PS

64.5K posts

PS banner
PS

PS

@homodeuch

collection of personal interest, rants, very unimportant comments and likes and everything in between. thoughts & tweets are personal.

Jakarta Selatan, DKI Jakarta Beigetreten Ekim 2009
571 Folgt1.1K Follower
Angehefteter Tweet
PS
PS@homodeuch·
Penasaran deh gimana Exsport, brand tas sekolah anak anak tahun 2010-an, regain their popularity dengan model & style yang fit in ke both Gen Z & Millenials Audience. From this To this
PS tweet mediaPS tweet media
Indonesia
901
3.4K
24.9K
1.9M
PS retweetet
Al Jazeera English
Al Jazeera English@AJEnglish·
Indonesian authorities have shut down several screenings of a new documentary about alleged human rights abuses in Papua, including Indigenous land seizures. Al Jazeera’s @JesWashington explains the controversy.
English
31
1.9K
2.9K
78.8K
PS retweetet
Al Jazeera English
Al Jazeera English@AJEnglish·
Indonesian authorities have shut down several screenings of a new documentary on alleged human rights abuses in Papua, including Indigenous land seizures. Rights groups and international media still face restricted access to the region. Al Jazeera’s @JesWashington reports.
English
182
13.4K
18.6K
1.1M
PS
PS@homodeuch·
Seriously too many incapable people ruling the country and in politics.
English
0
0
0
16
PS retweetet
cozy 🕷️
cozy 🕷️@cozyaltruis·
Kenapa pemimpin negara boleh lansia, tapi kerja corporate 30an dianggap ngga produktif? Dan kenapa ngelamar kerja harus pake SKCK? sedangkan banyak pejabat negara aja mantan napi
Indonesia
382
28.5K
63.2K
706.7K
PS
PS@homodeuch·
@tempodotco bukan sama aja, tapi LEBIH PARAG
Indonesia
0
0
0
92
tempo.co
tempo.co@tempodotco·
Massa Aksi Kamisan: Prabowo-Gibran Sama Saja dengan Soeharto
tempo.co tweet mediatempo.co tweet media
Indonesia
140
16.3K
38.3K
2.1M
neyi kaybettiğini hatırla
neyi kaybettiğini hatırla@neyikaybettik·
Cate Blanchett, Filistin bayrağını yasaklayan festivali kırmızı halıyı kullanarak deldi.
neyi kaybettiğini hatırla tweet media
Türkçe
426
20.1K
173.1K
4.4M
PS retweetet
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa baru melakukan sesuatu yang sangat jarang terjadi di birokrasi Indonesia dan menurut gua ini perlu dibahas dengan sangat serius. Dia mencopot dua pejabat tinggi Kemenkeu hari ini. Dan alasannya bukan korupsi yang tertangkap KPK. Bukan OTT. Bukan skandal yang viral di media sosial. Mereka dicopot karena memberikan data yang salah kepada menterinya sendiri. Kronologinya perlu dipahami dengan jelas supaya kita bisa menilai seberapa serius masalah ini. Tahun lalu Purbaya menanyakan langsung kepada jajarannya berapa potensi restitusi pajak yang akan keluar? Restitusi pajak adalah pengembalian uang kepada wajib pajak yang terbukti lebih bayar. Stafnya menjawab nilainya sedikit. Tidak ada yang mengangkat tangan dan bilang Pak ini sebenarnya besar. Di akhir tahun realisasinya keluar Rp361,15 triliun. Naik 35,9 persen dari tahun sebelumnya. Berkali-kali lipat dari yang dilaporkan stafnya. Dan yang paling mengkhawatirkan adalah satu detail yang Purbaya ungkap secara terbuka restitusi PPN ke industri batu bara saja membengkak Rp25 triliun secara neto. Artinya negara membayar Rp25 triliun ke perusahaan batu bara untuk pengembalian pajak yang menurut Purbaya hitungannya tidak benar. Ini adalah masalah yang jauh lebih dalam dari sekadar salah lapor. Restitusi pajak adalah mekanisme yang sangat rawan dimanipulasi. Cara kerjanya adalah wajib pajak mengklaim bahwa mereka sudah membayar pajak lebih dari yang seharusnya dan meminta pengembalian dari negara. Dalam kondisi normal ini adalah mekanisme yang adil dan perlu. Tapi dalam kondisi di mana pengawasan lemah dan data tidak akurat ini bisa menjadi celah untuk menguras kas negara secara sistematis. Ketika Purbaya bilang ada yang tidak benar di hitungannya itu bukan kalimat ringan. Itu adalah indikasi bahwa ada kemungkinan restitusi yang seharusnya tidak dibayarkan tapi tetap dibayarkan. Atau restitusi yang nilainya dikembungkan. Dan itu artinya uang negara keluar ke kantong yang tidak seharusnya. Rp25 triliun neto ke industri batu bara saja. Bayangkan skala kerusakannya kalau