rajapatni

8.9K posts

rajapatni banner
rajapatni

rajapatni

@smilingrainp

just me and my self berisik sendiri

Beigetreten Ekim 2020
116 Folgt40 Follower
ℳ𝘪𝘰
ℳ𝘪𝘰@cigafteronu·
MAU NULIS KICAU BURUNG NGAPE JADI KICAU MANIA ANJIR 😭😭
ℳ𝘪𝘰 tweet media
Indonesia
441
7.3K
44.7K
500.9K
txt dari jogja
txt dari jogja@txtfromjogja·
HEIIII, seperti biasaa teman-timunn, ada update nih info pameran seni di Jogjaaaa👨🏼‍🎨👩🏼‍🎨 banyak yang baruuuu, total list ada 31😭 gasss check it outttt🎭🎨
Indonesia
23
196
1.2K
58.8K
rajapatni retweetet
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
Kartini dan Al-Fatihah (Tafsir Alquran Perdana di Nusantara dalam Bahasa Jawa dengan Aksara Arab) "Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibacanya. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya. Aku pikir, tidak jadi orang saleh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu, Stella?” (Surat Kartini kepada Stella Zihandelaar, 6 November 1899) Pada sekitar awal 1900-an (saat Kartini masih remaja), keluarga Bupati Jepara berkunjung ke rumah paman Kartini, Pangeran Ario Hadiningrat, Bupati Demak. Di pendopo kabupaten, digelar pengajian yang diisi oleh KH Sholeh Darat (Mbah/Kyai Sholeh Darat atau Syekh Sholeh bin Umar as-Samarani), ulama besar asal Darat, Semarang yang juga guru bagi KH Hasyim Asy’ari dan banyak tokoh NU. Kyai Sholeh sedang menjelaskan tafsir Surah Al-Fatihah secara mendalam dalam bahasa Jawa yang lugas dan mudah dipahami. Kartini, yang sebelumnya hanya hafal Al-Fatihah tanpa memahami artinya (ia pernah merasa “gelap” karena guru sebelumnya marah saat ia bertanya maknanya), langsung tertegun. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian, tak bisa memalingkan pandangan, dan merasa “terang benderang” untuk pertama kalinya, seolah menemukan cahaya spiritual yang selama ini dicarinya. Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk bertemu langsung dengan Kyai Sholeh. Ia mengungkapkan kekagumannya dan bertanya mengapa Al-Quran tidak diterjemahkan ke bahasa Jawa agar umat bisa memahaminya sebagai pedoman hidup. Kyai Sholeh tergerak oleh pertanyaan dan semangat Kartini. Beliau kemudian menyusun tafsir Al-Quran dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab Pegon (untuk menghindari kecurigaan Belanda yang melarang penerjemahan Al-Quran). Inilah kitab tafsir Alquran perdana di Tanah Air yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab, berjudul lengkap "Faid ar-Rahman fi Tarjamati Tafsir Kalam al-Malik ad-Dayyan" (atau Faidhur Rahman / Faidlur Rahman). Bagian awal yang selesai (dari Al-Fatihah hingga Surah Ibrahim, sekitar 13 juz) diberikan oleh Kyai Sholeh Darat kepada Kartini sebagai kado pernikahan. Kartini mempelajarinya dengan sangat serius dan menganggapnya sebagai hadiah yang tak ternilai harganya. Kisah ini turut memengaruhi semangat emansipasi dan buku ikoniknya “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Kartini adalah perempuan yang kritis, muslim yang substantif, tidak mau terjebak dalam ritual agama semata-mata. --- Tidak hanya kritis dalam isu agama, Kartini juga kritis dalam isu sosial, budaya, dan isu penting lainnya pada masa itu, terutama yang berhubungan dengan perempuan. Kesadaran kritisnya ini terjadi pada tahun 1891 hingga 1904 (akhir abad 19 sampai awal abad 20), dari masa remaja sampai meninggal, yang dituangkan dalam bentuk surat-surat. Hasil pemikiran kritisnya ini yang terus lestari sampai abad 21 sekarang. Masa remaja Kartini berada dalam tradisi pingitan, yang membuatnya terkurung di rumah. Yang kemudian membuat dirinya banyak membaca, belajar meningkatkan kemampuan bahasa Belanda sendirian, dan mulai mengembangkan pemikiran dengan berkorespondensi melalui surat untuk mencari ilmu dan mengungkapkan pikiran-pikirannya. Surat-surat Kartini secara keseluruhan ditulis antara tahun 1899 hingga 1904 (sampai menjelang wafatnya). Surat pertamanya yang tercatat dan diterbitkan adalah tertanggal 25 Mei 1899, yang ditulis dirinya saat berusia 20 tahun di Jepara kepada E.H. (Stella) Zeehandelaar, seorang aktivis sosial Belanda yang menjadi sahabat pena pertamanya. (Link referensi di utas berikutnya)
Indonesia
4
72
188
26.7K
Video & Arsip Sejarah
Video & Arsip Sejarah@VideoSejarah·
Hotel Palembang di Palembang, sekitar tahun 1905-1920. Kabarnya adalah hotel pertama di Palembang, memiliki dua lantai dengan 10 kamar di setiap lantai. Pada perang kemerdekaan, bangunan ini sempat menjadi markas para pejuang Indonesia.
Video & Arsip Sejarah tweet media
Indonesia
6
19
82
3.6K
rajapatni
rajapatni@smilingrainp·
@malikarrahiem kupikir dia dulu ada keturunan korea2nya wkwk, anyway dalam perjalanannya ada tokoh local yg dikredit juga ga dalam karyanya
Indonesia
0
0
1
30
Chasing Peatland 🇵🇸
Chasing Peatland 🇵🇸@malikarrahiem·
Saya mau giveaway 5 eksemplar buku biografi Franz Junghuhn. Cara ikutannya mudah aja, komen atau quote twit ini dengan hal2 yg kamu ketahui atau yg ingin kamu ketahui mengenai Franz Junghuhn.
Chasing Peatland 🇵🇸 tweet media
Indonesia
37
24
63
3.9K
rajapatni retweetet
mees
mees@iwillbebacks00n·
in the phrase "ibu kita kartini" but she was only 25, she was young, she had big dreams that she couldnt make it herself 🥹 we made it together bu ❤️‍🩹 now we as a women, can get higher education as much as we can ❤️‍🩹❤️‍🩹
Kumis 🌼🩵 VtuberID@kumisaster

