dm ya jgn reply🫶🏻

5.4K posts

dm ya jgn reply🫶🏻 banner
dm ya jgn reply🫶🏻

dm ya jgn reply🫶🏻

@urpuddypuddy

hi, you! i just wanna say you’re not alone, just tell me what you feel♥︎

Katılım Aralık 2019
441 Takip Edilen290 Takipçiler
Sabitlenmiş Tweet
dm ya jgn reply🫶🏻
dm ya jgn reply🫶🏻@urpuddypuddy·
wts preloved 1. sneakers rubi ditsy vintage size 39 2. wedges jelly size 39 (insole 25cm), hak 5 cm 3. heels donatello size 39, hak 5cm (hak setengah tahu) 4. boots jelly size 40 (insole 25cm), hak 3cm dm for detail, kondisi mulus, like new✨ cocok buat nonton konser 🫶🏻
dm ya jgn reply🫶🏻 tweet media
Indonesia
1
0
0
3K
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
🇮🇩 мαԃαм ԃнєησк 🇵🇸
Mereka,para guru itu lagi demo pak 😭😭bukan jumpa fans.Malah dadah . Kalau cuma penhen dadah- dadah di mobil gitu ikut karnaval aja pak, ga usah jd presiden!!!!!!!!
Indonesia
2.4K
18.2K
58.7K
3.7M
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
Brive~
Brive~@brive__·
"Kalo tau bakal begini ga bakal gw dukung" Ngga, lo bukan gatau, tapi bodoh aja. Dari program kerja, riwayat hidup, sampe debat pun lo harusnya udah bisa nilai.
Indonesia
168
20K
42.4K
640.3K
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
nadh
nadh@maujdkucingaja·
bANGKEEE SEDIH BGT ANIES MASUK DEWAN PENASEHAT KOTA RIYADH😭 fuckk indooonnn!! literally our biggest what if bsbsnya negara lain lebih appreciate blio dibanding negara sendiri😭 and now we’re stuck with the DONGO WOWO as our president forever fuck uu 58%
Indonesia
310
22.1K
85.6K
1M
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
Tanyarlfes
Tanyarlfes@tanyarlfes·
💚 PADAHAL DULU UDAH SEJELAS INI YA 😩😩😩 sayangnya lebih banyak yg kemakan framing GEMOY dan KASIAN doang. makan tuh GEMOY
Tanyarlfes tweet media
Indonesia
1.5K
18.1K
65.3K
1.2M
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
Angga Fauzan 
Angga Fauzan @angga_fzn·
Pak Anies skrg sibuk bantu kota Riyadh, punya gerakan AksiBersama, bantu GerakanRakyat, ngisi kuliah tamu dimana2, dsb. Pak Ganjar skrg sibuk bikin yayasan mental health Teman Bersama, jogging rutin sama anak2 Jogja, bantu UMKM paks LapakGanjar, dsb. Kebayang kan aktivitas gerakan dan kegelisahan mereka masih tetap konsisten, saat pilpres dan setelahnya? Artinya apa? Ya gak gimmick. Emang begitu orangnya.
Indonesia
265
19.4K
72.4K
2M
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
nes
nes@pecintatokoijo·
@tanyakanrl Kata gw mah unfoll noh selebgram2 pendukung 02, kaga udah kasih panggung anyepin aje
Indonesia
18
159
2.7K
55.7K
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
mazi
mazi@yelvyah·
otak lu pada kemana jing waktu pemilihan presiden malah pilih prabowo
Indonesia
288
20.1K
53.7K
623.1K
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
Kr
Kr@karirfess·
Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya." Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya. Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh. Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama. Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang. Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya. Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup. Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun. Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya. Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Indonesia
206
6.9K
19.4K
843.6K
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
Presiden kopi
Presiden kopi@PresidenKopi·
Semua di penjara sama dia.
Presiden kopi tweet media
Indonesia
726
16.8K
79.5K
1.6M
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
Kr
Kr@karirfess·
Yg 'males' baca artike di bawah, intinya gini..👇 - Prabowo Subianto terlalu boros (spendthrift) dan terlalu otoriter (authoritarian), sehingga membahayakan stabilitas ekonomi dan demokrasi Indonesia. - Prabowo punya sifat mercurial (mudah berubah-ubah): kadang terlihat ramah & menerima kritik, tapi sering marah-marah dan menuduh kekuatan asing mendanai LSM untuk mengganggu stabilitas. - Masalah Ekonomi: Program-program populis yang sangat mahal (terutama makan bergizi gratis) menekan anggaran negara, melemahkan rupiah, dan mengancam stabilitas makroekonomi. - Masalah Demokrasi: Tendensi sentralisasi kekuasaan, pembungkaman kritik, dan gaya kepemimpinan yang semakin otoriter. - Latar belakang: Prabowo mantan jenderal yang punya masa lalu “thuggish” (kasar), kini berubah image jadi kakek penyayang kucing, tapi watak aslinya masih muncul dan mengkhawatirkan sekutu sendiri. - Inti kritik dari Economist: Prabowo sedang membawa Indonesia ke jalur berbahaya dengan kombinasi pengeluaran berlebihan + gaya kepemimpinan yang kurang demokratis.
The Economist@TheEconomist

Prabowo Subianto is too spendthrift and too authoritarian economist.com/briefing/2026/…

