Angehefteter Tweet
B
9.7K posts

B retweetet

Lingkaran setan? Terungkap! Pemenang tender 20.000 unit motor listrik MBG adalah PT Yasa Arta Trimanunggal. Direktur Utamanya, Yenna Yuniana, ternyata pernah diperiksa KPK terkait kasus Korupsi Bansos Beras.
Bayangkan: Sosok yang pernah berurusan dengan kasus korupsi perut rakyat (Bansos), kini pegang proyek triliunan buat 'Gizi' anak sekolah. Apakah kita sedang mengulang sejarah kelam yang sama?
Kantornya tertutup rapat, rumahnya dipagari tinggi, dan dijaga ketat aparat. Kenapa pemenang proyek publik triliunan rupiah harus se-misterius ini? Apa yang disembunyikan dari pengadaan motor Rp56 Juta ?
Audit kontrak motor MBG ini sekarang! Jangan biarkan Dana Pendidikan 20% mengalir ke kantong-kantong yang sama dengan skandal Bansos masa lalu
.
Indonesia
B retweetet

My "Roman Empire is the realization that my life is a lottery win. Somewhere in Sudan, Pålestine, iran, Afghanistan, Iraq or Congo, there is a boy smarter than me. He is more disciplined, more resilient, and holds more potential in his single finger than I do in my entire career.
The only difference? I am siting in a train and he is sting in the rubble of his dreams.
My "bad days" are his wildest dreams.
My "burnout" is a luxury he can't afford because his only job is staying alive.
It's geographical luck and it's a haunting injustice that we all refuse to acknowledge and look away
໊smolaraa@kesikesiluv
Hit me with the harshest reality truth.
English

@marcel_aromeh The Niqab or Hijab is not an Islamic requirement. The Quran says nothing about covering the face, head, or hair, and gives no detailed instructions on type of dress to be worn. It merely indicates that there should be modesty and decency in dress and behavior.
English

@berhomonim Bang belinya di daerah pangalengan. Kmrn pas outing kesana ada yg jual abang2 dri petani langsung enak manis (bukan manis disuntik/lapis air gula ya) pas bawa kerumah juga masih manis2
Indonesia

Pengakuan: saya belum pernah makan strawberry yang rasanya enak. Kebanyakan strawberry yang saya makan (beli di pasar) rasanya kecut. Cita-cita bisa makan strawberry yang beneran enak sekali aja.
♡@heart_jpg
watermelon or strawberries?
Indonesia
B retweetet

@patricrioo @zqhr @SeputarTetangga Di bank lupa fotokopi dianya yang fotokopiin dan itu gasampe beberapa menit, paling cuma 30detik. Malah lebih lama balik dulu fotokopi diluar terus balik lagi antri ulang, yg harusnya antrian dah selesai jam 12 krn banyak yg balik lgi dan antri ulang, ya mungkin br selesai sore
Indonesia

@zqhr @SeputarTetangga Maaf mas, mgkn khawatir kalau dibolehkan jadi preseden dan bisa perlambat pelayanan yang lain.
Soal kelengkapan dokumen memang jadi tanggung jawab msg, jd wajar kalau diminta dilengkapi dulu.
Kalau soal penggunaan xerox, mungkin sudah ada aturan internal di kantor tsb. Cmiiw
Indonesia

Aku mau lapor diri di KBRI Dili, antre lama di konsuler. Pas sampe giliranku, aku disuruh pulang dulu karena ada 1 dokumen belum difotokopi. Padahal di belakangnya ada mesin fotokopi.
Aku bilang, “Bu, itu ada mesin fotokopi.” Dijawab, “Oh ga bisa, itu buat urusan kantor.” 😂
Ali Syarief - アリ・シャリーフ@alisyarief
Nah ini benar. Pengalaman di Tokyo pun begitu
Indonesia
B retweetet

@collegemfs Terukur. Itu maksudnya kan bisa kuantitatif, kamu jelasin berdasarkan data, jangan kualitatifnya aja. Karena kualitatif itu standarnya abu abu, makanya didukung kuantitatifnya
Indonesia
B retweetet
B retweetet
B retweetet

