwika Karma
2.5K posts










Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menggodok rencana re-registrasi pengguna media sosial yang mewajibkan pencantuman nomor telepon saat membuat atau menggunakan akun media sosial. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, saat ini penggunaan nomor telepon untuk akun media sosial masih bersifat tidak wajib. Karena itu, pemerintah tengah mengkaji penguatan identitas pengguna melalui mekanisme registrasi baru. “Terkait rencana re-registrasi terhadap pengguna media sosial dengan memberikan akuntabilitas, bahwa kalau saat ini itu sifatnya tidak wajib untuk memberikan nomor telepon,” kata Meutya dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5). Menurut dia, skema tersebut saat ini masih dalam tahap pembahasan. Selain mewajibkan nomor telepon, pemerintah juga berencana memperkuat sistem identitas digital terverifikasi melalui Penyelenggara Sertifikasi Elektronik (PSRE). “Ini yang sedang kita godok juga dengan konsultasi publik tentunya Bapak Ibu, bagaimana agar orang ketika masuk ke sosial media wajib menaruh nomor teleponnya. Sehingga identitasnya jelas, sehingga mereka menjadi akuntabel atau ya bertanggung jawab terhadap tulisan-tulisan yang juga ditayangkan,” ujarnya. 📸: Dok. Antara. Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play. 📝: newsupdate | update | news | oneliner | R120 | E164 #bicarafaktalewatberita #kumparan














BRAND LOKAL KABUR DARI SHOPEE, BIAYA ADMIN DAN ONGKIR MULAI NYEKEK, UMKM GMNA? Kalian pasti udah lihat postingan Somethinc yang bilang "WE HAVE TO TELL YOU SOMETHINC..." sambil menyebut kenaikan harga bahan baku dan biaya admin e-commerce. Bukan cuma Somethinc. Di balik postingan elegan itu, ada badai besar yang sedang menghantam ribuan brand lokal Indonesia. Dan ini bukan sekadar isu biasa. Per awal Mei 2026, tiga marketplace terbesar di Indonesia yaitu Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop kompak "menyesuaikan" biaya layanan mereka. Dan yang dimaksud "menyesuaikan" adalah: naik semua, hampir bersamaan. Bukan kenaikan kecil-kecilan. Ini perubahan struktural yang langsung memukul margin keuntungan seller dari berbagai sisi sekaligus. Mulai Januari 2026, Shopee menerapkan biaya administrasi tertinggi sepanjang sejarahnya. Kategori produk FMCG (kebutuhan sehari-hari), fashion tertentu, pakaian muslim, perlengkapan bayi, dan bahan makanan kering kena tarif tertinggi yaitu 10 persen per transaksi. Per kategori, Kategori A (Fashion, FMCG, Lifestyle): 10 persen. Kategori produk aksesori, jam tangan, dan perawatan kulit: sekitar 9 hingga 9,5 persen. Perlengkapan bayi dan susu formula: 6,5 hingga 6,75 persen. Logam mulia dan perhiasan: tarif paling rendah di 4,25 persen. Belum selesai di situ. Ada biaya tambahan lain yang menumpuk: biaya proses pesanan Rp1.250 per transaksi, biaya layanan pre-order 3 persen (kebijakan baru 2026), dan biaya SPayLater XTRA 2,5 persen untuk tenor 3 bulan atau 4 persen untuk tenor 6 bulan. Kalau semua komponen biaya dijumlahkan dalam skenario terburuk yaitu produk Kategori A dengan program Gratis Ongkir XTRA dan pembeli bayar pakai SPayLater, total potongan bisa menembus 18 persen per transaksi. Delapan belas persen! Untuk produk dengan margin tipis, itu sama saja dengan jualan rugi. DRAMA ONGKIR: DARI GRATIS JADI MAHAL Dulu Gratis Ongkir XTRA jadi senjata andalan seller untuk bersaing. Sekarang? Program itu justru jadi beban baru. Sebelumnya Shopee menerapkan sistem tarif tunggal sebesar 6 persen untuk program Gratis Ongkir Ekstra. Mulai 2 Mei 2026, skemanya berubah total. Produk ukuran biasa kena 8 persen dengan batas maksimal Rp40.000 per produk. Produk ukuran khusus kena 9,5 persen dengan batas maksimal Rp60.000 per produk. Yang bikin seller makin kaget adalah batas maksimal potongan yang naik drastis. Kalau sebelumnya Shopee membatasi potongan maksimal hanya Rp10.000, kini batasnya mencapai Rp40.000 hingga Rp60.000 per kuantitas produk. Ini sangat menyakitkan bagi seller yang menjual barang dengan harga tinggi di atas Rp500.000. Artinya? Kalau kamu seller yang biasanya menggratiskan ongkir untuk narik pembeli, kini biaya itu dipindahkan ke kantong kamu sendiri, bukan platform yang nanggung. EFEK DOMINO: HARGA PRODUK DIPASTIKAN NAIK Matematikanya sederhana dan menyakitkan. Sebelum kenaikan, margin 15 persen masih bisa memberikan profit layak setelah potongan. Tapi dengan total potongan yang kini bisa mencapai 15 hingga 18 persen, margin setipis itu praktis habis tergerus biaya platform. Akademisi UMKM Prof. Dr. Darmadi Durianto menyatakan bahwa seller kini hanya punya dua pilihan pahit: naikkan harga atau tutup toko. Simulasi nyatanya begini: produk fashion yang dulu dijual Rp100.000 dengan HPP Rp70.000, setelah kena potongan admin 10 persen plus ongkir XTRA 8 persen plus biaya proses Rp1.250, seller bisa cuma dapat bersih sekitar Rp80 ribu. Untungnya tipis banget, belum termasuk biaya packing, listrik, dan tenaga kerja. Akhirnya harga naik, dan yang bayar adalah pembeli. Yang paling terpukul adalah seller kecil dengan produk margin tipis: makanan ringan, fashion murah di bawah Rp100.000, kebutuhan sehari-hari. Mereka tidak punya pilihan selain menaikkan harga atau tutup toko. Dan ujungnya, kitalah sebagai pembeli yang akan merasakan harga-harga di Shopee yang pelan-pelan naik tanpa disadari. Gratis ongkir masih ada namanya, Tapi sudah tidak benar-benar gratis. .

Update guys, Ada yg coba submit utk orangtuanya yg berumur 63 tahun dan bisa. Yok2 coba bareng2, Semoga lancar. Demi orang tua kita



Kalian ada yg udh pernah perpanjang SIM secara online? gampang bgt loh









Di acc cuti panjang🥹🥹🥹