
Balanar
37.2K posts



Anjing serem banget gede di pertigaan for a sloppy indo horror




Dulu pertama kali mengenal Raditya Dika sebagai “anak blog” yang tulisannya absurd, jujur, dan terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita tentang cinta yang gagal, teman yang nyebelin, sampai kejadian receh yang justru jadi lucu karena ditulis dengan gaya Deadpan yang jadi ciri khasnya. Buku-bukunya seperti Kambing Jantan, Cinta Brontosaurus, sampai Marmut Merah Jambu bukan cuma laris tapi jadi identitas generasi. Raditya Dika saat itu seperti teman yang duduk di sebelah kita, bercerita tanpa berusaha terlihat pintar, tapi justru terasa cerdas karena kejujurannya. Raditya Dika sekarang berbeda. Bukan lagi sekadar penulis cerita konyol, tapi kreator yang lebih matang. Podcast tentang hubungan, konten observasi kehidupan, bahkan pembahasan yang lebih reflektif dan filosofis. Humor masih ada, tapi lebih halus dan smart banget. Tidak lagi meledak-ledak, tapi lebih dalam dan improvisasi. Yang menarik, Raditya Dika sekarang juga banyak dilihat sebagai role model. Bukan karena hidupnya glamor, tapi justru karena terlihat sederhana. Hidup tenang, keluarga kecil, pilihan hidup yang realistis dan cara dia bicara tentang uang, karier, serta kehidupan terasa semakin relevan. Ia tidak lagi sekadar membuat orang tertawa, tapi juga memberi perspektif. Tentang pentingnya mengatur keuangan, membangun karier jangka panjang, dan menjalani hidup tanpa harus terlihat sibuk mengejar validasi. Dulu Raditya Dika membuat kita tertawa karena “hidupnya berantakan”. Sekarang Raditya Dika membuat kita tersenyum karena “hidupnya mulai tertata”. Mungkin itu bukan cuma perubahan Raditya Dika. Tapi juga perubahan kita yang tumbuh bersamanya. Dulu kita tertawa karena patah hati pertama. Sekarang kita tertawa karena tahu hidup memang seperti itu. Raditya Dika dulu terasa seperti teman sebangku. Raditya Dika sekarang terasa seperti teman lama yang sudah banyak belajar. Letak menariknya kita tidak kehilangan Raditya Dika yang lama. Kita hanya melihat versi yang lebih dewasa. Menurut kalian dalam posisi sekarang ini, lebih relate Raditya Dika dulu atau sekarang? Atau justru kamu tumbuh bersama perubahan itu? Reply di bawah 👇


What opinion about Naruto would have you like this?

yang marah marah karena minimal FIRST DATE / FIRST MEET gue 500ribu dianggap MAHAL sama kaum pria.... sini gue kasih tau cuy.... gue udah mau 29thn tahun ini. dan status gue kartap pada saat itu. laki nya kerja gue juga kerja, so... why not? semua orang punya standar nya masing-masing dan itu standar gue.... kenapa jadi kalian marah marah sih? gue gak nyuruh lu semua harus spend money segitu kok, atau itu dijadiin standar sama kita cewek". nooo noo ya kak🫵🏻 semua ada kemampuannya masing", kalau keberatan yaudah gak sih? kalau buat gue, kenapa gue bilang gitu? karena gue ngerasa udah bukan cinta cintaan bocil yang masih ngelap ingus juga anjir. gue pdkt - pacaran tuh udah nyari yang serius dan bukan buat fwb/hts/ons yang cuman buang" duit dan buang" waktu berharga gue 🙂🙏🏻 udah mau kepala 3 juga, intinya kacamata mama udahlah ☺️😇☝🏻


Seru banget bolos kerja shift malam nonton marapthon 🥰 terus patungan sama temen beli minum beralkohol biar solid kaya aaa clan 🫂 kalian yang gasuka FURAB 💜 itu pada kenapa 🥺 padahal gua aja teredukasi dari FURAB 🥰 gua juga pengen berhenti kerja biar keren kaya koko Yebe dan Kakak Fuji 😍💜


Unpopular opini tentang Jawa ? Sekarang keluarkan semua kalian punya

Nah



Hindia shuts down a Twitter user for using lyrics from ‘Peradaban’ to justify their anti-queer views: “stop using my songs to punch down on minorities. fuck off”



lelaki bodoh, padahal idup tanpa patriarki itu enak cok


Unpopular opinion soal Indonesia?



Gofar Hilman sekarang cewenya Mumu-nya Tonight Show???


Unpopular opinion soal Kota Jakarta





apa pendapatmu tentang iphone yang membuatmu berada di posisi kepungan golok begini