Guys, ada kasus yang menurut gue harus lebih banyak disorot dan ini bukan kasus kecil.
Rp28 miliar dana umat dikumpulkan selama 40 tahun raib.
Pelakunya mantan kepala cabang bank BUMN sendiri.
Kasusnya:
Paroki Aek Nabara di Sumatera Utara menjadi korban penggelapan dana sebesar Rp28 miliar oleh mantan kepala cabang BNI bernama Andi Hakim Febriansyah.
Uang itu bukan uang biasa.
Itu dana yang dikumpulkan umat selama 40 tahun untuk pembangunan gereja, kebutuhan kesehatan, dan pendidikan jemaat.
Empat dekade tabungan kolektif.
Habis dalam satu pengkhianatan.
Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya penggelapannya:
Bendahara gereja menyampaikan sesuatu yang menurut gue adalah inti dari seluruh masalah ini:
Deposito berjangka yang resmi bisa dicairkan tanpa tanda tangan saya, tanpa kehadiran saya, tanpa berhadapan dengan teller.
Lalu di mana pengawasan BNI?
Ini bukan pertanyaan retorika.
Ini pertanyaan teknis yang serius.
Dalam sistem perbankan yang sehat pencairan deposito berjangka membutuhkan verifikasi ketat.
Ada prosedur.
Ada tanda tangan.
Ada konfirmasi kehadiran.
Kalau semua itu bisa dilewati oleh seorang kepala cabang itu bukan hanya soal oknum.
Itu soal lubang sistemik dalam pengawasan internal bank.
Dan respons bank yang dikritisi:
Paroki Aek Nabara menyatakan BNI kurang kooperatif dalam menangani kasus ini.
Pihak gereja bahkan harus datang ke bank dan meminta pertanggungjawaban secara langsung setelah kasus ini sudah jelas melibatkan pegawai bank yang datang atas nama BNI, bukan atas nama pribadi.
AHF adalah wajah BNI bukan AHF sebagai pribadi. Karena itulah kami percaya.
Dan ini adalah poin hukum yang sangat kuat. Ketika seseorang datang dalam kapasitas jabatannya sebagai kepala cabang bank BUMN kepercayaan yang diberikan bukan kepada individu itu. Kepercayaan diberikan kepada institusi yang dia wakili.
Kalau institusinya kemudian cuci tangan dengan mengatakan itu oknum itu adalah respons yang tidak adil dan tidak bertanggung jawab.
Ini bukan pertama kalinya:
Kasus penggelapan oleh oknum pegawai bank BUMN bukan fenomena baru di Indonesia.
Dan polanya hampir selalu sama: pelaku adalah orang dalam yang dipercaya, korban adalah nasabah yang percaya pada nama besar institusinya, dan respons institusi hampir selalu lambat dan defensif.
Yang berbeda dari kasus ini adalah skalanya Rp28 miliar dari komunitas yang mengumpulkan uang selama 40 tahun dan korbannya adalah umat yang mempercayakan tabungan hidup mereka kepada bank negara.
Yang perlu dituntut secara konkret:
Satu BNI harus menjelaskan secara transparan bagaimana deposito berjangka bisa dicairkan tanpa prosedur verifikasi yang seharusnya berjalan.
Dua Kalau ada lubang sistemik dalam pengawasan internal itu bukan hanya tanggung jawab pelaku. Itu tanggung jawab manajemen dan sistem audit internal bank.
Tiga Korban berhak mendapat kompensasi dari institusi bukan hanya menunggu proses pidana terhadap individu pelaku yang mungkin butuh bertahun-tahun.
Empat OJK sebagai regulator perbankan perlu memberikan penjelasan publik apakah ada kelalaian pengawasan dari sisi regulasi.
Kalau bank BUMN tidak bisa bertanggung jawab atas tindakan pegawainya yang beroperasi atas nama bank lalu untuk apa ada bank negara?

Indonesia
B retweetet

@cryptolilyta Marriage is scary adalah propaganda setan agar orang2 memilih berzinah dibanding menikah. Inget, setan naik pangkat kalau berhasil memisahkan suami istri. Bahkan diperbolehkan untuk berbohong (jika perlu) agar pasangan suami istri jadi harmonis. Beda cerita klo kdrt, blh cere.
Indonesia

@sakkusaitna Sorry tpi statement mba nya udah ketaker dari 1447 thn yg lalu dan udh di prediksi end story nya gimana

Indonesia
B retweetet

@purebprince Pilu banget, banyak perempuan ketika menikah dan memiliki anak malah merasa sendirian dan kesepian. Makanya ga heran ada ibu yang punya attachment issues sama anak laki-laki karena dia berharap akan disayangi dan benci sama anak perempuan karena seperti berkaca sama dirinya.
Indonesia
B retweetet
B retweetet

@Zeefire02 Kebanyakan netizen indo bilang knetz iblis lah, apalah. Ni klo knetz liat netizen indo juga bakal dibilang setan. Gak ada bedanya sebenrnya
Indonesia
B retweetet

@Zeefire02 Mikir ya yg mengagung2kan si pria. Sherina itu salah 1 seleb unproblematik jd klo dia uda sampe buka suara brti dia tersinggung bgt. Jgn hanya krn tampang mantan lakiknya begitu kalian jd buta mata buta hati. Biasakan dgr dr 2 belah pihak dongok
Indonesia
B retweetet

