Aud
12.1K posts


DOA QUNUT SUBUH
*DOA QUNUT SUBUH*
1. allahummah-dinii fiman hadait (mohon diberi hidayah).
2. wa 'aafinii fiiman 'aafait (mohon diberi kesehatan).
3. wa tawallanii fiman tawallait (mohon agar dipelihara).
4. wa baarik lii fiimaa a'atoit (mohon diberi keberkahan).
5. wa qinii syarramaa qodoit (mohon diselamatkan dari bahaya).
6. fainnaka taqdhi wa laa yuqdha 'alaik (mohon dijauhkan dari hukuman).
7. wa innahu la yazillu man waalait (mohon diberi pimpinan).
8. wa laa ya'izzu man 'aadait (mohon agar tidak dimusuhi).
9. tabaarok ta rabbana wa ta'aalait (maha suci tuhan yang maha tinggi)
10. falakal-hamdu 'alaa maa qodhoit (segala puji atas segala yang engkau hukumkan).
11. astaghfiruka wa atuubu ilaik (mohon ampun dan bertaubat).
12. wa soll-allahu 'alaa sayyidinaa muhammadinin-nabiyyil-ummiyyi wa 'alaa aalihi wa sohbihi wa sallam
(semoga allah mencurahkan rahmat dan sejahtera kepada nabi muhammad, keluarga dan sahabat).
Indonesia

@kokomkomsari08 Orang buta tak pernah benci sama senja, dan orang tuli tak pernah benci sama burung yg berkicau
Indonesia
Aud retweetet

10 Cara Meretas Tubuhmu
1. Gugup? Pencet hidungmu untuk menenangkan diri.
2. Cemas? Letakkan tangan di dada + tarik napas dalam-dalam.
3. Kurang energi? Percikkan air dingin atau jalan cepat.
4. Hidung tersumbat? Tempelkan es batu pada langit-langit mulut.
5. Susah tidur? Berkedip dengan cepat selama 1 menit.
6. Meningkatkan daya ingat? Kepalkan tanganmu.
7. Sakit kepala? Tekan titik di antara jempol dan jari telunjuk.
8. Mual? Tekan pergelangan tangan bagian dalam.
9. Butuh bangun/segar? Kunyah permen karet rasa mint.
10. Susah fokus? Kunyah sesuatu yang renyah (crunchy).
Indonesia
Aud retweetet

CARA MENGUBAH KATA BIASA
JADI BERKELAS SAAT BICARA
1. Pola pikir → Paradigma
2.Perubahan → Transformasi
3.Kerjasama → Kolaborasi
4. Pendapat → Perspektif
5. Hubungan → Korelasi
6. Rencana → Strategi
7. Penting → Krusial
8. Teratur → Sistematis
9. Dugaan → Asumsi
10. Menawar → Negosiasi
11. Hasil → Output
12. Masukan → Input
13. Keluar negri 👉 Amankan minyak
Indonesia
Aud retweetet

#celahawan
kakekku pernah berpesan; hidup lebih indah jika diawali dengan rasa syukur, dijalani dengan ikhlas, dilandasi dengan sabar, disampul dengan kebaikan, dan digerakkan dari hati yang penuh dengan kasih sayang.
Indonesia
Aud retweetet

#celahawan 🕊
Memanusiakan manusia itu bukan perkara mudah
Dibutuhkan lebih dari sekedar pengetahuan, kecerdasan bahkan
pengalaman
Karena itulah adab selalu ditempatkan lebih tinggi dari ilmu
Semua orang bisa menjadi pintar
Bisa menguasai banyak hal
Namun tidak semua orang tahu bagaimana menghormati, mendengarkan dan memperlakukan orang lain dengan baik
Ilmu bisa dicari dan dipelajari, tetapi adab lahir dari hati yang sadar akan nilai kemanuasiaan
Indonesia
Aud retweetet
Aud retweetet

@bungojeumpa_ Anak laki laki diperbolehkan memandikan jenazah ibu kandungnya sendiri, menurut mayoritas pandangan dalam hukum Islam
Indonesia
Aud retweetet
Aud retweetet

Renungan Takdir
Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS memukulkan tongkatnya ke laut agar bisa dilewati. Nabi Nuh AS diperintahkan membangun kapal untuk menghadapi banjir besar.
Jika dipikir secara rasional, sebenarnya Allah tidak perlu memerintahkan hal-hal itu. Allah Mahakuasa. Dia bisa saja menjadikan Nabi Musa berjalan di atas laut tanpa tongkat, atau menyelamatkan Nabi Nuh tanpa kapal apa pun.
Namun Allah tidak memilih cara itu.
Di situlah pelajarannya: manusia diperintahkan untuk berusaha. Iman kepada takdir sama sekali tidak menafikan usaha. Justru karena semua telah ditakdirkan oleh Allah, manusia dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam menjalani sebab-sebabnya.
Takdir adalah ketetapan Allah.
Usaha adalah perintah-Nya.
Indonesia
Aud retweetet

