
She
2.2K posts



Apakah orang dengan mental illness itu lemah? Atau… selama ini kita cuma terlalu terbiasa meremehkan hal yang nggak kelihatan? Banyak dari kita masih percaya kalau masalah mental itu soal ‘kurang kuat’, ‘kurang iman’, atau ‘kurang bersyukur’. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu. Aku harap thread ini bisa sampai ke orang-orang yang lagi butuh—atau setidaknya, ke orang-orang yang selama ini tanpa sadar pernah meremehkan. Kalian yang sudah terdiagnosis mental illness, pasti nggak asing sama momen ini: Lagi capek banget, lagi berusaha bertahan, akhirnya memberanikan diri buat cerita… tapi yang didapat malah: ‘Coba mindset-nya diubah’ ‘Kurang bersyukur kali’ ‘Dibawa santai aja’ ‘Jangan overthinking’ Seolah-olah semuanya sesederhana memilih untuk “berpikir positif”. Padahal pertanyaannya: Apakah penyakit mental sesederhana pola pikir yang salah? Jawabannya: nggak. Secara scientific, mental illness itu brain-based disorder. Artinya, ada proses biologis yang benar-benar terjadi di otak—melibatkan neurotransmitter seperti serotonin, dopamine, dan sistem regulasi emosi yang kompleks. Ini bukan sekadar ‘pikiran negatif’ yang bisa dimatikan dengan kemauan. Ada dysregulation nyata dalam cara otak bekerja. Bahkan dalam studi neuroimaging (MRI/fMRI), terlihat adanya perbedaan aktivitas di area otak tertentu pada beberapa kondisi mental. Makanya ada terapi. Makanya ada psikiater. Makanya ada obat. Karena ini kondisi medis—bukan sekadar “kurang kuat”. Kalau semuanya bisa selesai dengan ‘ubah mindset’, bidang psikiatri nggak akan pernah berkembang. Dan orang-orang nggak akan berjuang sekeras itu hanya untuk sekadar “merasa normal”. Jadi mungkin, lain kali sebelum bilang: ‘coba lebih positif’ ‘jangan dipikirin terus’ kita bisa mulai dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana— dengerin. Tanpa menghakimi. Tanpa meremehkan. Tanpa merasa paling tahu. Karena buat sebagian orang, bangun dari tempat tidur aja sudah butuh tenaga yang luar biasa. Dan bertahan hidup sampai hari ini… itu bukan kelemahan. Itu usaha yang nggak semua orang bisa lihat. #HealingIsNotLinear






Guys... ini akan jadi pertanyaan yang sediki panjang. Di umur berapa kalian memutuskan untuk berhenti menyalahkan orang tua untuk didikan, perlakuan, yang cukup membekas sampe sekarang? Kaya.. kefikiran aja karena at some point somehow we gotta stop blaming our parents for all the things they did in order to keep going in life. Bukan untuk membenarkan perlakuan, tapi untuk memaafkan. Karena w percaya kalo rasa maaf gak bisa timbul, itu marah yang ada dalem diri kayanya gak bakalan selesai-selesai sampe kapanpun. Cause I also believe that we can't change the past and live in the fear of it either. Emang gak akan pernah adil. Karena kita juga hidup baru pertama kali. Cuma, kadang jadi mikir juga kalo kondisi tersebut adalah kali pertama mereka jadi orang tua. Untuk hidup dengan ketidakstabilan, rasa takut, dan harapan yang cuma jadi angan kayanya kalo ada di posisi merekapun di saat itu akan susah untuk bisa berlaku 'adil'. Well... at least ini buat saya pribadi. Cuma jadi kefikiran kalo kalian gimana?

NORMALISASI OUTFIT ISTRI SEPERTI INI






