Julendra Ariatedja

1.5K posts

Julendra Ariatedja banner
Julendra Ariatedja

Julendra Ariatedja

@julendra

just lecturer, happy father (and absolutely blessed husband) and try to be a good researcher.

Surabaya Beigetreten Ağustos 2008
791 Folgt341 Follower
Angehefteter Tweet
Julendra Ariatedja
Julendra Ariatedja@julendra·
ITS, UGM, UNY: Boyo dikadali !!!! .... ngawur !!!... Cerita Tentang Sapu Angin (7) [09/07 19:01] Oki WW: Final race DWC 2018 dihelat siang hari di musim panas London yang memang panas.… instagram.com/p/BlhG3SqHdv5/…
Indonesia
0
0
2
0
Julendra Ariatedja retweetet
Curious Minds
Curious Minds@CuriousMindsHub·
The Dunning-Kruger Effect
Curious Minds tweet media
English
11
608
2.5K
137.9K
Julendra Ariatedja
Julendra Ariatedja@julendra·
@hunter_tnok Maaf. Kayaknya ini berkaitan dengan budaya masing-masing yang berbeda. Manusia dan normanya mungkin sama, tapi tataran budaya jauh beda. Lain lubuk, lain belalang
Dukuh Pakis, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
37
0
1
16.7K
ペドハンター谷岡
ペドハンター谷岡@hunter_tnok·
日本人男性らがインドネシアで児童買春し、未成年の少女にNN(生中出し)したと自慢している。少女を「生体オナホール」呼ばわりし、人間扱いしていない。「ヤバいだろ年齢」「16歳くらいに見えた」「17歳」などの記述から、少女らが未成年であることを明確に認識した上で、行為に及んだことがわかる。
ペドハンター谷岡 tweet mediaペドハンター谷岡 tweet mediaペドハンター谷岡 tweet mediaペドハンター谷岡 tweet media
日本語
283
3.5K
10.5K
3.6M
Julendra Ariatedja retweetet
Yasir Ai
Yasir Ai@AiwithYasir·
🚨 Just IN: This paper from Stanford and Harvard explains why most “agentic AI” systems feel impressive in demos and then completely fall apart in real use. The core argument is simple and uncomfortable: agents don’t fail because they lack intelligence. They fail because they don’t adapt. The research shows that most agents are built to execute plans, not revise them. They assume the world stays stable. Tools work as expected. Goals remain valid. Once any of that changes, the agent keeps going anyway, confidently making the wrong move over and over. The authors draw a clear line between execution and adaptation. Execution is following a plan. Adaptation is noticing the plan is wrong and changing behavior mid-flight. Most agents today only do the first. A few key insights stood out. Adaptation is not fine-tuning. These agents are not retrained. They adapt by monitoring outcomes, recognizing failure patterns, and updating strategies while the task is still running. Rigid tool use is a hidden failure mode. Agents that treat tools as fixed options get stuck. Agents that can re-rank, abandon, or switch tools based on feedback perform far better. Memory beats raw reasoning. Agents that store short, structured lessons from past successes and failures outperform agents that rely on longer chains of reasoning. Remembering what worked matters more than thinking harder. The takeaway is blunt. Scaling agentic AI is not about larger models or more complex prompts. It’s about systems that can detect when reality diverges from their assumptions and respond intelligently instead of pushing forward blindly. Most “autonomous agents” today don’t adapt. They execute. And execution without adaptation is just automation with better marketing.
Yasir Ai tweet media
English
73
178
577
63.7K
Julendra Ariatedja retweetet
Rumail Abbas
Rumail Abbas@Stakof·
Saya masih di baris antrean imigrasi waktu itu. Lewat WA, saya dikasih tahu kalau sesampainya di Bandara Soetta langsung naik kereta bandara, turun nyari taksi Bluebird, dan menuju sebuah hotel. "Ke sini dulu saja. Nanti ke hotelnya ana antar." kata Zaid Al Athrus. Akhirnya saya mengikuti arahan itu, dan tiba di sebuah hotel di Jakarta yang ia sebut. "Kita coba makan makanan Iran." jawabnya. Koper masih saya tenteng kesana-kemari. Badan pun masih agak berkeringat karena Jakarta sangat panas. Capek. "Antum harus coba ini." Zaid menaruh beberapa daging, sayuran, dan menu-menu lain di satu piring lebar yang