ini terjadi di banyak sektor sekaligus. Purbaya sekarang mengambil tiga langkah serius secara bersamaan. Pertama investigasi internal terhadap lima pejabat paling tinggi yang mengeluarkan restitusi. Dua sudah dicopot hari ini. Tiga masih dalam proses investigasi. Kedua audit eksternal oleh BPKP untuk seluruh restitusi periode 2016 sampai 2025. Sepuluh tahun. Itu bukan audit kecil-kecilan. Itu adalah pembongkaran menyeluruh terhadap satu dekade pengelolaan restitusi pajak. Ketiga penghentian sementara restitusi yang bermasalah sambil menunggu hasil investigasi dan audit selesai. Sekarang pertanyaan yang paling penting dan paling sering tidak dijawab secara jujur. Apakah ini bisa terjadi di kementerian lain? Jawaban yang jujur adalah hampir pasti ya. Kemenkeu adalah kementerian yang secara historis punya sistem pengawasan internal paling kuat di antara semua kementerian Indonesia. Mereka punya inspektorat jenderal yang besar. Mereka punya tradisi reformasi birokrasi sejak era Sri Mulyani. Dan bahkan dengan semua itu dua pejabat tingginya bisa memberikan data yang salah kepada menteri selama setahun penuh tanpa ketahuan sampai menterinya sendiri yang mencium ketidakberesan di akhir tahun. Kalau Kemenkeu yang sistemnya relatif paling ketat pun bisa kecolongan Rp25 triliun bayangkan apa yang mungkin terjadi di kementerian lain yang sistem pengawasan internalnya jauh lebih lemah. Bayangkan apa yang mungkin terjadi di kementerian dengan anggaran besar tapi kultur akuntabilitasnya tidak sekuat Kemenkeu. Kementerian infrastruktur. Kementerian kesehatan. Kementerian sosial. Semua punya anggaran raksasa dan semua bergantung pada data yang dilaporkan oleh jajaran di bawahnya. Inilah yang disebut agency problem dalam teori manajemen publik ketika orang yang seharusnya melaporkan informasi akurat kepada atasannya justru punya insentif untuk memanipulasi atau menyembunyikan informasi tersebut. Dan di birokrasi Indonesia insentif untuk memanipulasi data itu sangat besar karena konsekuensi tertangkapnya sangat kecil dibanding keuntungan yang bisa didapat. Dan ada satu konteks yang membuat berita ini terasa jauh lebih berat dari yang terlihat di permukaan. Ini terjadi di tengah kondisi APBN yang sudah sangat tertekan. Subsidi energi sudah jebol 266 persen dari target dalam tiga bulan. Rupiah di Rp17.320 level terlemah sepanjang sejarah. Penerimaan pajak yang menjadi tulang punggung APBN sedang ditekan kondisi ekonomi yang melambat. Dan di saat yang sama Rp25 triliun neto keluar dari kas negara ke industri batu bara dengan hitungan yang menurut Menkeu sendiri tidak benar. Itu bukan angka kecil. Rp25 triliun adalah lebih dari separuh anggaran Kementerian Pendidikan untuk satu tahun penuh dalam beberapa tahun terakhir. Itu adalah puluhan ribu kilometer jalan desa yang bisa dibangun. Itu adalah ratusan puskesmas yang bisa dioperasikan. tindakan Purbaya mencopot dua pejabat dan membuka audit sepuluh tahun adalah langkah yang benar dan harus didukung. Keberanian mengakui bahwa ada yang salah di dalam institusinya sendiri adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi di kalangan pejabat Indonesia yang umumnya lebih memilih menutup masalah daripada mengeksposnya. Tapi satu tindakan tegas di satu kementerian tidak cukup untuk menjawab pertanyaan yang lebih besar seberapa luas praktik serupa terjadi di seluruh sistem birokrasi Indonesia? Dan siapa yang punya keberanian dan kapasitas untuk membuka semuanya?
Lambe Saham tweet media
Indonesia
100
908
3.1K
330.8K
PS retweetet
Faizal
Faizal@zalkad·
Rupiah melemah dan cara baca yang moderat Udah baca tulisan Pak Chatib Basri tadi pagi cuman butuh waktu lama buat dipikirin dan sialnya lagi banyak tanggapan yang miss terhadap tulisan beliau, memang perlu baca buku-buku pengantarnya biar bisa jump in. Tulisan beliau ini sopan santun sekali, jadi biar saya aja yang bagian "lancangnya", izin 🙏😏 Karena saya anak politik, maka framework saya ekonomi-politik ya. Thread bedah singkat. #ZalkadAnalisis
Faizal tweet media
Indonesia
32
529
1.5K
101.8K
PS retweetet
Sarah | fan account
Sarah | fan account@cloiskryptonite·
forever an icon
Sarah | fan account tweet media