ngeliat cerita ini dan selalu bilang "Ibu Kartini" but in reality she was only 25 years old when she died..... 🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺 oh she was just a baby, she must have been so scared......

English
0
30
163
3.3K
rajapatni
rajapatni@smilingrainp·
@itbfess_x kabarin dong takutnya terjadi apa2 selama di jalan since im the last person u met
Indonesia
0
0
0
28
ITBFess - kirim menfess di itbfess.wtf
itb! kadang kalo pulang malam gitu, orang2 bilang "kabari ya kalo udah sampai" itu tuh beneren atau cuma basa basi aja? jujur gak pernah gue lakuin soalnya bingung ngabarinya gimana. cuma ngechat ttg hal random aja biar tau konteksnya gue udah aman atau santai karna bisa ngechat.
Indonesia
418
52
3K
172.6K
rajapatni
rajapatni@smilingrainp·
@malikarrahiem kak era Hindia Belanda ada ga geolog, botanis atau naturalist local?
Indonesia
0
0
0
5
rajapatni
rajapatni@smilingrainp·
@pergijauhkealam di buku des alwi juga di mention soal orang kita dulu nyari mutiara sampe ke australia, bahkan ada orang jepang juga yg ikutan seruu dehh berasa dibawa masuk ke zaman itu. bukunya des alwi-friends and exiles
Indonesia
1
0
8
1.8K
Daf - Kang Cerita, Kang Gambar ✨🕊️💐
Waktu A.R. Wallace ke Makassar (sekitar tahun 1850-an), dia ngerekrut bocah laki-laki yang bernama Baderoon. Anak Makassar. Kata Wallace, Baderoon (yang usianya kira-kira belasan tahun) udah biasa ikut prau Makassar pergi ke laut di pesisir utara Australia. Mencari teripang.
Daf - Kang Cerita, Kang Gambar ✨🕊️💐 tweet mediaDaf - Kang Cerita, Kang Gambar ✨🕊️💐 tweet media
🐈 ☭ 🔻@Puspen_PKI