saya pegang. Baunya asing, tapi sedap. Kebetulan memang lapar, tapi Zaid memberi lauk terlalu banyak. "Akhi, ususku cuma sejengkal. Tak muat kalau makan semuanya." tandas saya, melihat Zaid menumpuki piring saya agak menggunung. "Antum perlu coba menu makanan orang Iran." ia mengulangnya lagi. Dan ternyata memang enak-enak. Entah rempah-rempahnya yang kuat, atau punya ingredients yang beda dengan masakan Indonesia, tapi lidah saya cocok saja. Di lantai sekian (lupa persisnya), ada forum tertutup. Kami bertiga naik lift ke sana: Pak Muhsin, Zaid, dan saya. Orang-orang di meja depan pada berbahasa Iran, dan saya belum memelajarinya. Saya juga melihat ada Prof. Said Aqil Munawwar dan Bib Hasan Dalil duduk di seberang tokoh-tokoh Iran itu. Host waktu itu adalah Mas Miftah, anaknya Kang Jalal. Saya duduk di belakang, pakai earphone yang mengeluarkan suara translator menerjemahkan bahasa Persia ke Indonesia. Pembicara waktu itu adalah: Mohamad Bagir Galibaf, orang yang di dalam foto di bawah ini mengarahkan jari, beramput putih dan menyambung ke jenggotnya yang memutih. Ia bicara setelah Dr. Hakim menyampaikan sepatah dua kata. Galibaf pernah menjawab sebagai Wali kota Tehran, kepala kepolisian Iran, dan panglima Angkatan Udara Garda Revolusiomer. Saat kami berpapasan (Zaid merangkulnya erat), ia menjabat di parlemen. Ketemu orang Iran asli membuat saya teringat dengan para Sadah di sana. Sayid yang sekaligus pejuang memang beda auranya, batin saya. Kadang saya ngobrol ke beberapa orang tentang kelucuan-kelucuan yang saya alami ketika riset ke luar negeri. Seperti di Iran, Sadah di sana punya haibah berbeda, haibah yang jarang saya "rasakan" di sini. Di darah mereka mengalir darah Kanjeng Nabi dan Sayidina Ali, tapi tidak hanya darah saja. Semangat perjuangannya pun mengalir di sana. Perpaduan dua hal ini, mungkin saja, yang membuat haibah-nya cukup berbeda ketika saya mendekati mereka. Bulu di tangan agak merinding, soalnya. "Di sana saya ketemu banyak Sadah yang di tangan mereka ada senapan," kisah saya, "setiap ucapan mereka berbobot karena menyatu dengan semangat perjuangan membela Palestina yang benar-benar mereka lakukan." "Nah, pulang ke Indonesia saya jadi kangen mereka." lanjut saya, "Karena di sini saya ketemu Sadah yang tangan mereka pegang tasbih dan bercerita tentang keramat kakek-kakeknya." Sontak kami tertawa. Ini hanya kenangan yang terlintas ketika foto ini nongol di linimasa saya. Jangan salah, haibah-nya para Sadah di sini juga terasa. Mungkin karena sering wiridan dan punya aurad khusus dari tarekat Alawiyah, ya. Tapi aura Galibaf memang beda.
Rumail Abbas tweet media
Indonesia
17
86
523
27.5K
Julendra Ariatedja retweetet
Iran Embassy in Sweden
Iran Embassy in Sweden@IRANinSWEDEN·
Iran has always been home to giants of knowledge. One of them? Avicenna (Ibn Sina). 🎵🧠 Watch this Lego clip (with a rap beat 🎧) and get to know him and his philosophy a little better.
English
288
4.8K
14.5K
327.8K
Julendra Ariatedja retweetet
How To AI
How To AI@HowToAI_·
🚨 OpenAI published a paper proving that ChatGPT will always make things up. it’s a structural property of how llms work. even with perfect data and infinite compute, the hallucination stays. openai, deepmind, and tsinghua university all just reached the same conclusion independently: hallucinations are permanent. here is why we are in trouble: we thought the models were getting smarter.. but they are actually getting worse at telling the truth. OpenAI’s own benchmarks show a scary trend: - o1 (reasoning model): 16% hallucination rate. - o3 (newer model): 33% hallucination rate. - o4-mini (newest): 48% hallucination rate. nearly half of what the latest model tells you could be a complete hallucination. as they optimize for complex reasoning and "pleasing" the user, the truth is getting left behind. why it’s "unfixable" the problem is at the neuron level. researchers from tsinghua recently identified "h-neurons”, tiny circuits that encode "over-compliance." llms are literally hard-wired to give you a fluent, confident answer rather than admit they don't know something. these neurons form during pre-training and survive alignment at a 97% stability rate. prompting won't fix it. fine-tuning won't fix it. our testing systems are broken. openai looked at the 10 biggest ai benchmarks. 