
ꦩꦭꦏꦥ꧀
7.6K posts

ꦩꦭꦏꦥ꧀
@malakaf46
'09 | wisata kuliner🗺 | resigning from work




Jakarta dan gaji Rp3 juta. Gue mau sharing gimana caranya survive 8 tahun di ibu kota dengan uang sekecil itu. Tulisan ini bakal panjang karena gue juga membahas upah layak dan skill manage uang. Semoga lu baca secara utuh biar paham. Yuk kita diskusi bareng! Gue merantau ke Jakarta di 2018 buat kuliah Jurnalistik. Gue orang miskin dan sandwich generation. SMA pakai beasiswa miskin, kuliah juga gratis karena Bidikmisi. Kerja pertama 2021-2022 sebagai wartawan olahraga di Jaksel. Gue kerja sebelum lulus kuliah karena diminta lanjut jadi karyawan kontrak sama tempat magang. Gajinya Rp4 juta di saat UMP Jakarta Rp4,4 juta. Kost gue dari 2018-2023 itu di Depok, Jawa Barat seharga Rp600 ribu. Tepat di belakang kampus. Karena kantor gue di Jaksel, gak perlu pindah kost. Dekat cuma 13 km, masih di bawah 30 menit naik motor. Kerja kedua di 2022 sebagai wartawan ekonomi. Pindah kantor, tapi masih sama-sama di Jaksel. Kali ini jadi karyawan tetap dengan gaji Rp5 juta. Sedikit di atas UMP Jakarta yang saat itu Rp4,6 juta. Nah, kantor kedua ini cukup oke. Gajian 14 kali dalam setahun (ada THR dan bonus). Pulsa, BBM, servis kendaraan, dan hal-hal yang berhubungan dengan kerjaan dapat reimburse. Gue belum punya skill manage uang saat itu. Duit gajian selalu habis, sekitar Rp3 juta buat kebutuhan bulanan dan Rp1 juta sisanya ngirim ke kampung. Ada bapak yang sudah gak kerja dan adik perempuan menuju kuliah. Sampai akhirnya gue pindah kost ke Jakarta Barat di 2023 akhir. Dapat dari aplikasi, harganya Rp885 ribu include listrik. Jangan berharap kost layak atau mewah, ini lebih cocok disebut tempat tidur doang. Masih belum ngerti manage uang. Gue baru ketampar realita pas Juni 2024, di saat sadar sama sekali gak pegang dana darurat. Padahal, gue kerja sudah 3 tahun. Industri media juga gak stabil, lu bisa kena PHK kapanpun. Sejak saat itu, gue mulai belajar manage uang. Lu pasti bilang, "kalau uangnya sedikit apa yang di-manage?" Betul, tapi saat itu gue gak punya pilihan. Gue gak punya side hustle atau sumber pemasukan selain gaji. 1. Skill manage uang a. Catat pengeluaran Pengeluaran utama setiap bulan pasti gak beda jauh. Gue catat dan budgeting, ketemu angka Rp3 juta. Itu gak boleh diganggu gugat biar gue tetap survive di Jakarta. Setiap pengeluaran dari rekening juga selalu gue catat. Beli makan, beli galon, beli BBM, beli kopi, apa pun pasti gue tulis di notes HP. Jadi, gue bisa track uangnya lari ke mana dan sisa berapa. b. Pisah rekening Gue akhirnya pakai 2 rekening. Satu buat operasional dan satu lagi tempat simpan dana darurat. Pisah rekening juga penting buat membentuk habit nabung. Tadinya, gaji Rp5 juta itu gue ambil sisanya buat dimasukkan ke tabungan. Sekarang gue potong duluan di awal. Gue tabung Rp1 juta setiap bulan di rekening yang berbeda. Gak gue sentuh sama sekali. c. Tahu diri Kalau masih miskin, jangan semua hal berbayar diikuti. Gak perlu nonton konser, ngopi cantik, nge-mall, langganan aplikasi, gym, dan hal-hal tersier lain. Fokus lu survive dulu dengan memenuhi kebutuhan primer. Cari kegiatan sosialisasi yang minim bahkan nihil budget. Ada banyak kok komunitas gratis di Jakarta: olahraga, baca, seni, ngaji, dan lain-lain. Sebisa mungkin cari yang bisa nambah relasi dan peluang kerjaan. Orang miskin juga jangan mikir cinta-cintaan. Selama 4 tahun kerja di media, gue gak punya pacar. Gak kepikiran juga untuk nikah. Mau tinggal di mana? Rumah gak punya. Mau dikasih makan apa anak orang? Mikir! 