jadi inget. sepupu kakekku cerita suatu kali, dia pernah ditangkap pemerintah australia karena menyelam kerang. bertahun-tahun kemudian lewat album berjudul la marupe, aku dengar theory of discoustic bercerita soal orang-orang sulawesi yang berlayar ke arafura. waktu beliau cerita, aku masih kecil dan gk terlalu paham. pas beliau sudah meninggal, aku baru sadar: harusnya ini penting, dia mungkin generasi terakhir dari budaya ratusan tahun. tapi, ya sudah lah. kemarin waktu baca hidup bersama laut-nya @msafarnurhan aku sambil mengingat banyak sekali informasi yang aku sendiri sudah gk bisa konfirmasi soal kehidupan orang-orang pesisir. karena sumbernya sudah meninggal, orang yang aku rasa paham sudah tidak ada, dsb. tapi juga, aku ngerasa ada kesedihan dalam. sudah lebih dari 10 tahun sejak aku merantau pertama kali. meski anak nelayan, skrng ini, aku ngerasa ada jarak lebar antara aku dan kehidupan orang-orang laut.

Indonesia
7
102
539
29.1K
rajapatni retweetet
Chasing Peatland 🇵🇸
Chasing Peatland 🇵🇸@malikarrahiem·
Hari ini 159 tahun lalu, Franz Junghuhn, Si Humboldt dari Jawa, meninggal dunia. Penduduk Pulau Jawa perlu bersyukur Junghuhn mendedikasikan hidupnya mendokumentasikan alam Pulau Jawa begitu lengkap, sehingga ketika membacanya seolah kita kembali dibawa ke Jawa pada masa itu.
Chasing Peatland 🇵🇸 tweet media
Brunswick, Germany 🇩🇪 Indonesia
47
1.2K
4.1K
506.3K
rajapatni
rajapatni@smilingrainp·
@inganggita yaa pada keren2 bangett lagii nambah ilmu gratis
Indonesia
1
0
0
849
ꦇꦁ ∞
ꦇꦁ ∞@inganggita·
Syukurlah historian senior mau turun gunung di twitter ini. Bayangkan bila isinya narasi pesenan semua yg entah bayaran siapa.
Indonesia
5
45
263
21.6K
rajapatni retweetet
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
Empat syarat Kartini sebelum (terpaksa) mau dipoligami: 1. Boleh mendirikan sekolah & mengajar untuk putri di Rembang, melanjutkan cita-citanya memajukan pendidikan perempuan. 2. Penolakan adat feodal dalam upacara pernikahan: tidak mau berjalan jongkok di belakang suami, tidak berlutut, tidak menyembah/mencium kaki suami. 3. Kesetaraan bahasa: berbicara dengan suami menggunakan bahasa Jawa Ngoko (bahasa sehari-hari setara), bukan Krama Inggil (bahasa hormat yang menunjukkan hierarki istri lebih rendah). 4. Boleh membawa ahli ukir dari Jepara ke Rembang untuk mengembangkan kerajinan secara komersial sebagai kegiatan ekonomi perempuan. Semua syarat ini (sangat progresif & radikal pada masa itu) dipenuhi oleh calon suaminya, Bupati Rembang Raden Adipati Djojoadiningrat. Kartini melihat poligami sebagai bentuk penindasan terbesar terhadap perempuan. Ia menyaksikan langsung penderitaan ibunya, Ngasirah, yang dimadu oleh ayahnya. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan getir bahwa tak ada perempuan yang bahagia dimadu, & laki-laki yang memadu kehilangan kehormatan. Poligami dianggapnya sebagai "dosa" yang membuat perempuan menjadi saingan dan korban, sementara laki-laki bebas. Ia juga menolak pernikahan paksa dengan orang asing yang belum dikenal, karena cinta sejati harus dimulai dari rasa hormat, bukan paksaan adat. Namun, pada 1903, Kartini di usia 24 tahun (dianggap perawan tua yang memalukan keluarga ningrat pada masa itu) terpaksa menikah dengan Raden Adipati Ario Djojoadiningrat, Bupati Rembang yang jauh lebih tua (~25 tahun) & sudah punya 3 istri (salah satunya baru meninggal) karena tekanan budaya feodal priyayi pada masa itu & karena ayahnya, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, sakit serta terus "dibully" teman-temannya karena anak perempuannya belum menikah. “Saya telah berjuang, bergulat, menderita, dan saya tidak dapat menjadikan nasib celaka Ayah, dan dengan demikian membawa bencana bagi semua yang saya cintai." (Surat Kartini kepada Abendanon, 14 Juli 1903) Meski seumur hidup menentang poligami & pernikahan paksa, Kartini terpaksa mengalahkan idealismenya, terpaksa menanggalkan egoismenya, serta harus berkompromi dengan realitas sosial feodal Jawa demi menjaga kehormatan ayah & keluarga yang dicintainya. Tekanan budaya feodal & partriarkis kelas priyayi pada masa itu terlalu kuat & ketat, di mana poligami & pernikahan paksa merupakan norma adat (diperkuat ajaran agama), sehingga meskipun Kartini sempat menolak keras, beliau kalah, beliau akhirnya terpaksa menerima pernikahan poligami itu. Kartini tetap melanjutkan perjuangan emansipasi & pendidikan perempuan dari dalam pernikahan, meski hanya berlangsung singkat karena beliau wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya pada pada 17 September 1904 di usia 25 tahun. Penyebab utama kematiannya adalah komplikasi persalinan, diduga akibat preeklampsia (tekanan darah tinggi pada kehamilan yang dapat memicu kejang dan kegagalan organ). Tragedi ini sangat ironis karena Kartini baru saja mulai mewujudkan cita-citanya setelah menikah, yang salah satu visinya tentu saja untuk meningkatkan akses kesehatan yang lebih baik bagi perempuan, khususnya kesehatan reproduksi & maternal (masa kehamilan, persalinan, & pasca melahirkan). Alfatihah untuk Ibu Kartini, damai di surga 🌹🌷🌼💐🌺🌸🪻
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger

Merayakan Kartini Secara Radikal Kita telah melampaui era memperingati hari Kartini dengan hanya melihat sosok tubuhnya dan memaknainya cukup sebatas busana kebaya, lomba memasak atau menyanyikan lagunya. Peringatan hari Kartini yang demikian menumpulkan pemikiran. Sebab Kartini tidak pantas hanya dinilai dari sosok tubuhnya semata melainkan ide-ide brilian yang lahir dari otaknya yang cemerlang tentang kesetaraan dan kebebasan perempuan, justru inilah yang harus kita rayakan. Jadi hendaknya kebaya Kartini disimbolkan sebagai pembebasan perempuan, bukan ornamen tubuh semata, namun untuk merangsang kegairahan pemikiran melawan dominasi. Segala bentuk dominasi seperti penjajahan, pembodohan, pengekangan agama, dan tradisi serta penindasan perempuan. Sebab Kartini perempuan Jawa yang hidup di abad ke-19 telah memikirkan semua itu dan menuangkannya dalam bentuk tulisan yang dimuat di buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” (HGTT). Kartini mengungkapkan kegeramannya pada tradisi yang mengekang anak perempuan termasuk dirinya yang “dipingit” dari umur 12 hingga 16 tahun.    "Teringat aku, betapa aku, oleh karena putus asa dan sedih hati yang tiada terhingga, lalu mengempaskan badanku berulang-ulang kepada pintu yang senantiasa tertutup itu, dan kepada dinding batu bengis itu." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:30). Perang melawan kebodohan dipahaminya sebagai cara untuk membawa bangsa Bumiputra maju dan keluar dari penjajahan. "Pemerintah tiada akan sanggup menyediakan nasi di piring bagi segala orang Jawa, akan dimakannya, tetapi Pemerintah dapat memberikan daya upaya, supaya orang Jawa itu dapat mencapai tempat makanan itu ada. Daya upaya itu ialah pengajaran. Memberi anak negeri pengajaran yang baik, sama halnya seolah-olah Pemerintah menyerahkan suluh ke dalam tangannya, supaya dapat ia sendiri mencari jalan yang benar, yang menuju ke tempat nasi itu. Bapak akan berusaha sekuat tenaganya akan mengajukan anak negeri, dan aku pun akan turut membantunya." (12 Januari 1900, HGTT, 2009:34). Sikapnya menentang poligami sangat jelas. Kadang Ia menganggap bahwa perkawinan itu menindas dan bukan membahagiakan. "Mengertikah engkau sekarang apakah sebabnya maka sangat besar benciku akan perkawinan? Kerja serendah-rendahnya maulah aku mengerjakannya dengan berbesar hati dan dengan sungguh-sungguh, asalkan aku tiada kawin, dan aku bebas." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:29). Pemikiran Kartini tentang agama termasuk permikiran yang moderat dan toleran. "...sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam... Orang diajar di sini membaca Qur’an tetapi yang dibacanya itu tiada ia mengerti. Pikiranku, pekerjaan gilakah pekerjaan semacam itu. Sekalipun tiada jadi orang saleh, kan boleh juga orang jadi orang baik hati.." (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). "Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu?" (Jepara, 6 November, 1899, HGTT, 2009:31). Kartini memang tidak pernah terlibat dalam sebuah pergerakan apalagi mengorganisir sebuah protes di lapangan. Bentuk protes yang ia lakukan hanyalah lewat tulisan-tulisannya yang mencoba memahami apa yang terjadi di lingkungannya. Tulisan-tulisannya tidak dituangkan ke dalam bahasa Melayu atau Jawa melainkan ke dalam bahasa Belanda dan ditujukan kepada teman Belandanya di Belanda.  Apakah karena Kartini menyadari tulisan-tulisannya tidak akan ditanggapi bila ia menggugat masyarakatnya secara langsung?  Atau bahkan dapat membahayakan dirinya bila pemikirannya diketahui oleh masyarakatnya sendiri? Semangat Kartini pada zamannya adalah semangat yang juga dirasakan oleh sebagian perempuan pada zaman itu. Beberapa pemikir perempuan lainnya seperti Dewi Sartika juga memiliki pemikiran yang maju tentang hak-hak perempuan, dengan nyata membuat sekolah di tahun 1904 yang disebut dengan “Sekolah Istri”. Kartini memang bukan sekedar kebaya. Tapi makna kebaya Kartini hendaknya diinterpretasikan secara kritis. Pemikiran Kartini masih terus harus direnda agar “kebaya” itu menjadi sempurna. Merenda pemikiran Kartini di segala ruang dan sudut bangsa, menjadikan bangsa kritis yang menghargai kesetaraan. --- Satu lagi cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari @jurnalperempuan, yang ditulis oleh Gadis Arivia. Selamat Hari Kartini 21 April 1879–17 September 1904 Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜 (Link artikel lengkap di utas berikutnya)