9 out of 10 give the model zero points for saying "i don't know." it gets the same score for being honest as it does for being completely wrong. the entire industry is literally punishing honesty and rewarding lucky guesses. if openai forced chatgpt to only speak when it was 100% sure, it would refuse to answer 30% of your questions. users would quit overnight. so they chose "confidence" over "truth" to keep the product usable. this isn't just an openai problem. deepmind and tsinghua university independently confirmed the same thing. every time you get an answer from an AI, you aren't getting a fact.. you are getting a high-probability guess from a system that is terrified of looking stupid.
How To AI tweet media
English
4
7
11
2.4K
Julendra Ariatedja retweetet
Pink Bourbon
Pink Bourbon@pinkbourbon8898·
They're right for Japan, Korea, and Singapore. Those guys source 75% of refined products from the Persian Gulf. Hormuz closes, they bleed. But Indonesia is a different story entirely. Yes, Indonesia imports refined products. Pertamina's refining capacity doesn't fully cover domestic demand, so Pertalite and Solar get bridged through imports. The Hormuz shock hits that. Real exposure. What makes Indonesia different is this. Indonesia's actual risk from this isn't supply. It's fiscal. If oil prices spike because Hormuz stays closed, the government's subsidy bill for Pertalite and Solar expands. Wider deficit, rupiah pressure. That's the bear case for Indonesia, and even that's manageable. The bull case is what nobody is talking about. Indonesia runs B40 right now. 40% of every liter of diesel consumed domestically is palm oil biodiesel, not petroleum. When oil spikes, the incentive to push toward B50 or B55 gets stronger overnight. Import volume drops. Indonesia self-hedges using its own CPO supply. No other country in Asia has this. Not Korea, not Japan, not Singapore. Then there's coal. When Hormuz disrupts LNG and oil flows into Asia, the fastest lever available to power generators in Japan, Korea, and India is gas to coal switching. Indonesia is the world's largest seaborne thermal coal exporter. ADARO, ITMG, PTBA, BUMI don't suffer from this scenario. Export volumes go up. Realized prices go up. Royalty revenue to the government goes up. Same logic on LNG. Indonesia exports from Bontang and Tangguh. When Middle Eastern supply gets disrupted, the spot premium on non Gulf LNG widens. Indonesian cargoes price up. Same logic on CPO. High oil equals strong biodiesel demand globally equals strong CPO prices. Indonesia and Malaysia control 85% of global supply. You see, Indonesia pays more for refined product imports. Fiscal subsidy pressure rises. Rupiah is a watch item. Those are real negatives. But Indonesia earns more on coal exports, earns more on LNG spot, earns more on CPO, and reduces net petroleum import volume through accelerated biodiesel blending. The terms of trade move in Indonesia's favor, not against it. The conventional take is "Indonesia is a net oil importer so oil shock is bad." The correct take is Indonesia is a net energy exporter in the commodities that directly substitute for disrupted Persian Gulf supply. A sustained Hormuz closure improves Indonesia's aggregate energy trade position, not deteriorates it. Happy Sunday and Happy Easter.
HFI Research@HFI_Research