2. Upah layak Gue baru dapat upah yang agak layak di November 2024, gaji naik dari Rp5 juta ke Rp7 juta. Beruntung gue saat itu sudah ngerti cara manage uang, jadi gak kaget ketika gaji naik. Banyak orang saat gajinya naik, gaya hidup juga naik. Itu tandanya punya mental miskin. Belum punya target keuangan yang jelas. Harusnya, semua disiapkan sedari dini. Apa yang mau lu capai di dunia? Catat setiap checkpoint-nya. Pengeluaran gue sampai sekarang tetap dikontrol di kisaran Rp3 juta. Target finansial gue adalah nabung dana darurat. Bahkan, kenaikan gaji bikin porsi nabung gue bertambah jadi Rp3 juta per bulan. Gue akhirnya punya dana darurat Rp50 juta setelah 17 bulan. Apa gue sekarang sudah kaya? Masih jauh dari target, tapi gue terus bertumbuh setiap harinya. Dan apakah upah layak itu diberikan cuma-cuma? Sayangnya, enggak. Sistem partai politik (parpol) dalam demokrasi Indonesia cuma akan memperkaya golongan tertentu. Setiap presiden atau kepala daerah yang lu pilih, fokusnya cuma mikir gimana caranya balik modal. Setelah itu, mengumpulkan uang kampanye buat pemilu selanjutnya. Siklusnya akan begitu terus kalau masih pakai sistem parpol. Mau siapa pun presiden lu, semuanya bakal sableng karena 'kontrak darah' sama partai politik. Apalagi, presiden yang ketua parpol. Lihat saja program kerjanya aneh banget (MBG, Kopdes, Sekolah Rakyat, dll). Tujuannya adalah memainkan emosi orang miskin, seakan-akan berpihak pada rakyat. Program populis itu sama sekali gak gratis. Pejabat itu pamrih, berharap nantinya mereka akan dipilih lagi dan lagi. Itu juga yang bikin gue resign dari pekerjaan bergaji Rp7 juta dan membuat Media Sabtu Minggu (MESATU). Gue memulai dari nol, tanpa investor sama sekali. Cuma demi bisa menulis dengan lepas, tanpa sensor sana sini. Orang yang kenal gue tahu bagaimana jujurnya berita yang gue tulis. Bodo amat pemerintah itu klien atau bukan, kalau salah ya salah. Gue selalu menulis sesuai fakta. Itu memang tugas wartawan, sekaligus jalan perjuangan gue membela rakyat banyak. Jadi, memperjuangkan upah layak adalah hak dan kewajiban kita semua. Ada banyak cara yang bisa lu tempuh. Misalnya, gue berjuang lewat tulisan dan beberapa kali turun aksi. Gue yakin lu juga punya jalan perjuangannya sendiri. Api perjuangan itu jangan sampai padam, tapi kita gak boleh cuma diam berharap ke pemerintah yang budek. Kita harus bergerak paralel dengan ikhtiar mencari sumber-sumber pemasukan lain. Lu pikir dari mana MESATU bisa survive tanpa investor? Ya gue belajar ngulik medsos dan join program monetisasi X. Sedikit-sedikit bisa menghasilkan dolar. Kalau badan lu masih segar bugar, gerak! Gak boleh pasrah sama keadaan. Lapangan pekerjaan formal emang lagi susah, gue pun kelempar ke informal. Orang dewasa itu harus sadar mana yang bikin kaya dan enggak. Kalau ada hal yang menghasilkan ya tekuni. Semisal lu masih punya pekerjaan utama, tambah dengan side job. Jangan puas dengan satu sumber pemasukan. Mungkin lu boleh puas cuma kerja dan mengandalkan gaji kalau pemerintah akhirnya waras. Ketika tuntutan-tuntutan kita didengar, upah layak diberikan. Saat itu semua masih jauh dari kenyataan, lu harus terus melawan. Apa lu pikir teman-teman wartawan itu cuma punya satu kerjaan? Salah besar! Mereka kerja 24/7 cuma digaji Rp5 jutaan, jauh dari kata layak. Nyambi kerjaan lain, ada yang jadi content creator, ikut WO, affiliate, dagang. Apa saja dikerjakan demi hidup cukup. Poin gue, kita semua gak boleh cuma jalan di satu sisi. Harus terus menuntut upah layak, sambil membuka diri dengan peluang untuk mendapatkan pemasukan lain. Selagi gak jadi buzzer pemerintah sih gasss. Kalau pengeluaran dan gaya hidup lu tinggi, pemasukan lu juga harus besar. Jangan mau bertahan dengan gaji Rp3 juta di Jakarta. Tambah skill lu, perluas relasi, jajal kerja informal, apa pun yang penting nambah duit.



Living abroad benar-benar mengubah perspektif & cara berpikir gue. Ternyata, kita bisa mulai APAPUN dari nol tanpa melihat usia. Standard sosial di Indonesia jadi terlihat toxic. Tentang, usia sekian harus lulus S1, usia sekian harus kerja, menikah, punya anak, yadda-yadda.



Kok ga bisa proceed ikut penawaran awal IPO nya $JELI? Hihi 😂





unpopular opinion: salah satu investasi terbaik in this economy adalah langganan cenblue