Indonesia
59
6.4K
17.8K
1.2M
rajapatni
rajapatni@smilingrainp·
pengen kaya raya
Indonesia
0
0
0
14
rajapatni
rajapatni@smilingrainp·
matt rife tu ganteng banget ga sih lucu lagi😭
Indonesia
0
0
1
101
rajapatni
rajapatni@smilingrainp·
warga twitter yg sok woke mending diem deh, ga semua harus diliat pake kacamata moral 2026 apalagi soal sejarahh. gemesh deh yg suka simplifikasi sejarah
Indonesia
0
0
1
19
rajapatni
rajapatni@smilingrainp·
Lucu ya baca sejarah tapi pakai kacamata moral 2026 wkwk makanya tiap belajar sejarah tu aku selalu menegaskan ke diri sendiri untuk liat secara komprehensif. Kocak lu firaa Sekolah dulu fira, baru main Twitter!
Fira Braja Brata Atmaja 🍉@Dennaaja_

Gundik poligami no 4. Tidak punya posisi tawar. Jadi pahlawan cuma krn surat-suratan sama bule belanda jaringan teosofi & freemason. Jauh kalah sama Tjoet Nyak Dien, Laksamana Keumalahayati, Christina Martha Tiahahu, even sama Dewi Sartika yg mampu bikin sekolah putri di Bandung