Goldman on oil.

English
91
1.2K
4K
870.4K
Julendra Ariatedja retweetet
🅿️ PakeDriver
🅿️ PakeDriver@mecomuhammad·
@pinkbourbon8898 Yup, we will start refining household kitchen oil into biodiesel
English
0
9
50
3.8K
Julendra Ariatedja retweetet
Global Times
Global Times@globaltimesnews·
From chasing a TV crew on a motorcycle as a teenager to beating Ducati and Yamaha on the world stage – Chinese entrepreneur Zhang Xue has witnessed his brand, ZXMoto, claim historic WorldSSP wins in just its second race weekend. #WorldSBK #ZXMoto
English
6
36
212
9.5K
Julendra Ariatedja
Julendra Ariatedja@julendra·
@BangBib4 @grok tolong buatkan solusi jangka pendek-panjang, utk petani, perantara, pembeli, maupun pemerintah
Indonesia
1
0
0
29
bib new edition
bib new edition@BangBib4·
Jadi begini warga yang Budiman dan budiwati menurut data BMKG ( bar mangan kudu guyon ) Tak jelaskan sedikit kenapa petani lebih memilih membuang hasil panen nya daripada memberikan ke orang lain yang kalian anggap lebih bermanfaat ,karena ini efeknya jangka panjang ,jadi jangan hakimi petani yang melakukan hal tersebut Saya kasih tahu sebab dan alasannya Saat panen melimpah, pasokan banjir tapi permintaan tidak ikut naik , harga bisa jatuh sangat rendah,saya kasih contoh ,misalnya harga Rp5.000–Rp15.000 per keranjang besar, sementara biaya keranjang + tali saja sudah Rp9.000–Rp11.000, Membuang lebih murah daripada memanen, mengangkut, dan menjual karena Biaya panen tenaga kerja+ transportasi ke pasar sering lebih besar daripada uang yang diterima.alias petani tambah merugi Memberikan Gratis Justru Bisa Merusak Harga Lebih Parah (Efek Pasar Jangka Panjang) Kalau petani bagi-bagi gratis dalam jumlah besar, masyarakat atau pedagang akan mengharapkan harga murah/gratis di masa depan. Ini membuat harga di pasar sulit naik kembali, bahkan saat pasokan normal. Petani rugi berkepanjangan karena pasar "terbiasa" dapat barang murah. Membuang sebagian hasil bisa mengurangi pasokan di pasar membantu harga stabil atau naik sedikit di kemudian hari,meski ini bukan solusi ideal. Biaya Logistik dan Penanganan yang Tinggi untuk Donasi Hasil tani seperti sayur dan buah sangat mudah busuk ,umur simpan pendek, butuh pendingin Memberikan gratis memerlukan akan biaya lagi Panen manual (biaya tenaga kerja). Pengemasan yang layak. Transportasi ke tempat distribusi (masjid, panti asuhan, atau kota). Petani kecil biasanya tidak punya infrastruktur itu. Kalau dipaksakan, biayanya bisa lebih besar daripada nilai barangnya. Di daerah terpencil, akses pasar saja sudah susah, apalagi distribusi donasi. Tidak Ada Pembeli Tetap atau Infrastruktur Penyimpanan Banyak petani bergantung pada tengkulak atau pasar lokal. Saat harga anjlok, tengkulak pun enggan beli. Tidak ada gudang pendingin skala kecil yang murah , barang cepat rusak kalau ditahan. Memberi gratis dalam volume besar juga tidak realistis karena orang yang mengambil biasanya terbatas, sementara hasil panen bisa puluhan ton. Petani Harus Tetap Hidup dan Bayar Hutang Petani punya biaya tetap pupuk, bibit, sewa lahan, hutang ke tengkulak/bank, kebutuhan keluarga. Kalau terus rugi karena bagi gratis, mereka tidak bisa tanam musim berikutnya bisa bangkrut total. Membuang adalah cara "mengurangi kerugian lebih besar" agar bisa bertahan untuk musim depan. Dalam case ini contoh timun itu dibuang disungai ituungkin hanya sebagian saja ,karena mereka juga harus berpacu dengan waktu untuk pengolahan lahan untuk ditanami kembali dan mengurangi kerugian dari mengeluarkan biaya transportasi Petani bukan mau membuang hasil kerja kerasnya. Mereka terpaksa karena ekonomi yang keras,biaya > pendapatan, plus risiko merusak pasar jangka panjang kalau dibagikan gratis secara masif. Ini masalah struktural pertanian Indonesia , fluktuasi harga, ketergantungan tengkulak, infrastruktur lemah, dan rantai pasok yang tidak fleksibel. Solusi jangka panjang hilirisasi (olahan makanan), koperasi petani yang kuat, gudang penyimpanan, kontrak langsung dengan buyer besar, atau program pemerintah yang serap surplus saat panen raya. Tanpa itu, fenomena ini akan terus berulang setiap musim panen melimpah. Paham ya sampai disini ,atau ada tambahan lagi ?
Nakula@03__nakula

