dirwanfandre
384 posts


Anggaran LCC Empat Pilar MPR Rp30,7 miliar, hadiah juara 1 cuma Rp10 juta Ada beberapa biaya yang disorot ga masuk akal: -Penyusunan soal: Rp1,2 miliar -Grand final: Rp3,5 miliar Hadiahnya: Juara 1: Rp10 juta Juara 2: Rp7,5 juta Juara 3: Rp5 juta Belum dipotong pajak

Gerombolan kambing kurasa mirip dengan gerombolan manusia. Jika kamu pernah menggembala kambing dalam seumur hidupmu, kamu akan setuju dengan kalimat pertama dalam paragraf ini. Dalam gerombolan itu, selalu ada kambing yang ngeyelnya minta ampun. Jika kamu giring, ia kadang tidak mau. Ia tidak mau mengikuti aturanmu. Ketika kamu seret tali yang melingkar di lehernya, ia akan menancapkan kakinya kuat-kuat ke tanah. Lalu yang terjadi adalah kalian akan saling menyeret. Ia menggunakan leher, dan kamu menggunakan tanganmu. Pokoknya ia bergerak sesuai moodnya. Ada juga kambing yang sukanya menyendiri. Ketika digembala, ia selalu menyendiri. Kadang ngibrit ke arah yang jauh, meninggalkan kawan-kawannya. Mungkin ia kambing introvert ya? Ia akan selalu mencari hehijauan yang berbeda dari apa yang dimakan kawan-kawannya ketika di persawahan. Tetapi, ia berbeda dengan kambing yang ngeyelan tadi. Ia mau diatur. Kalau kamu ajak pulang, ia juga ikut pulang bersama kawan-kawannya. Ada juga kambing yang matanya jelalatan. Lihat hijau-hijauan dikit, ia akan menghampirinya. Tidak peduli itu tanaman orang atau bukan. Tidak peduli itu rumput atau kacang-kacangan. Ia hampir mirip dengan kambing ngeyelan tadi. Bedanya cuma, ketika si pemilik menghalau, ia manut. Ia tidak akan ngeyel makan tanaman itu lagi. Ada kambing yang sange-an. Tidak cowok tidak cewek. Kalau cowok, kalau ketemu kambing cewek, langsung aja main tunggangi. Bahkan kalau hasrat sex-nya tidak terkendali, ia tidak peduli yang ditunggangi itu kambing cowok atau kambing cewek. Kalau kambing cewek yang sange-an itu biasanya cerewet. Mbak-mbek-mbak-mbek kalau hasrat sex-nya memuncak. Ia akan mendekati kambing cowok di mana pun kalau masih bisa dijangkau. Kalau tidak ada kambing cowok, ia akan menggosok-gosokkan bokongnya ke kandang atau ke tembok atau ke apa pun. Ada kambing yang benar-benar manutan. Sami’na wa ato’na sama pemiliknya. Diajak ke mana-mana mau. Pendiam. Tidak cerewet, meskipun kadang kekurangan makanan. Nerima ing pandum. Cara memberi makannya juga gampang. Bahkan ia mau makan rumput yang sudah menguning. Minum air putih dari mana pun ia tetap mau. Ada kambing yang sok keren, seleranya tingkat tinggi, bahkan dalam pemilihan makanan dan minuman. Makanan kalau tidak rumput yang benar-benar hijau, bagus, segar, diambil dari sawah-sawah pilihan, ia tidak mau makan. Juga tidak semua jenis rumput mau ia makan. Minumannya jarang mau pakai air putih. Harus ada dedak dan dicampuri sedikit garam. Kandangnya juga harus bersih. Sebab ia tidak mau bulu-bulunya kotor yang terlalu sampai membentuk pentol-pentol pada bagian ujung. Ada kambing yang jadi bahan perundungan, bully-an. Biasanya kambing ini kalau tidak kurus kerempeng ya kambing yang brujul (cowok tapi tidak punya tanduk) atau ya kambing yang tidak bisa tumbuh besar, berbulan-bulan masih seukuran kucing. Cara merundung seekor kambing adalah dengan menyeruduknya, meninggalkannya ketika berada di sawah, atau dengan cara tidak memberi tempat ia makan ketika sedang makan bareng di kandang. Ada kambing yang keibu-ibuan. Ia biasanya hapal jalan ke mana dia biasa digembalakan. Tidak perlu diatur pemiliknya, karena ia pandai mengatur jalannya sendiri. Bahkan ia mengatur kawan-kawannya. Ia perhatian. Ketika ada satu kambing yang ketinggalan, ia akan teriak-teriak memanggil. Ada kambing yang seperti kesatria. Ia akan melindungi kawan-kawannya dari serudukan kambing gerombolan lain. Ia kambing yang bijak. Pendiam, tapi disegani oleh yang lain. Dan masih banyak lagi jenis-jenis kambing yang lain, yang kalau kusebutkan semuanya, nanti kebanyakan. Tapi yang jelas aku berpikir (terutama ketika sedang menggembala kambing) bahwa mereka benar-benar seperti gerombolan manusia. Karenanya, sudah sepatutnya aku menyikapi kambing-kambingku dengan berbeda, dengan perlakuan yang sesuai porsinya.