Indonesia
0
0
7
401
rajapatni retweetet
Sisters in Danger x Simponi
Sisters in Danger x Simponi@SistersInDanger·
Kartini dipermasalahkan karena menjadi istri keempat. Kartini dipermasalahkan karena Jawa. Kartini dipermasalahkan karena hanya menulis surat-surat kepada seorang perempuan Belanda. Kartini dipermasalahkan karena tidak berjuang memegang pedang seperti Cut Nyak Dien dan Kristina Martatiahahu, atau membuat sekolah seperti Dewi Sartika, atau menerbitkan koran seperti Roehana Koedoes. Apakah kita pernah berdebat tentang Pangeran Diponegoro dan Teuku Umar terutama siapa yang paling pantas disebut pahlawan? Apakah kita pernah memperdebatkan mereka karena suku atau tipe perjuangan yang melekat pada mereka? Sejarah dipenuhi berbagai tokoh laki-laki. Pahlawan bangsa dikerubuti oleh laki-laki. Foto-foto pahlawan kita di sekolah-sekolah dipenuhi oleh foto laki-laki. Tetapi kita tak pernah memperdebatkan tokoh-tokoh itu satu dengan lainnya. Apa yang terjadi pada tokoh-tokoh perjuangan perempuan, pada setiap Hari Kartini: dipermasalahkan, diperdebatkan. Apakah kita tahu bahwa Kartini adalah anak perempuan yang dinikahi di usia belia, yang reproduksinya belum sempurna, dan mengalami kematian saat melahirkan? Tahukah bahwa masa itu menjadi seorang perempuan Jawa itu lebih mengerikan daripada menjadi seorang perempuan Minangkabau? Atau tahukah bahwa menjadi seorang perempuan bangsawan Jawa di masa feodal-konial abad ke-19 adalah tidak lebih baik daripada menjadi perempuan rakyat jelata ketika bicara soal kebebasan diri? Tahukah bahwa menjadi seorang kutu buku seperti Kartini, dengan wawasannya yang mendunia itu, dia tak bisa berbuat apa-apa karena posisinya waktu itu? Kartini ibarat hidup dalam penjara. Sebagaimana tahanan penjara politik macam Pramoedya Ananta Toer, Kartini hanya bisa melawan dengan menulis. Menulis surat adalah salah satu cara supaya pemikiran-pemikirannya tentang pembebasan didengar. Kartini bersuara lewat surat-surat, sebagaimana orang-orang tahanan politik yang dipenjara. Penyiksaan yang dialaminya adalah bagaimana kebahagiaan intelektualnya dipenggal. Bagaimana kecerdasannya dikerdilkan, karena dia seorang anak perempuan Jawa yang bangsawan, yang dipelihara di penjara bertembok keraton dan diharuskan berjalan dengan sangat pelan atau berjongkok-jongkok kepada yang lebih tua, atau bahkan kepada saudara laki-lakinya sendiri. Kartini sedemikian dibatasi karena dia seorang perempuan Jawa. Kartini demikian karena ia ingin menjaga Bapaknya. Bapaknya adalah pengantar kebebasannya pada apa yang disebut buku atau bacaan, wawasan, dan pendidikan. Kartini mengungkapkan ketakutannya yang amat sangat dalam hal poligami, dimana Hukum Islam mengijinkan laki-laki kawin dengan empat perempuan. Dan masa menikah inilah yang paling dibencinya. Apa yang dibencinya adalah ketika tradisi Islam bercampur dengan Jawa, bahwa Jawa mengharuskan anak gadis menikah dengan laki-laki yang dipilihkan ayahnya, dan Islam membolehkan laki-laki berpoligami. Kartini tidak punya pilihan apa-apa dan merasa perkawinan akan membunuh dia sedalam-dalamnya dan memang masa itu pun terjadi. “Aku tidak akan pernah, tidak akan pernah bisa mencintai. Bagiku, untuk mencitai, pertama kali kita harus bisa menghargai pasangan kita. Dan itu tidak kudapatkan dari seorang pemuda Jawa. Bagaimana aku bisa menghargai seorang laki-laki yang sudah menikah dan sudah menjadi seorang Ayah hanya karena dia sudah bosan dengan yang lama, dapat membawa perempuan lain ke rumah dan mengawininya? Ini sah menurut hukum Islam. Kalau seperti ini, siapa yang tidak mau melakukannya? Mengapa tidak? Ini bukan kesalahan, tindak kejahatan ataupun skandal; Hukum Islam mengizinkan laki-laki beristri empat sekaligus. Meski banyak orang mengatakan ini bukan dosa, tetapi aku, selama-lamanya akan tetap menganggap ini sebagai sebuah dosa. Bagiku semua benih perbuatan yang menyakitkan orang lain (termasuk menyakiti hewan) adalah dosa. Bisa kau bayangkan derita seorang istri yang melihat suaminya pulang membawa perempuan lain yang kemudan harus diakuinya sebagai istri sah suaminya? Sebagai saingannya? Jika demikian, suami itu bisa ‘membunuh’ istrinya... Mustahil rasanya sang suami memberi kebebasan padanya!” Kartini lahir sebagai feminis bukan dilahirkan dari teori-teori feminisme, karena seorang feminis adalah dilahirkan, bukan diciptakan. Kartini dan pikirannya bukan sesuatu yang terpisah, atau tidak memisahkan antara pengalaman dengan persepsi, pengalaman dengan diskursus. --- Tulisan di atas adalah cuplikan dari artikel yang sangat bagus & kuat dari mbak @marianamiruddin yang versi lengkapnya bisa dibaca di web @jurnalperempuan. Selamat Hari Kartini 21 April 1879–17 September 1904 Damai di surga, Perempuan yang mendahului zaman 🙏💜
Sisters in Danger x Simponi tweet media
Indonesia
89
3.6K
9K
338.5K