☮️

45.9K posts

☮️ banner
☮️

☮️

@sigitpramonopa

𝐑 𝐔 𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘❓

Katılım Şubat 2011
621 Takip Edilen991 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
☮️
☮️@sigitpramonopa·
Tapi, kita simpan.
Indonesia
0
0
0
302
☮️
☮️@sigitpramonopa·
waktunya penyegaran? wkwk
☮️ tweet media
Indonesia
0
0
0
6
☮️
☮️@sigitpramonopa·
i get the answer
English
1
0
0
9
☮️ retweetledi
kale
kale@kalistohenituse·
Pak anies menang pilkada tapi dapet cap politik identitas sampe sekarang. Padahal yg maju paling depan nuntut Ahok juga prabowo wkwk sini gw jelasin satu satu: 1. Sejak 2012 ahok udah sering singgung masalah politik identitas (anies masih rektor), puncaknya ya pas penistaan agama 'al maidah' 2. Yang menunggangi demo, prabowo sama jokowi 3. Yang ikut laporin itu habiburrahman dari gerindra. 4. Yang memberatkan di persidangan, kesaksian dari ma'ruf amin yg kemudian diangkat jadi wapres (politik identitas??) 5. Cuma karna Anies lawannya dan menang, celakanya dia yg harus menanggung semua tuduh2an itu sampe sekarang wkwkwk
kale tweet mediakale tweet media
Fajar Nugros@fajarnugros

Andai pas Pilgub gak bawa2 politik identitas mungkin saya udah jadi pendukungnya..

Indonesia
298
6.8K
20.4K
667.3K
☮️ retweetledi
JUBI NEWS
JUBI NEWS@News_jubi·
Kabar duka dari Papua. Aliko Walia (Laki-laki, 8 tahun) meninggal dunia setelah berjuang 36 hari dengan luka tembak tembus di dada kanan. Ia menjadi korban saat operasi militer di Puncak pada 14 April lalu. Ibunya, Wundilina Tabuni (Perempuan, 40 tahun), tewas di tempat pada hari kejadian. 🥀 Selengkapnya:  jubi.id/meepago/2026/a… #PengungsiInternalPapua #IDPsPapua #Papua #Indonesia #WestPapua #PapuanLivesMatter jubi.id | FB: JubiNews | X: @News_jubi | IG: newsjubi | Tiktok: @jubinews | Youtube: @jubinews
JUBI NEWS tweet media
Indonesia
363
22.2K
44.8K
1.2M
☮️ retweetledi
Handoko Tjung
Handoko Tjung@handokotjung·
NPD level ga ketolong: Narcissistic Plenger Disorder.
Indonesia
64
7.8K
23.5K
237.8K
☮️
☮️@sigitpramonopa·
Musim pembatalan nobar.
Indonesia
0
0
0
6
☮️ retweetledi
muklas
muklas@mukaikhlas·
yang stress jadi wni boleh retweet
Indonesia
209
63.6K
59.4K
1M
☮️ retweetledi
Dandhy Laksono
Dandhy Laksono@Dandhy_Laksono·
Film dokumenter punya 3 urusan: UU Pers, UU Penyiaran, dan UU Perfilman. Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) hanya perlu jika diputar di bioskop umum. Singkat cerita: Ini bukan urusan TNI.
Dandhy Laksono tweet media
Indonesia
262
6K
14.4K
220.4K
☮️
☮️@sigitpramonopa·
Tried to rewrite things and go back.
English
0
0
0
6
☮️ retweetledi
Project Multatuli
Project Multatuli@projectm_org·
“Jurnalisme itu harus berpihak dan tidak lagi berlindung dengan istilah objektivitas yang ternyata semu.” Evi Mariani, di Public Lecture 5x15 Lanskap Hidup: Who Feeds the World @makassarwriters. #ProjectMdiMIWF #MIWF2026
Indonesia
0
51
192
4.4K
☮️ retweetledi
Dandhy Laksono
Dandhy Laksono@Dandhy_Laksono·
Kawan-kawan, mohon bantu sebarin ya.
Dandhy Laksono tweet media
Indonesia
62
5K
9.8K
162.4K
☮️ retweetledi
arawr
arawr@flllowiee·
LUCU BGT JING
Indonesia
249
19.9K
53.3K
921.2K
☮️ retweetledi
Lambe #RESIN6
Lambe #RESIN6@LambeResing·
INDONESIA RAYA BERKUMANDANG DI JEREZ, SPANYOL BERKAT BOCAH 16 TAHUN, KIANDRA RAMADHIPA🇮🇩 SING IT LOUD AND CLEAR, ANOTHER INDONESIAN STAR IN THE MAKING🤩🥳
Indonesia
318
9.9K
32.3K
572K
☮️ retweetledi
Dandhy Laksono
Dandhy Laksono@Dandhy_Laksono·
Setelah Kupang, hari ini Yogya.
Dandhy Laksono tweet media
apostiera@apostiera

@Dandhy_Laksono Lucu ya. Takut kok sama film dokumenter yang dibuat dg berbasis riset? Harusnya yang ditakutkan adalah rusaknya ruang hidup masyarakat karena proyek2 besar yang menguntungkan segelintir elit saja.

Indonesia
4
267
712
16.2K
☮️ retweetledi
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
420
20.8K
51.6K
1.4M