Tweet fijado
Pipit
21.4K posts

Pipit
@PIPIT_82
Proud to be a woman | already taken | politics & public policy | "bleisure" - do bussines & leisure at the same time | travel addict - wanderlust actually
Se unió Mayıs 2010
1K Siguiendo813 Seguidores
Pipit retuiteado
Pipit retuiteado
Pipit retuiteado

💔 Sebagai seorang istri, pelukan ini menusuk banget ke hati.
Lihat Mas Nadiem memeluk Franka setelah jaksa menuntut dia “memperkaya diri Rp 809 M" padahal itu transaksi aksi korporasi Gojek dengan AKAB, bukan korupsi. Bayangin kalau suami kita yang tiba-tiba dianggap kriminal cuma karena bisnis sukses. Capek, sedih, tapi harus kuat.
Ini bukan cuma soal keluarga Nadiem-Franka. Ini soal keadilan buat semua keluarga Indonesia. Bisnis biasa jangan dikriminalisasi. Kita doain yang terbaik ya, semoga kebenaran segera terang. ❤️
#NadiemMakarim #FrankaMakarim #KeadilanUntukNadiem
Indonesia
Pipit retuiteado

Guys, Ferry Latuhihin baru ngomong sesuatu yang menurut gue paling jujur dan paling tidak takut konsekuensi dari semua kritik yang beredar soal pemerintahan Prabowo sekarang.
Dan dia mulai dengan satu angka yang langsung bikin gue terdiam.
108 wakil menteri.
Lebih gila dari zaman Soekarno:
Soekarno terkenal dengan kabinet
gemuknya 100 menteri.
Itu sudah dicatat sejarah sebagai salah satu pemborosan birokrasi terbesar Indonesia.
Prabowo melampauinya.
108 wakil menteri saja
belum termasuk menterinya.
Ferry bilang dengan sangat datar: "Birokrasi, Bos. Wakil menteri itu 108 loh.
You can imagine ini kabinet yang lebih gila
dari zaman Soekarno."
Dan ini bukan soal gaya atau
estetika pemerintahan.
Ini soal uang.
Setiap wakil menteri punya gaji, tunjangan, staf, kendaraan dinas, protokol, dan anggaran operasional.
Dikali 108 angkanya tidak kecil.
Dan semua itu dibayar dari pajak rakyat yang sama yang katanya sedang dihemat untuk efisiensi.
Soal Purbaya Ferry akui ada yang menarik,
tapi ada yang lebih penting:
Ferry tidak membabi buta mengkritik Purbaya.
Dia mengakui keberanian Purbaya berani head to head dengan Luhut, berani buka Pandora Box soal mafia-mafia yang selama ini nyaman, berani mengakui ada kebocoran di sistem restitusi pajak.
Tapi Ferry memisahkan dengan sangat tajam antara administrasi dan kebijakan.
Memindahkan Rp200 triliun dari BI ke Himbara?
Itu administrasi.
Bukan fiscal policy.
Dan hasilnya pun menunjukkan itu: undisbursed loan di perbankan sekarang sudah hampir Rp3.000 triliun.
Bank sudah punya likuiditas berlimpah tapi kredit growth tetap jatuh dari double digit ke 7%.
Debitur tidak mau ambil kredit bukan karena tidak ada uang di bank tapi karena economic
outlook-nya tidak meyakinkan.
Bisnis tidak ekspansi di tengah ketidakpastian.
Jadi pertanyaan Ferry sangat sederhana dan sangat keras: kebijakan apa yang Purbaya tawarkan untuk membalikkan tren ekonomi yang sedang turun ini?