🚨: House cat share about 95.6% of their DNA with Siberian tigers. Your pet is a tiny, domesticated apex predator.

Ada dua detail menarik dalam Film Dokumenter Pesta Babi karya @Dandhy_Laksono @watchdoc_ID dkk, yaitu Lukisan Kerahiman Ilahi dan juga Ensiklik Laudato Si’ yang dibentangkan bersama pendirian Salib Merah tanpa perlawanan. Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi, melainkan “rumah bersama” yang dipercayakan Tuhan kepada manusia untuk dirawat. Implikasinya adalah, ketika hutan dirusak, tanah adat dirampas, sungai dicemari, dan masyarakat adat dipaksa kehilangan ruang hidup demi proyek atau kepentingan ekonomi, yang terluka adalah seluruh ciptaan, bukan hanya manusia saja. Laudato Si’ menegaskan bahwa jeritan bumi dan jeritan orang miskin adalah jeritan yang sama. Masyarakat adat sering menjadi pihak pertama yang merasakan luka itu, di mana mereka kehilangan tanah leluhur, budaya, bahkan masa depan, sementara ekosistem di sekitar perlahan mati demi keuntungan segelintir pihak. Tindakan semacam itu bukan lagi hanya menyinggung persoalan politik atau pembangunan, tetapi juga kaitannya dengan persoalan moral, sebab manusia sedang gagal melihat ciptaan sebagai anugerah Allah. Kita juga melihat bahwa berdiri juga lukisan Kerahiman Ilahi yang begitu kuat dalam penggalan video tersebut, di mana dari hati Kristus mengalir darah dan air, tanda kasih dan belas kasih Allah bagi dunia. Namun, bagaimana mungkin manusia mengaku menghormati Kerahiman Ilahi sambil membiarkan sesama diinjak dan alam dihancurkan? Kerahiman tidak berhenti pada doa atau devosi pribadi, tetapi ia harus hadir dalam keberpihakan kepada yang lemah, termasuk masyarakat adat dan ciptaan yang terancam. Tragisnya, sejarah juga menunjukkan bahwa tidak sedikit pemuka agama justru memilih diam, bahkan berpihak kepada kekuasaan yang menindas. Ketika suara kenabian dibungkam demi kedekatan dengan penguasa, di situlah agama kehilangan rohnya. Seperti Yudas yang menjual Gurunya sendiri, pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari musuh, tetapi justru dari mereka yang seharusnya menjaga dan menggembalakan umat.





Untuk mahasiswa saya di FEB UI, berikut beberapa referensi untuk kuliah minggu depan topik financial crisis. Karena bahan2 ini mungkin bermanfaat buat mahasiswa lain yang bukan di kelas saya, saya share link nya dash.harvard.edu/handle/1/42372… (working paper saya di Harvard Kennedy School) piie.com/events/2023/fl… (bahan presentasi di Peterson Institute for International Economics, Role of Exchange Rates in Three Financial Shocks in Indonesia elibrary.imf.org/configurable/c… (Twenty Years after the Asian Financial Crisis, free access chapter dalam buku) piie.com/events/interna… (bahan presentasi di Peterson Institute for International Economics, : The Impossibility of Impossible Trinity? The Case of Indonesia









Sering banget denger kasus dobel sertifikat tanah semacam ini. Jadi ceritanya Bu Sri Marwini beli tanah bangunan secara cash, udah konsultasi ke 2 notaris berbeda dan BPN Solo untuk memastikan tanah bangunan ga bermasalah, setelah dipastikan clear, Bu Sri melanjutkan transaksi dan tanah bangunan berhasil dibalik nama atas nama Belio. Selang beberapa bulan setelah ditempati, datangnya Bu Suwarti yang mengaku sebagai pemilik sah rumah dan bawa sertifikat. Pihak Bu Suwarti minta uang 500juta biar kasus ini ga dilanjutkan ke pengadilan, Bu Sri menolak karena proses jual beli yang mereka lakukan udah sesuai prosedur hukum. Setelah 13 taun bolak balik pengadilan dan habis uang miliaran, Bu Sri dinyatakan kalah, SHM yang dia pegang dibatalkan dan dipaksa mengosongkan rumah dalam waktu 2x24 jam.




Kalo di Flores ada barbaric semi-historical legend. Cerita tentang seorang perempuan cantik yang dilamar 3 raja (Bima, Todo, Gowa) tapi dia nolak. Salah satu raja itu marah lalu perempuan ini dibunuh, dikuliti & kulitnya dijadikan gendang, yang sampe sekarang masih disimpan…













