
andi muhammad ikhlas
41.8K posts

andi muhammad ikhlas
@ikoMd
part of Eastern Integrated, Milisi & Cekrecphoto
Makassar, Sulawesi Selatan Beigetreten Nisan 2009
926 Folgt3.9K Follower
andi muhammad ikhlas retweetet

Kuliti lagi ah..
Klo blm viral dan di kuliti netizen masih aja Nir adab org² serakah model ginian.
Menyala yg punya 41 dapur MBG.
liputan6.com/regional/read/…
Indonesia
andi muhammad ikhlas retweetet

Pak @NataliusPigai2 saya setuju dgn bapak, seringkali profesor itu dibesar2kan saja. Sy izin mau belajar memahami HAM dari bapak. Sy mau diskusi dan debatkan satu persatu kasus HAM di indonesia yang katanya bapak udah amat pahami itu. Sebut saja kapan dan dimana sy bs belajar🙏
Indonesia
andi muhammad ikhlas retweetet

Lihatlah sekolah SD Negeri Bo'of Desa Kakan, Kecamatan Kuanfatu, Timor Tengah Selatan, Nusaa Tenggara Timur. Kondisinya sangat tidak layak! Akses jalan susah dan terpencil, atap bocor, dinding kayu bolong2, namun semangat anak2 untuk belajar tak pernah surut.
Catat! Walaupun mayoritas orang tua siswa tidak kaya raya, namun mereka masih mampu memberi makan anaknya tiap hari. Tapi kalau orang tua siswa disuruh bangun gedung sekolah yang layak, maka jelas TIDAK akan MAMPU!
Ini sudah tahun 2026, dan sudah 80 thun Indonesia merdeka, Apa pejabat pemerintah hingga kepala negara gak malu melihat kondis sekolah seperti ini ? Apa yang mau dibanggakan dari semua program yg ada kalau di negeri sendiri pendidikannya masih sangat jauh dr kata layak.
Pantas saja Indonesia tertinggal jauh pendidikannya jika dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Mirisnya, ditengah kondisi seperti ini malah dana pendidikan dipotong hingga 223 Triliun untuk MBG. Belum lagi gaji para guru masih kalah jauh sama tukang ompreng SPPG.
Negara ini benar2 TIDAK pernah menunjukkan kepedulian dengan pendidikan. Negara seperti ketakutan jika rakyatnya menjadi cerdas dan kritis. Mungkin jika rakyat cerdas dan kritis maka akan menjadi "bumerang" bagi para pejabat dan pemimpin bermental tikus.
Indonesia
andi muhammad ikhlas retweetet

andi muhammad ikhlas retweetet
andi muhammad ikhlas retweetet

Ada anak kecil di kampung saya, Ngada, Flores, meninggal bunuh diri. Anaknya dikenal cerdas dan ramah di sekolah. Dia meninggal karena putus asa. Sebelum pergi, dia cuma minta satu ke mamanya.
'Mama, saya minta buku dan pena'
Mamanya ga bs kasi dua hal itu lantaran kondisi ekonomi memburuk.
Mungkin buat penguasa dan media massa, anak ini cuma satu angka di dalam statistik. Bahkan bs jadi mudah dilupakan.
Tapi buat saya, anak ini jadi bukti nyata bahwa kita semua gagal bukan karena pengaruh asing. Kebanyakan kita semua gagal karena kita ga mau berbenah. Kita tetap memilih pemimpin yg itu2 aja. Kita tetap mempertahankan institusi yg diisi oleh orang2 itu aja.
Kita sibuk mencari kesalahan org lain, tp kita ga pernah mau sama-sama berjuang sebagai anak bangsa.
Pak Presiden, bapak selalu bilang kalo Bapak adalah presiden semua orang. Saya gak minta Bapak jadi NABI.
Saya minta bapak tidak membiarkan sistem yg uda bobrok ini semakin bobrok.
Belum pernah sesakit hati ini nulis postingan di media sosial.


Indonesia
andi muhammad ikhlas retweetet


sepakat min, salah satu gelandang terbaik dunia!
IDG@IDGoonerscom
Selamat ulang tahun yang ke-27 tahun buat salah satu gelandang terbaik dunia (versi saya), Declan Rice! Sehat-sehat, Rice! Dan semoga dikasih temen2nya kado yang manis subuh nanti.
Indonesia
andi muhammad ikhlas retweetet

andi muhammad ikhlas retweetet
andi muhammad ikhlas retweetet
andi muhammad ikhlas retweetet

Mikel Arteta was not meant to coach yet.
He finished his playing career quietly.
No farewell tour.
No coaching offers waiting.
Then Pep Guardiola called.
Manchester City.
Learning as an assistant coach.
Arteta arrived early every day.
Set up rondos.
Moved cones.
Adjusted spacing.
He stayed after sessions.
Studied build up patterns.
Defensive shapes.
Pressing triggers.
For three years, he learned beside Guardiola.
Listened more than he spoke.
Absorbed everything.
Arsenal took the risk.
First head coaching job.
One of the biggest clubs in England.
The squad was fractured.
Late arrivals.
Poor fitness.
Low standards.
Arteta wrote rules immediately.
Exact training times.
Dress standards.
Behavior expectations.
When players ignored them, he acted.
Removed captains.
Moved on senior names.
Results did not come fast.
Losses stacked up.
Fans turned.
He kept the plan.
Clear roles.
Clear principles.
Young players became leaders.
Saka.
Martinelli.
Saliba.
He rebuilt trust season by season.
Training intensity rose.
Consistency followed.
An FA Cup came first.
Then Champions League football returned.
Then title challenges.
From assistant with cones
To leader with conviction.
Not because he rushed the process.
But because he stayed firm.
Arteta's story shows:
success only follows high standards.

English