𝐁𝐀𝐆𝐀𝐈𝐌𝐀𝐍𝐀 𝐌𝐀𝐊𝐒𝐔𝐃 “𝐊𝐄𝐌𝐁𝐀𝐋𝐈 𝐊𝐄𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐀𝐋-𝐐𝐔𝐑’𝐀𝐍 𝐃𝐀𝐍 𝐒𝐔𝐍𝐍𝐀𝐇” 𝐊𝐄𝐓𝐈𝐊𝐀 𝐓𝐄𝐑𝐉𝐀𝐃𝐈 𝐏𝐄𝐑𝐒𝐄𝐋𝐈𝐒𝐈𝐇𝐀𝐍?
Ungkapan “kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah” sering dikutip setiap kali umat Islam berbeda pendapat. Namun ironisnya, slogan ini justru kerap memperkeruh perdebatan. Setiap pihak merasa paling Qur’ani dan paling Sunnah, sementara yang lain dituduh menyimpang hanya karena berbeda kesimpulan. Pertanyaannya: apa sebenarnya maksud “kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah” menurut ulama klasik?
Al-Qur’an menegaskan:
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ أَطِیعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِیعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِی ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَـٰزَعۡتُمۡ فِی شَیۡءࣲ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡیَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِ
“𝑊𝑎ℎ𝑎𝑖 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔-𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛, 𝑡𝑎𝑎𝑡𝑖𝑙𝑎ℎ 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑎𝑡𝑖𝑙𝑎ℎ 𝑅𝑎𝑠𝑢𝑙 (𝑁𝑎𝑏𝑖 𝑀𝑢ℎ𝑎𝑚𝑚𝑎𝑑) 𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑢𝑙𝑢𝑙𝑎𝑚𝑟𝑖 (𝑝𝑒𝑚𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔 𝑜𝑡𝑜𝑟𝑖𝑡𝑎𝑠) 𝑑𝑖 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢. 𝐽𝑖𝑘𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑒𝑑𝑎 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡 𝑡𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑎𝑡𝑢, 𝑘𝑒𝑚𝑏𝑎𝑙𝑖𝑘𝑎𝑛𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ (𝐴𝑙-𝑄𝑢𝑟’𝑎𝑛) 𝑑𝑎𝑛 𝑅𝑎𝑠𝑢𝑙 (𝑠𝑢𝑛𝑎ℎ𝑛𝑦𝑎) 𝑗𝑖𝑘𝑎 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑝𝑎𝑑𝑎 𝐴𝑙𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑛 ℎ𝑎𝑟𝑖 𝐴𝑘ℎ𝑖𝑟.” (QS. an-Nisā’: 59)
Ayat ini sering dipahami secara sederhana: setiap masalah cukup dicari ayat atau hadisnya. Padahal, tafsir para ulama menunjukkan bahwa makna ayat ini jauh lebih dalam dan metodologis.
𝐒𝐭𝐫𝐮𝐤𝐭𝐮𝐫 𝐊𝐞𝐭𝐚𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐧 𝐎𝐭𝐨𝐫𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐈𝐥𝐦𝐮
Dalam tafsirnya, Zādz al-Masīr, Ibn al-Jawzi menjelaskan bahwa ayat ini tidak hanya memerintahkan ketaatan kepada Allah dan Rasul, tetapi juga kepada ulil amri. Yang menarik, para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan ulil amri: ada yang mengatakan penguasa, ada yang menyatakan ulama, ada pula yang memahaminya sebagai para sahabat Nabi Saw.
Imam al-Qurṭubī, dalam kitab tafsirnya, menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat (aṣaḥḥ) adalah dua makna pertama, yakni penguasa dan ulama. Makna penguasa dinilai paling sesuai dengan konteks turunnya ayat, sementara makna ulama didasarkan pada perintah Allah agar perselisihan dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Menurut al-Qurṭubī, tidak ada cara untuk benar-benar kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw. kecuali melalui ulama, karena merekalah yang mengetahui metode dan mekanismenya, sehingga wajib bertanya kepada mereka dan mengikuti rumusan hukum yang mereka tetapkan.
Penjelasan al-Qurṭubī ini menunjukkan satu hal penting: Islam sejak awal mengakui adanya otoritas, baik otoritas kekuasaan maupun otoritas keilmuan. Karena itu, penyelesaian perselisihan dalam Islam tidak diserahkan kepada siapa saja yang sekadar pandai mengutip ayat, melainkan kepada mereka yang memiliki kapasitas, kompetensi, dan legitimasi ilmu.
𝐌𝐚𝐤𝐧𝐚 “𝐌𝐞𝐧𝐠𝐞𝐦𝐛𝐚𝐥𝐢𝐤𝐚𝐧” 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐭 𝐈𝐛𝐧 𝐚𝐥-𝐉𝐚𝐰𝐳𝐢
Ketika membahas frasa “kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul”, Ibn al-Jawzi menyebutkan dua penjelasan utama.
𝑷𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂, jumhur ulama menyatakan bahwa mengembalikan perkara kepada Allah berarti merujuk kepada Al-Qur’an, dan mengembalikannya kepada Rasul berarti merujuk kepada Sunnah. Namun rujukan ini tidak bersifat tekstual semata.
Ibn al-Jawzi menukil penjelasan Qāḍī Abū Ya‘lā bahwa pengembalian kepada Al-Qur’an dan Sunnah dilakukan melalui dua cara:
1. Merujuk kepada dalil yang eksplisit (nash)
2. Merujuk melalui dalalah makna, qiyas, dan metodologi hukum yang sah (ijtihad).
Ini berarti bahwa qiyas, kaidah ushul fikih, dan penalaran ilmiah bukan pengkhianatan terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi justru bagian dari cara kembali kepadanya.
(Cont...)

Indonesia
Aud retweetet
Aud retweetet
Aud retweetet