Pedagang membuang Timun ke sungai karena murah dan gak laku. Padahal kalo disumbangkan ke panti² asuhan atau pesantren pasti pada mau, gak mubazir kek gini. 🥹

Indonesia
452
5.3K
20K
1.3M
🚗💨
🚗💨@apansa_kalengs·
Buat kalian pengguna ford fiesta dan ecosport matic usahakan beli OBD2 buat mantau cooling sistem dan simpan APAR di mobil. Karna mobil kalian tuh gak cocok hidup di daerah tropis kayak indo gini. Satu tips dari saya, - sebelum perjalanan jauh usahakan dipanasin, pancing dulu suhunya sampe naik di 100°. Suhu normal ford fiesta/ecosport ini di range 85-105° lewat dari suhu itu mobil dipastikan overheat, ac jadi panas kayak hatinya pisces kalo lagi cemburu liat mantan gebetannya jadian sama yang lain. Wkwkw.. dan kemungkinan bisa mogok. ini memakan waktu hampir 30menitan. Nah kalo suhu udah naek sampe 100 nanti akan turun sendiri, barulah pakai buat jalan. Ini sangat direkomendasikan harus pakai OBD2 ya.. buat mantau temperatur mesin dan aki, dan lain2. Kalo udah dipancing kayak tadi, dipake Macet2an contraflow pun insyaallah aman. Saya tiap mau melakukan perjalanan jauh, selalu melakukan ritual ini dan mobil diajak macet2an di cipali perjalanan dari kebumen - jakarta kena macet hampir 30 jam dan mesin ngga mati, kecuali isi bensin, alhamdulillah aman dan ac tetep dingin. - Hindari jalur contraflow. yang namanya mesin, kadang kita ga akan tau kondisi mesin DCT itu seperti apa? Kadang seperti moodnya perempuan pisces kalo lagi ngambek. Kadang sayang, kadang minta dimanja, kadang tiba2 dateng ke kosan bawain makanan, kadang ngambek, ngilang, dan ninggalin pas bangun tidur. Wkwk.. nah mesin DCT di daerah tropis kira2 seperti itu, kalo lagi enak ya enak, nggak rewel, kadang tiba2 suka overheat tanpa sebab. - Jangan lupa pasang APAR dan palu pemecah kaca. Untuk meminimaisir hal-hal yang tak diinginkan. Kenapa harus palu? Ford, hampir semua sistem itu lewat listrik, di tahun segitu dia bisa dibilang canggih. Pintu dan kap mesin belom rapet pun sensornya ngasih tau. Biasanya kalo ada kejadian nabrak dan kelistrikan pintu eror, fungsinya palu ya itu buat mecah kaca. - Selalu bawa cairan coolant 5 liter di bagasi 🤣 Seribet itu mint harus dipancing dulu? Ya memang, mobil ford seribet itu, sensasi tantanganya ya di situ. Tapi kalo soal performa? Jangan tanya. Wkwk..
Indonesia
84
281
1.3K
176.6K
Julendra Ariatedja retweetet
SightBringer
SightBringer@_The_Prophet__·
⚡️Starship is the most important machine on Earth because it is the only serious bridge between a trapped species and a spacefaring one. That is the real truth. Everything else is downstream of lift cost. Moon bases, Mars cities, orbital industry, space solar, off world mining, deep space telescopes, mass drivers, lunar factories, all of it stays trapped in PowerPoint until you can move huge amounts of mass off Earth cheaply, repeatedly, and at industrial cadence. Starship is the attempt to break that lock. If it works, the future stops being metaphor and starts becoming logistics. That is why people respond to it like a symbol. They can feel that it carries more than hardware. Modern civilization has become psychologically small. It worships management, caution, compliance, and local optimization. Starship says scale again. Build again. Risk again. Leave again. In a world trained to think inside ceilings, that feels almost religious. The deeper reason it matters is power. A civilization that stays bound to one planet stays bound to one set of bottlenecks. One gravity well. One biosphere. One grid. One political surface. One set of supply chains. One cluster of elites deciding what is possible. A civilization that can industrialize beyond Earth changes the structure of power itself. More energy. More room. More redundancy. More survival. More strategic depth. More future. That is why Starship is so much bigger than SpaceX. It is the opening bid for off world industry. Once heavy lift becomes cheap and routine, the moon becomes operational. Once the moon becomes operational, infrastructure begins. Once infrastructure begins, throughput replaces spectacle. Then the human story stops being purely terrestrial. The real view is brutal and simple. If Starship succeeds, the ceiling over the species cracks. If Starship fails, humanity remains psychologically and physically trapped longer than people understand. Bottom line: People love Starship because they can feel that it is carrying more than cargo. It is carrying the claim that humanity does not have to accept a smaller destiny.
X Freeze@XFreeze

