faall4Uk

3.2K posts

faall4Uk banner
faall4Uk

faall4Uk

@BeintooDeep

#freepalestine 📔 Diary 🤏🏼 Isinya a LOT of sweets diabetic words!! ingin mecoba lebih baik dengan lembut saja🙂‍↔️

Se unió Mayıs 2020
11 Siguiendo4 Seguidores
Tweet fijado
faall4Uk
faall4Uk@BeintooDeep·
To whoever that notice the person behind this account.. Please know that this account is only for me to regulate my feelings and to adjust my train of thoughts. One might call this a digital diary/ journal 📔
GIF
English
1
0
0
95
faall4Uk
faall4Uk@BeintooDeep·
@cacalvsie Kakk masi on gakk? Aku ga bisa buka link wa nyaa :(
Indonesia
0
0
0
7
faall4Uk
faall4Uk@BeintooDeep·
Mo beli iqyi dong siapapunnn
Indonesia
0
0
0
5
faall4Uk
faall4Uk@BeintooDeep·
Si galau ini sebetulnya galau krn lg gaada yg baru anjay Kalau ada yg baru pasti lupa Tp aku ga nyari, fak
Indonesia
0
0
0
19
faall4Uk
faall4Uk@BeintooDeep·
Baru tau lebam bisa ngebuat aku se ga enak badan ini 😊 Ga lagi deh maksain diri lari padahal badan udah keleyengan.
GIF
Indonesia
0
0
0
11
faall4Uk
faall4Uk@BeintooDeep·
Fuck u
English
0
0
0
7
faall4Uk retuiteado
Anies Rasyid Baswedan
Anies Rasyid Baswedan@aniesbaswedan·
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran. Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini. Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan. Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja. Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia. Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal. Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;) Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan. Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri. Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok. Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco

JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri

Indonesia
412
20.3K
50.4K
1.2M
faall4Uk retuiteado
faall4Uk retuiteado
mandy
mandy@suicinivismynm·
quando eu nao quero estudar mas eu lembro que a natalie portman conciliou star wars e psico em harvard e ainda TERMINOU os dois
Português
44
4.2K
38.8K
396.5K
faall4Uk retuiteado
Eldi
Eldi@lifeofeldi·
@antaranirnama Although that kind of logic sounds sensible, it’s actually not bc it implies universities are turned into market suppliers instead of learning centres. What happens in 5 years when we have an oversupply of engineers & designers, while not enough teachers & healthcare workers?
English
0
70
432
14.2K
faall4Uk
faall4Uk@BeintooDeep·
Hopefully the next peep to approach me is a lootttt older (literally n mentally wiser)….. I need a leading and mengayomi figure in my life. God pls😔
English
0
0
0
11
faall4Uk
faall4Uk@BeintooDeep·
In this 6 or 7 months, there has been 5 younger guy, 2 older guy, and 2 same age guy trying to get to know me. And 1 failed talking stage (one of the older one). Kinda annoyed bcs he’s kinda my type. Safe to say that… I attract younger but can still charm the older peeps.
English
1
0
0
18
faall4Uk
faall4Uk@BeintooDeep·
Ada apa dgn aura yg gw pancarkannnnn anjengggggggg
faall4Uk tweet mediafaall4Uk tweet media
Indonesia
1
0
0
19