English
67
22.8K
157.9K
4.3M
PS retweetet
txt keresahan WNI
txt keresahan WNI@KapudS640·
Saya sih nggak terlalu kaget soal isu sensitif istana yang lagi beredar. Yang justru bikin saya kaget adalah fakta bahwa ternyata Komdigi bisa secanggih itu. Bisa gerak cepat. Bisa responsif. Bisa menekan platform besar. Bisa bikin akses media sekelas YouTube/Google ikut kena tindakan (walaupun masih bisa diakses lewat VPN h3h3). Bisa bikin pernyataan resmi (padahal target subyek pembahasan di video bukan Komdigi, tapi Komdigi rela nyebokin). Bahkan bisa sigap ambil langkah hukum dan bisa bypass aturan MK soal pedoman UU ITE yang nggak bisa digugat oleh badan/instansi. Berarti kemampuan teknisnya ada. Dan kalau kemampuan itu memang ada, harusnya ruang digital kita bisa jauh lebih bersih dari sekarang. Harusnya iklan penipuan nggak semudah itu lewat. Harusnya nomor pribadi masyarakat nggak seenaknya dipakai SMS promosi. Harusnya data kita nggak gampang bocor lalu dipakai buat nawarin pinjaman, j*dol, investasi bodong, sampai lowongan kerja palsu. Harusnya platform-platform digital yang merugikan masyarakat juga bisa ditindak dengan kecepatan yang sama. Karena ternyata masalahnya bukan karena negara ini nggak punya alat. Alatnya ada. Jalurnya ada. Kapasitasnya ada. Cuma selama ini kita terlalu sering melihat teknologi negara bekerja cepat ketika yang terganggu adalah kekuasaan, bukan ketika yang dirugikan adalah masyarakat. Karena ternyata tombolnya memang ada. Cuma rakyat sering kebagian tulisan: “mohon menunggu”. Tapi yaa kita sama-sama paham lah ya, kenapa isu-isu krusial yang lain terkesan sulit diberantas. Sekelas warung remang-remang saja mesti "koordinasi" dulu biar bisnisnya tetap jalan. Paham kan ya.. cc:cakraadinegara
txt keresahan WNI tweet media
Indonesia
370
7.6K
20.3K
507.1K
PS retweetet
Cinema Tweets
Cinema Tweets@CinemaTweets1·
“You’re not a visionary: you’re a vendor.” The Devil Wears Prada 2 (🌟🌟🌟🌟) is outstanding. Meryl Streep is impossibly great. This is a sequel totally worthy of being made. Anne Hathaway, Emily Blunt, Stanley Tucci- the entire cast & crew- please take a bow. Without question, there are a number of reasons this movie is instantly one of my favorites of the year, but what surprises me most about Prada 2 is the story & the performances. The script is exceptional. The jokes are good. And every actor gets a chance to shine. This movie exceeded my stout expectations. See it immediately.  When The Devil Wears Prada released 20 years ago, it earned instant critical acclaim, Oscar nominations, box office glory, and cultural immortality. All that said, I think this sequel might be better. The reason I hold this belief is because Prada 2 pulls off things that most sequels are incapable of pulling off. The story pays tasteful homage to the original film but most importantly- it builds something new. This is not simply a rerun of the first film. No, this movie creates something of its own while still acknowledging the greatness that happened 20 years ago. The script is equal parts refreshing & nostalgic. Moreover, the screenplay manages to be funny & meaningful at the same time. It’s so rare for films- especially in today’s day and age- to pull all of that off.  The meaningful side of this story is the way in which Prada 2 tackles the changing corporate & economic landscape that’s consuming us all. Hell, Prada 2 tackles the changing world around us in full. We meet Hathaway’s Andy Sachs 20 years later as a renowned, award-winning journalist whose publication is bought-out within minutes of the film. Andy loses her job at the same time Meryl’s Miranda is caught in a massive PR scandal that results in Runway needing immediate help managing its public image. The idea here is that Andy is brought back to Runway to help fix the magazine’s bad PR while also adding some editorial substance.  