Indonesia
139
28.3K
58.9K
1.1M
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
Instagram Ahmad Dhani Sama seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina (benar ya nulisnya?), saya tidak nonton pernikahan anak Ahmad Dhani dan Maia Estianty (dua idola saya di waktu kuliah). Tapi apa yang ditulis Dhani di Instagram-nya saya baca, dan langsung teringat dengan salinan putusan pengadilan agama Jaksel yang dulu pernah beredar di Twitter (masih bernama itu, belum X). Saya ulas di sini karena cukup mengernyitkan dahi ketika membaca tulisan Dhani itu. "Kok, beda dengan yang saya baca dulu?" Saya urai sejauh bacaan saya, apakah "pengakuan" Dhani ini sesuai dengan fakta hukum 2008 atau tidak? (Disclaimer: ini putusan tingkat pertama [PA], bukan putusan kasasi MA. Untuk amar di banding atau kasasi, saya belum pegang berkasnya) 1. "Maia ditalak 3" Talak satu bain sughra, bukan talak tiga. Dan ini bukan Dhani yang menjatuhkan, melainkan putusan pengadilan atas gugatan cerai Maia. Dhani justru menolak perceraian. 2. "Maia selingkuh dengan pemilik TV swasta, diakui tertulis dan ditandatangani" Tidak ada di dokumen. Majelis menyatakan tegas (kutipan langsung): "...tidak ada yang mengarah kepada terjadinya nusyuz Penggugat kepada Tergugat." 3. Narasi "suami selingkuh dengan orang ketiga" disebut drama palsu Maia Tamara Geraldine bersaksi di bawah sumpah mendengar langsung pengakuan perempuan yang mengaku dinikahi siri Dhani, di rumah Melly Goeslaw, sekitar 2006. Menurut kesaksian Tamara, Dhani pernah mengirim SMS ke perempuan itu mengakui "memang enak punya dua isteri". Setelah pengakuan itu, Tamara menerima teror dari Dhani. Majelis tidak memutus sah-tidaknya nikah siri, tapi mencatat isu ini nyata-nyata memicu kehancuran rumah tangga. 4. "Laporan KDRT palsu" Maia melapor ke Polda Metro Jaya 20 April 2007 (bukti P.22). Tiga saksi di bawah sumpah (ayah, ibu, pembantu Maia) menerangkan: barang Maia dikeluarkan dari rumah, pakaian dikirim ke Surabaya, kamar dibongkar, lemari dijebol, baju dirobek, sepatu dibuang. Banyak hal terjadi saat Maia umrah. Dhani tidak membantah peristiwanya. Pengakuannya sendiri: itu cara "memberi pelajaran" karena Maia tidak menuruti perintahnya. Tidak ada temuan majelis bahwa laporan itu palsu. 5. "MA hanya mengabulkan permohonan cerai saja, hak asuh tidak dikabulkan" Putusan PA Jaksel mengabulkan: cerai (talak satu bain sughra), hak asuh tiga anak ke Maia sampai dewasa, Dhani wajib serahkan anak, nafkah anak Rp 7.500.000 per anak per bulan, sita marital atas tujuh aset sah, harta bersama dibagi dua. NB: HAK ASUH Oiya, ini tidak ada di Instragam, tapi ada di PA (bahkan saya juga kaget karena dulu gak baca sampai sana): Maia dituduh memakai narkoba oleh saksi-saksi yang dihadirkan Dhani. Awalnya Maia menggugat agar tiga anaknya (Al, El, dan Dul) ditetapkan dalam asuhannya. Dhani menolak keras dan menghadirkan sembilan saksi yang menggambarkan Maia tidak layak mengasuh. Salah satunya: Maia adalah pemakai narkoba. Beberapa saksi yang dihadirkan Dhani bahkan mengaku ikut memakai narkoba bersama Maia. Kemudian, Maia mengajukan hasil tes lab dari RS Azra Bogor dan RS Marzoeki Mahdi Bogor, dan keduanya membuktikan bahwa Maia negatif narkoba. Majelis menerima bukti ini. Maia juga dituduh mengabaikan anak. Namun Maia mengajukan 14 rapor sekolah anak (2006-2008) yang ditandatangani sendiri sebagai bukti keterlibatan. Plus, ijazah S1 FISIP UI sebagai bukti kapasitas mendidik. Amar putusan: hak asuh tiga anak ke Maia sampai dewasa. Dan Dhani dihukum menyerahkan anak, dan wajib memberi nafkah anak Rp 7.500.000 per anak per bulan. Saya akan lampirkan berkasnya di reply, silakan baca sendiri. Dan sila koreksi jika ada kekeliruan.
Rumail Abbas tweet mediaRumail Abbas tweet media
Indonesia
653
5K
30.8K
2.5M
dm ya jgn reply🫶🏻
dm ya jgn reply🫶🏻@urpuddypuddy·
sneakers wedges heels boots blazer vanilla hijab outer pantai rok span plisket rok flare hulm turtleneck mayoutfit payday harga khusus bisa oren free ong komen aja, dm error
dm ya jgn reply🫶🏻 tweet mediadm ya jgn reply🫶🏻 tweet mediadm ya jgn reply🫶🏻 tweet media
English
4
0
0
924
dm ya jgn reply🫶🏻 retweetledi
𝐍𝐨𝐳𝐞𝐥⚚ノゼル
“yaelah bbm non subsidi doang yg naik, ga ngaruh ke gw” Yang naik emg bkn subsidi, tp bbm non subsidi dipake sektor logistik dan industri. Ongkos kirim naik —> biaya produksi naik —> harga barang ikut naik. Ujungnya ya kita ttp kena dampak.
Indonesia
207
7.2K
17.3K
329.8K