Kasus Viral: Bayi Hampir Tertukar di RS Hasan Sadikin Bandung, Sang Ibu Ngamuk ke Perawat
Berikut saya coba terjemahkan dari Bahasa Sunda. Punten kalau ada salah mengartikan...
Saya mah tidak terima ya ke perawat yang ada di RS Hasan Sadikin. Tega ya, anak saya dikasih ke orang lain. Terus orang lainnya itu bego gitu ya.
Sudah tahu saya memandikan anak sejak subuh, terus bawa baju anak, kan RS menyarankan untuk membawa baju bayi.
Terus Teteh (ibu lainnya) itu kan datangnya siang. Saya sudah menunggu di RS. Tapi saya kok tidak dipanggil-panggil, tapi Teteh yang itu kok udah dipanggil.
Kan anak saya itu jadwalnya kembali (dibawa pulang), karena dibilangnya sudah sehat. Sedangkan, anaknya Teteh itu harusnya pulang, ternyata tidak jadi. Katanya, ada kebocoran di paru-parunya.
Saya sudah lama menunggu, tapi tidak dipanggil-panggil. Ya sudah, saya ke bawah karena sudah lapar. Lalu ada feeling, seperti ada yang kasih tahu, "segera ke atas, lihat anaknya, ayo!"
Ketika di atas, apa (yang saya lihat)? Anak saya ada di tangan orang. Syukurnya belum jauh. Coba kalau sudah jauh.
Saya pun nanya: 'Teteh, mau pulang?'
Dijawab: 'Iya'
Saya tanggapi: 'Ih, kenapa itu bajunya sama selimutnya itu kayak anak saya.'
Dijawab: 'Iya gitu, teh?'
Malah dijawab gitu. Lah memang tidak tahu muka anaknya sendiri? Dia yang melahirkan? Atau kalau tidak, bapaknya gitu? Masa tidak tahu anak sendiri?
Terus Suster itu beloon gitu. Saya kejar: 'Sus, itu anak saya, kenapa dikasih ke orang?'
Terus jawabnya apa? 'Oh ya, tadi saya panggil-panggil ibu Nina Salehah, kenapa tidak ada?'
Lah terus kalau tidak ada, kenapa anak saya harus dikasih ke orang lain? Bego enggak? Coba bayangkan jika kamu berada di posisi saya? Terus seandainya anak saya sudah dibawa jauh? Gimana rasanya? Marah enggak? Iya marah atuh~ Ini mah bukan barang. Barang mah biarin saja. Lah ini mah anak manusia. Anak darah daging saya.
Terus apa kata susternya? “Oh iya, maaf, dari tadi, Ibunya dipanggil-panggil tidak ada. Ya udah, saya kasih ke Teteh itu.”
Goblok enggak? Apa maksudnya itu? Kamu dibayar bukan sih gitu? Dibayar berapa jika menjual anak saya? Lah, anak saya itu sehat. Kamu pikir enggak sih?
Terus apa lagi? Gelang RS-nya kenapa sampai dilepas? Saya tanya: 'kenapa gelang RS-nya sampai dilepas?' Dijawabnya 'Iya, takutnya banyak virus di dalam.'
'Di mana-mana juga di rumah sakit takut tertukar anak, sebelum keluar, gelang nggak akan dilepas.' Saya marah, saya tidak terima. Kalau dilaporkan juga, saya viralkan sekalian. Pak Dedi (Gubernur) tahu, itu RS bagaimana, pegawainya bagaimana, banyak yang teledor.
Bagaimana itu kalau kejadian anak saya tidak ketemu? Silakan bayangkan! Malah bilangnya: 'Sttt, bu, jangan teriak-teriak!' Goblok enggak? Pikir, anjing! Marah saya. Untung anak saya… karena feeling, firasat, intuisi, 'segera ke atas, lihat anak'
Coba kalau sudah jauh, bayangkan! Malah susternya cuma bilang maaf, maaf saja. Cukup dengan maaf? Kalau jadi susternya, kenapa sampai dikasih ke orang yang bukan ibunya?
Terus Teteh yang itu beloonnya itu kenapa sampai diterima? 'Kan kamu tuh belum kasih baju. Kalau memang belum bawa baju, kenapa sampai diterima?'
Untungnya saya hafal (baju yang dibawa untuk anak). Coba jika saya telat beberapa menit, mungkin anak saya sudah tidak tahu dibawa ke mana. Goblok enggak? Marah saya, sekalian saja diviralkan.
Bukannya saya… maaf... Tidak terima saya mah. Cukup dengan maaf, maaf, tetapi dengan watados (wajah tanpa dosa). Satpamnya juga sama saja.

BELL🚫@mudahtertawa_
curiga ada sindikat jual beli bayi di rumah sakit hasan sadikin bandung. ditinggal 30 menit, anaknya udah ada di tangan orang lain. pas di tanya jawabannya: "soalnya kamu lama, dipanggil gak ada, jadi aku kasih ke teteh itu" sumber: nindy5760
Indonesia
B retweetet