But this film’s intelligence is acknowledging & exploring the idea that excellence & artistry, whether it be in either journalism or fashion or any field really, is on the chopping block. No one cares about true quality anymore- it’s all being lost. Real, meaningful art is being slashed across the board for cheap, bullshit “content”. How does Miranda Priestly, who’s built her career & her life on exploring excellence, deal with a world that is falling into a pit of mediocrity with no taste? This is a question worth answering. As Runway loses so much of its budget & so much of its vision under this collapsing world, how do Andy & Miranda combat that? It helps when Tucci’s Nigel and Emily Blunt’s…well, Emily (she is so funny in this film)….are around to help fight against the constant gravitational pull towards average, which is where the humor & nostalgia comes in. All of this results in a compact 2 hour story with a plot that never stops moving forward. Also worth mentioning? The production on this film is bonkers. Everything appears to be shot on location- whether in New York or in Milan. The wardrobe is just also out of this world- I can’t imagine the cost. And everything looks and feels real. It’s not just that the story is strong here- I found the filmmaking interesting too.  Now consider everything I just sad & smother it in fantastic acting. Great performances across the board from every last actor who appears in this film, from Kenneth Branagh to Justin Theroux. Everyone in this film is on the same page- everyone understood the assignment. No one mailed it in. Hathaway in particular is the perfect centerpiece for this film. She has not aged at all since the first movie- her smile is electric & her emotional range is as good as ever. But man…this movie starts & ends with Meryl Streep. At 76, Streep is so fucking commanding on screen. You hold your breath with her every word. You still see the glint in her eye that was there when she gave an Oscar-winning performance in Kramer vs. Kramer nearly 5 decades ago. In other words, she still has her 100 MPH fastball. Her performance & her iconic line delivery made me laugh & it almost made me cry. The entire film, I couldn’t help but marvel at Streep’s work. She is simply one of the best actors I’ve ever seen & she’s still at the top of her game.  I hope this movie smashes the box office to smithereens. Let cash fall from the sky. Let the popcorn flow. The Devil Wears Prada 2 just knocked it out of the park.
Cinema Tweets tweet mediaCinema Tweets tweet mediaCinema Tweets tweet mediaCinema Tweets tweet media
English
23
210
1.6K
122K
PS
PS@homodeuch·
@iPopBase apa sih kok tantrum
Indonesia
0
0
0
16
Indonesian Pop Base
Indonesian Pop Base@iPopBase·
Prabowo says “smart” people are free to leave if they believe the nation is moving toward a “dark age”: “Matanya buram, Indonesia gelap. Indonesia terang. Ada yang mau kabur, kabur saja. Kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman. Silakan. Mau kabur ke mana. Hei orang-orang pintar, bukalah berita, lihatlah kita ditempatkan sebagai tempat yang paling aman di dunia sekarang. Kabur saja deh. Iya, kabur saja, biar kita enggak gaduh.” (nasional.kompas.com/read/2026/04/2…)
Indonesian Pop Base tweet media
Indonesia
2.5K
4.7K
23.1K
3.7M
PS retweetet
Angga Fauzan 
Angga Fauzan @angga_fzn·
Kita pernah punya calon presiden yang mau memastikan setiap keluarga setidaknya punya 1 sarjana utk mengubah nasib keluarganya, memotong rantai kemiskinan. Kita pernah punya calon presiden yang peduli sama daycare di kantor agar ayah ibu yang harus bekerja tidak perlu was-was soal anaknya. Note: ini program 2 dari 3 calon presiden ya. Dan keduanya nampaknya berhasil sebagai sosok ayah dan suami yang baik untuk keluarganya, memberikan teladan bagi banyak orang yg fatherless, dan perempuan korban irresponsible husband.
txtdrimedia@txtdrimedia

kampus di Indonesia meluluskan sekitar 1,9 jt mahasiswa/thn, namun ketersediaan lapangan kerja sedikit kemendiktisaintek menyoroti jurusan keguruan, yg lulus 490 ribu/thn tapi kebutuhan guru hanya 20 ribu. hal ini menciptakan pengangguran terdidik pmerintah bakal fokus mengembangkan prodi yg selaras dgn pertahanan, maritim, hilirisasi , digitalisasi, energi, pangan, kesehatan, dan manufaktur

Indonesia
233
12.1K
27.6K
939.7K
PS retweetet
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
420
20.8K
51.6K
1.4M