vin

10.8K posts

vin banner
vin

vin

@freafk

𝗰𝘆.𝗯𝗲𝗿 — BOO! all this dollish side are 𝗺𝗶𝗻𝗲, please knock the door first if you wanna come by! you will find flashy splashy 𝗱𝗼𝗹𝗹 back there 🦁.

Beigetreten Ekim 2019
46 Folgt658 Follower
vin
vin@freafk·
@ggiiyuuu btw ka, teacup bookmark nya beli dimanaaa?
Indonesia
1
0
0
34
vin retweetet
🌸💫
🌸💫@gueiava·
Taugasi menurut pakar klimatologi BRIN, diperkirakan sampai September nanti khususnya bagian selatan Indonesia bakal ngalamin yang namanya El Nino Godzilla. Kenapa dinamain “Godzilla?” Karna pada level ini tingkat kekuatannya “super” alias lebih panas dari El Nino yang terakhir terjadi di 2023. Suhu mungkin ga mencapai 40°C tapi bakal FEELS LIKE 40°C. Jam2 kritis di antara jam 11.00 - 15.00. So, kalo bisa hindari terkena paparan matahari langsung di jam2 itu, jgn lupa pake sunscreen dan banyak minum air putih biar ga dehidrasi yaa! Stay hydrated temen2 semua❤️
Georitmus 🇮🇩@zakiberkata

Jam 1 siang makin panas menyala. Rakyat mending rebahan.

Indonesia
79
852
3.2K
187K
vin retweetet
Sel
Sel@selendiipity·
15 x 3 terus minions kalo lawan endo yuta jadi 1-15 gt?
Indonesia
16
30
254
22.9K
vin retweetet
Mahalil (serin’s)
Mahalil (serin’s)@pertigaanmonaco·
Kasian perempuan ya, mau ngehobi aja ujung-ujungnya dikaitin sama cari jodoh/ketemu laki-laki. May women free soon 🙏
Indonesia
1
532
2K
21.8K
vin retweetet
₍ᐢ. ̫.ᐢ₎ melody
“Tak relevan dengan industri??” Kesannya di sini malah jd nyempitin makna pendidikan. Padahal pendidikan harusnya fungsinya luas, ngajarin cara mikir jangka panjang, ngembangin kreativitas, berpikir kritis dll, bukan cuma menuhin kebutuhan pasar kerja. Trs label “ga relevan”, ga relevan menurut siapa?? Banyak hal yg dulu dianggap ga jelas justru jadi besar skrg. Dulu konten kreator dianggap ga jelas, sekarang jadi industri gede. Justru inovasi tuh banyak dateng dari hal” yg ga relevan. Dan juga ga semua orang kuliah buat langsung masuk industri pls, kalo kaya gini malah jd matiin diversity of knowledge. Mending perluas aja dan bagusin pendidikan vokasi dripada begini
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
10
679
1.8K
23.1K
vin
vin@freafk·
no more mencerdaskan kehidupan bangsa 🥳🥳🥳
Indonesia
0
0
0
3
vin retweetet
vin
vin@freafk·
wtb canva sama capcut private #zonauang
English
73
0
3
230
vin retweetet
bukan retno
bukan retno@rewellls·
Saya dan suami niat ke Papua jadi dosen karena kampusnya menawarkan beberapa privilege yang tidak ada di Jawa, ternyata kampusnya menipu. Sekarang saya dan suami jobless. Jadi, saya jual buku-buku ini demi bertahan hidup sehari-hari. Pengiriman dari Surabaya. Koleksi pribadi.
Indonesia
92
2K
7.1K
263.4K
vin retweetet
A. Ainur Rohman
A. Ainur Rohman@ainurohman·
Evaluasi kalender turnamen yg terlalu padat❌ Aplikasi teknologi (VAR/instant review)❌ Peningkatan kesejahteraan dan prize money atlet❌ Perbaikan strategi pemasaran dan penyiaran❌ Mengubah sistem skoring✅ Federasi flop..
BWF@bwfmedia

📢 The #BWF membership has voted to approve the adoption of the 3×15 scoring system. Read more 👉 bit.ly/3x15ScoringSys… #badminton

Indonesia
44
350
751
36.5K
vin retweetet
NINA - ꦤꦶꦤ
NINA - ꦤꦶꦤ@noichil·
Malu bawa hape android Malu bawa tumbler 50ribuan Malu pake motor Kalo 'identitas/kebanggaan' selalu diletakkan pada barang, maka itu tanda kamu mulai memupuk sifat materialistis.
Tanyarlfes@tanyarlfes

💚 just ask ing : (

Indonesia
131
6.6K
28.4K
359.6K
vin retweetet
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
324
14.4K
35.7K
782.3K
vin retweetet
Woodsy Corner.
Woodsy Corner.@muncorner·
🍎 me and my neverending "aman aja" when it actually hurts against the world
English
51
5.9K
9.7K
133.3K