Lambe Saham@LambeSahamjja
Guys, ada yang menurut gue paling tidak nyaman untuk dikatakan secara terbuka tapi paling penting untuk dipahami sekarang.
Apa yang Prabowo lakukan hari ini KDMP, ekspor satu pintu, MBG, intervensi distribusi pernah dilakukan persis sama oleh Soekarno di tahun 1960-an.
Dan hasilnya:
inflasi 600% per tahun.
Ekonomi lumpuh.
Rupiah tidak ada harganya.
Bukan berarti Prabowo sama dengan Soekarno.
Tapi polanya mengerikan hampir identik.
serta pertanyaan.....
Kenapa negara yang kaya sumber daya alam, punya 270 juta penduduk, dan sudah merdeka 80 tahun lebih masih terus bergantung pada asing untuk hampir segalanya?
Dan jawaban yang paling jujur yang paling tidak ingin didengar oleh siapapun yang sedang berkuasa adalah ini:
Karena setiap kali pemimpin Indonesia mencoba mandiri dengan cara yang salah tanpa kesiapan, tanpa sistem, dan tanpa memberantas korupsi dulu dari dalam hasilnya selalu sama. Rakyat yang paling menderita.
Ini bukan pertama kali.
Soekarno pernah melakukan ini lebih dari 60 tahun lalu. Dengan semangat yang jauh lebih menggelora.
Dengan pidato yang jauh lebih membakar jiwa.
Dengan keyakinan bahwa Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri tidak boleh dikendalikan asing manapun.
Dan siapa yang bisa salahkan Soekarno soal niatnya?
Niatnya mulia.
Idenya benar.
Indonesia memang harus mandiri.
Tapi caranya menghancurkan negara dari dalam.
Perusahaan-perusahaan asing dinasionalisasi sebelum ada orang yang tahu cara mengelolanya.
Pengeluaran negara membengkak untuk proyek-proyek besar yang tidak ditopang penerimaan yang cukup.
Uang dicetak untuk tutup defisit.
Dan dalam hitungan beberapa tahun inflasi meledak 600% per tahun.
Harga beras berubah dalam hitungan hari.
Rupiah tidak ada artinya.
Orang kembali barter karena uang tidak bisa dipercaya.
Yang paling menderita bukan para pejabat yang membuat kebijakan itu.
Yang paling menderita adalah ibu-ibu di pasar yang tidak bisa beli beras.
Petani yang hasil panennya tidak cukup untuk beli pupuk.
Rakyat biasa yang tabungan hidupnya menguap karena inflasi.
Dan sekarang polanya terulang.
Tapi lebih cepat.
KDMP masuk ke rantai distribusi yang selama ini sudah berjalan sendiri. MBG membelanjakan ratusan triliun untuk program yang sifatnya konsumtif bukan produktif.
Ekspor satu pintu diumumkan tiba-tiba tanpa persiapan.
Dan rupiah sudah di Rp18.000 level yang 25 tahun lalu hanya dikenal sebagai simbol trauma 1998.
Bedanya dengan Soekarno:
Soekarno butuh bertahun-tahun untuk menghancurkan kepercayaan pasar.
Di era sekarang fund manager global bisa menarik triliunan dalam hitungan detik begitu membaca sinyal yang salah. IHSG turun 36%.
Modal lari ke Singapura.
Rating diturunkan.
Dan semua itu terjadi bukan karena fundamentalnya jelek tapi karena kepercayaan yang dibangun 25 tahun pasca-reformasi mulai goyah.
Dan ini yang paling ironis dan paling menyakitkan:
Sumitro Djojohadikusumo ayah Prabowo adalah ekonom yang paling keras mengkritik cara Soekarno mengelola ekonomi.
Dia menulis dengan sangat jelas:
jangan korbankan disiplin fiskal demi ambisi politik.
Jangan cetak uang untuk tutup pengeluaran yang tidak produktif.
Jangan biarkan agenda revolusi mengalahkan kalkulasi ekonomi yang rasional.
Itu yang Sumitro perjuangkan 60 tahun lalu.
Dan hari ini anaknya menghadapi kritik yang sangat mirip.
Tapi ini yang harus dipahami dan ini yang paling penting:
Bukan intervensi negaranya yang salah.
China membuktikan bahwa negara bisa dan harus terlibat aktif dalam ekonomi.
Tapi China melakukannya dengan urutan yang benar: berantas korupsi dulu sampai ke akarnya baru ambil alih kontrol ekonomi.
Bangun sistem yang kompeten dulu baru perluas intervensi.
Hukum yang tidak kompeten dengan keras baru percayakan aset negara ke mereka yang layak.
Di Indonesia urutannya terbalik.
Ambisi besarnya dulu.
Programnya dulu.
Anggarannya dulu.
Sementara korupsinya masih merajalela, sistem pengawasannya masih bolong, dan orang yang tidak kompeten masih duduk di posisi yang menentukan.
MBG korupsi sebelum setahun berjalan.
KDMP belum beroperasi tapi sudah ada yang main. Pertamina masih bocor dari dalam.
Dan ekspor satu pintu bikin investor asing angkat kaki karena tidak ada yang bisa menjamin transparansinya.
Sejarah Indonesia mengajarkan satu hal yang sangat sederhana tapi sangat keras untuk diterima:
Kemandirian ekonomi itu tujuan yang benar.
Tapi jalan menuju ke sana tidak bisa dibangun di atas fondasi korupsi yang dibiarkan, sistem yang tidak disiapkan, dan kepercayaan publik yang diremehkan.
Soekarno gagal bukan karena dia tidak cinta Indonesia. Dia gagal karena dia percaya semangat revolusi bisa menggantikan sistem yang matang.
Dan kalau kesalahan yang sama terus diulang dengan nama program yang berbeda, dengan wajah pemimpin yang berbeda, tapi dengan pola yang persis sama maka yang akan menanggung akibatnya tetap orang yang sama.
Ibu-ibu di pasar yang tidak bisa beli beras.
Petani yang tidak bisa beli pupuk.
Rakyat biasa yang tabungan hidupnya menguap karena rupiah terus melemah.
Mereka tidak memilih untuk ikut dalam ambisi besar itu. Tapi mereka selalu yang pertama membayar harganya.