Solusi Ferry dan ini yang paling provokatif:
Ferry tidak hanya mengkritik. D
ia kasih resep yang sangat berlawanan dengan narasi pemerintah sekarang.
Turunkan pajak.
Semua pajak.
PPN dari 11% ke 10%,
idealnya ke 5%.
Corporate tax diturunkan.
PPh diturunkan.
Biarkan uang itu tetap di tangan rakyat dan swasta bukan masuk ke kas negara yang menurut Ferry makin besar penerimaannya makin ngawur spendingnya.
Logikanya:
semakin besar uang yang dikuasai pemerintah semakin besar ruang untuk misallocation of resources.
Hambalang. BLBI. IKN. IKTP.
Semua terjadi bukan karena kekurangan uang
tapi karena uang yang terlalu banyak di tangan yang salah.
"The more money the government get,
itu makin kacau ekonomi kita."
Dan kalau penerimaan pajak turun spending harus dikecilkan juga.
Tidak ada jalan lain.
Defisit harus dijaga.
Negosiasi dengan kreditur kalau perlu.
Tapi cara membangun negeri ini harus berubah secara radikal dari government-driven menjadi private sector-driven.
Karena yang menciptakan lapangan kerja adalah bisnis. Bukan pemerintah.
Dan kalau bisnis punya ruang lebih besar untuk bergerak mereka yang akan menggerakkan ekonomi, bukan program pemerintah yang penuh kebocoran.
MBG salah dari awal, salah dalam desain:
Ferry tidak malu-malu:
Terus terang saja saya tidak setuju dengan program-program ultra populis macam MBG dan Koperasi Merah Putih.
Ini sudah salah dari awal."
Bukan karena niatnya buruk.
Tapi karena desainnya tidak masuk akal secara data.
Berdasarkan data statistik hanya 7,1% atau sekitar 20 juta orang yang benar-benar dalam kondisi urgen membutuhkan perbaikan gizi.
Dari 20 juta itu, mungkin 10 juta adalah anak-anak.
Tapi program MBG dirancang untuk menyuapi 83 juta orang dengan anggaran Rp328 triliun.
Pertanyaan Ferry: "
Kenapa yang harus disuapin 83 juta orang?
Kalau memang mau fokus gizi kenapa tidak targetkan 20 juta yang benar-benar butuh,
di daerah tertinggal, dengan sistem kupon yang jauh lebih efisien?
Paling mahal 5 triliun."
Dan kemudian muncul kabar ada 11 yayasan yang ikut di dalam ekosistem MBG.
Ferry langsung tanya:
Purbaya berani tidak mengcounter ini?
Kalau berani saya cium tangannya."
Kabinet 108 wakil menteri yang lebih gemuk dari Soekarno.
Program gizi yang menyuapi 83 juta orang padahal yang darurat hanya 20 juta. Anggaran Rp328 triliun untuk program yang tidak menyentuh akar masalah.
Dan tidak ada satu kebijakan fiskal yang benar-benar radikal untuk membalikkan tren ekonomi yang sedang turun.
Ferry tidak bilang Purbaya jahat. Dia bilang Purbaya belum cukup.
Dan selama kebijakan yang diambil masih bersifat kosmetik terapi kejut administrasi tanpa perombakan struktural yang nyata angka 8% growth yang terus digembar-gemborkan akan tetap menjadi angka yang indah di slide presentasi, bukan kenyataan yang dirasakan di dompet rakyat.