Starship is the Hope that our future is bigger than our past It will enable us to build a civilization beyond Earth - a true multi-planetary civilization among the stars

English
556
565
3.6K
58.3M
Julendra Ariatedja
Julendra Ariatedja@julendra·
@NyaiJagat Bukannya biasanya yang meledak mobil listrik ya?
Gayungan, Indonesia 🇮🇩 Indonesia
0
0
0
17
Nyai Jagat
Nyai Jagat@NyaiJagat·
Bagi yg sedang dalam perjalanan mudik lebaran Idul Fitri 1 Syawal, jika sedang mengisi BBM, jangan isi dengan pintu mobil terbuka 😎
Indonesia
191
420
2.1K
204.3K
Tips Excel
Tips Excel@gudanglifehack·
Prompt: Create a technical infographic of [OBJECT] with a 45-degree isometric 3D perspective showing the device slightly tilted to reveal depth and dimension. Combine a realistic photoreal render with black ink technical annotations on pure white background. Include: Key component labels with color-coded callout boxes Internal component visibility through transparent/
Tips Excel tweet mediaTips Excel tweet mediaTips Excel tweet media
English
67
955
6.1K
314.2K
Julendra Ariatedja retweetet
The Figen
The Figen@TheFigen_·
We have much to learn from children. Two victories: she won the match and she won when she transformed her opponent's sadness into a smile.
English
415
4.5K
36.6K
711.7K
Julendra Ariatedja retweetet
tito alba
tito alba@groobaag·
Perempuan Montir Vespa! Bu Aphin sudah 35 tahun bekerja sebagai montir Vespa. Mulanya hanya dari ingin tahu, terus otodidak, mesin Vespa yang menurutnya “sederhana tapi menarik.” Bu Aphin menangani dua sampai lima motor setiap hari. Mulai dari bongkar mesin hingga mengecat. Dunia otomotif yang didominasi laki-laki, Bu Aphin memilih untuk eksis. [dw_nesia] #LawanArus #dwidn25 #Vespa
Indonesia
24
72
298
7.8K
Julendra Ariatedja retweetet
Learn Something
Learn Something@cooltechtipz·
This... isn't moving even a millimeter. And yet, the brain is being completely deceived
English
200
1.3K
7K
1M
Julendra Ariatedja retweetet
Colm Downes
Colm Downes@ColminIndonesia·
Indonesia might be the only country in the world where the fast lane is the slow lane, the slow lane is the fast lane — and the hard shoulder is for overtaking.
English
211
585
2.8K
135.7K