๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰

4.1K posts

๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰ banner
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰

๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰

@ickyhp

๐Ÿ˜ด

Sumedang Beigetreten Nisan 2020
113 Folgt14 Follower
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰ retweetet
Betakopites
Betakopites@BetaKopitesยท
Orang luar nyanyiin lagu Indonesia seenak itu. Bahkan pas nyanyi kaya bukan orang luar. ๐Ÿ˜
Indonesia
20
367
2.7K
75.4K
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰ retweetet
Melodies & Masterpieces
Melodies & Masterpieces@SVG__Collectionยท
โ€˜Everybody Loves the Sunshineโ€™ is what perfection sounds like on a warm day.
English
35
852
3.3K
74.3K
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰ retweetet
ARES
ARES@RestuAwalliddinยท
Saya jawab dari POV saya pribadi ya mas. Opini ini tidak mewakili seluruh pendukung Persib, juga tidak terafiliasi dengan komunitas manapun. Murni pendapat saya sebagai Bobotoh sejak lama. Buat saya pribadi, Persib akan terus jalan dengan atau tanpa dukungan dari kalangan politik. Jadi nggak ada "profil gubernur ideal" yang spesifik yang saya harapkan. Yang jelas, sepakbola memang sulit lepas dari politik. Tapi sebaiknya para elit tidak ikut campur terlalu dalam perihal urusan klub. Secara de jure Persib milik PT PBB, tapi secara de facto Persib sudah jadi identitas masyarakat Sunda. Ada ikatan batin yang kuat di situ. Harapan saya sederhana, kerjakan tupoksi masing-masing dengan baik. Kalau kesejahteraan warga terjaga, infrastruktur oke, dan pembangunan berjalan, dukungan masyarakat termasuk Bobotoh akan datang dengan sendirinya. Perihal kemarin "sumbangan" uang yang ramai di media sosial, saya rasa itu jadi hal yang tidak perlu ada. Karena output-nya pun malah jadi terasa buruk. Uang 1M untuk tim sekelas Persib-tuh saya rasa 'sepele'. Bahkan kayanya hampir 'gak berarti' apapun. Bayangin kalo sumbangan-sumbangan tersebut dipake buat semisal akses yang lebih mudah untuk temen-temen supporter ke stadion? kaya shuttle gratis dari tengah kota ke GBLA yang bisa memfasilitasi supporter. Atau, "pojok" UMKM sekitar GBLA yang bisa digunakan dan bisa ngasih dampak ekonomi lebih baik untuk warga sekitar? kan yang bisa nikmatin gak cuma Persib doang, tapi masyarakat juga. Ditambah lagi, video dan hal tersebut "naik" pas lagi rame-ramenya problem jalan diponegoro yang mau ditutup permanen dan dijadiin taman sama Mulyadi. Makin-makin dah tuh. Terus yang saya perhatiin juga skena persuporteran Bandung tuh cukup vokal terkait isu-isu yang terjadi di masyarakat terutama Kota Bandung. Jadi, selama kerja dari elit politik ini enggak maksimal dan cenderung 'kurang', kalo memang ada elit politik yang mau 'coba', I guess they're welcome to try. Nggak perlu lah pakai Persib sebagai alat politik atau pencitraan. Karena kita semua sama-sama tau sifat asli Politisi di Indonesia ini seperti apa. Sudah jadi rahasia umum. Itu aja sih dari saya. Tetap respect sama siapapun yang jadi Gubernur pada akhirnya, tapi tolong kasih ruang buat Persib bernafas sebagai klub rakyat Jawa Barat.
Yoseph Samodra@yosephsamodra

@RestuAwalliddin serius nanya, gub harapan pendukung persib itu yg seperti apa, atau, realnya: siapa?

Indonesia
34
252
386
25.1K
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰ retweetet
โญ• Brock Pierson
โญ• Brock Pierson@brockpiersonยท
What do you think of when you see this logo?
โญ• Brock Pierson tweet media
English
428
186
2.9K
99.8K
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰ retweetet
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰ retweetet
kittypixels
kittypixels@kittypixels_ยท
Fortnite loading screens when your fat uncle comes in
kittypixels tweet media
English
80
9.8K
144.2K
1.2M
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰ retweetet
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedanยท
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap โ€œtidak bergunaโ€, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap โ€œtidak praktisโ€. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
350
15.7K
38.8K
910.8K
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰
@PRFMnews Teu kaharti jalan pikiran si bapak ieu kumaha. Memecah kemacetan lalu lintas teh nu aya jalan beuki macet ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰ tweet media
Indonesia
0
1
1
504
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰
@japarbiasaAja @RickyNSas Jalan nu alus jeung lampu harurung nu sia rasakeun teh duit na ti pajak masyarakat keneh kehed. Sia sangeunahna na ngomong ka batur eweuh kontribusi na. Kumaha mung aspal jeung lampu nu ku sia rasakeun ti pajak ti jelma nu kumaneh sebut eweuh kontribusi na?
Indonesia
0
0
4
295
Japarr
Japarr@japarbiasaAjaยท
@RickyNSas Wawadukan sia mah eweh kontribusinya keur Jabar ,lembur aing krek ngasaan jalan Alus lampu halurung keur jaman kdm pas ku si RK mah goreng anj saria ngajaredog wae goblog, bner goblog
Indonesia
78
0
3
19.9K
๐Ÿ‰๐Ÿ‰๐Ÿ‰ retweetet