Indonesia
Pipit retuiteado

Guys, lu pada tau gk nihh...
ternyata dulu malaysia juga punya danantara
dengan namanya 1MDB Malaysia
yang di kelola oleh orang yang jago juga disana
dan lu tau akhir dari danatara malaysia itu ??
yaps jadi ladang korupsi terbesar disana
sistematis dan rapi bangett
Jho Low dan 4,5 miliar dolar yang raib:
Jho Low bukan pejabat.
Bukan direktur.
Namanya bahkan tidak ada di struktur organisasi 1MDB lembaga investasi negara Malaysia yang mirip konsepnya dengan Danantara.
Tapi dia punya akses penuh ke dananya.
Karena dia teman anak tirinya Najib Razak,
Perdana Menteri Malaysia.
Dari 2009 sampai 2014, lebih dari 4,5 miliar dolar uang rakyat Malaysia setara lebih dari Rp70 triliun dijarah.
Lewat perusahaan cangkang di Swiss, Cayman Island, Singapura, British Virgin Islands.
Goldman Sachs bantu terbitkan obligasi senilai 6,5 miliar dolar, ambil fee 600 juta dolar hampir 200 kali lipat rate normal dan tutup mata terhadap semua red flag yang ada.
Uangnya dipakai untuk apa?
Pesta malam di New York sampai puluhan juta dolar dalam semalam.
Super yacht 250 juta dolar.
Apartemen mewah di Beverly Hills dan Paris.
Lukisan Picasso dan Monet.
Dan ini yang paling ironis membiayai
film The Wolf of Wall Street.
Film tentang penipu Wall Street.
Dibiayai dengan uang curian dari rakyat Malaysia.
Najib akhirnya masuk penjara.
Goldman Sachs bayar denda 3,9 miliar dolar.
Tapi Jho Low? Sampai hari ini bebas.
Tinggal nyaman di mansion mewah di Shanghai.
Bekerja sebagai strategi di balik layar membantu perusahaan China menghindari sanksi internasional. Buronan Interpol yang hidup lebih mewah dari kebanyakan orang yang tidak pernah mencuri sepeser pun.
Sekarang soal Danantara dan ini yang harus dibahas:
Indonesia punya Danantara.
Dibentuk di awal pemerintahan Prabowo.
Mengelola aset BUMN dengan nilai yang disebut-sebut ratusan miliar dolar.
Dan gue buka websitenya sekarang.
Ada tiga entitas: BPI Danantara, Danantara Asset Management, Danantara Investment Management. Ada halaman "Tentang Kami." Ada halaman "Ekosistem Kami." Ada "Hubungi Investor." Ada "Tata Kelola Perusahaan."
Tapi tidak ada satu pun laporan keuangan yang bisa diakses publik.
Tidak ada breakdown investasi yang jelas.
Tidak ada angka konkret soal berapa yang sudah diinvestasikan, ke mana, dengan return berapa, dan siapa yang mengawasi.
Tagline-nya berbunyi: "Mendorong transformasi ekonomi dan investasi global demi masa depan Indonesia."
Kalimat yang indah.
Tapi kalimat indah tanpa transparansi adalah persis cara 1MDB Malaysia memulai kisahnya.
Apakah Danantara akan bernasib sama dengan 1MDB?
Gue tidak bilang iya.
Tapi gue juga tidak bisa bilang tidak karena tidak ada data yang cukup untuk menjawab pertanyaan itu.
Dan itulah masalahnya.
Pelajaran terbesar dari 1MDB
bukan soal Jho Low yang pintar.
Tapi soal sistem yang memungkinkan kejahatan sebesar itu terjadi tanpa terdeteksi bertahun-tahun.
Sistem di mana satu orang punya otoritas penuh tanpa check and balances yang efektif.
Sistem di mana tidak ada media yang bisa mengaudit aliran dana dengan mudah.
Sistem di mana pengawasannya longgar dan pertanggungjawabannya tidak jelas.
Sekarang gue tanya:
apakah Danantara punya check and balances yang efektif?
Siapa yang mengawasi investasinya secara independen?
Bagaimana publik bisa tahu uang negara yang dikelola Danantara tidak disalahgunakan kalau laporan keuangannya saja tidak bisa diakses?
Yang harus terjadi kalau Danantara serius ingin berbeda dari 1MDB:
Pertama, laporan keuangan berkala yang bisa diakses publik bukan hanya tersedia di dalam, tapi benar-benar transparan dan bisa diaudit pihak independen.
Kedua, pengawasan dari lembaga yang benar-benar independen dari eksekutif bukan lembaga yang pemimpinnya dipilih oleh orang yang sama dengan yang mengelola dananya.
Ketiga, mekanisme whistleblower yang dilindungi secara hukum supaya kalau ada yang tidak beres di dalam, ada jalan yang aman untuk melaporkannya.
Keempat, batasan yang jelas soal siapa yang bisa mengambil keputusan investasi dan sampai berapa besar tanpa persetujuan badan pengawas yang lebih luas.
Tanpa keempat hal itu Danantara bukan lembaga investasi negara. Danantara adalah brankas besar dengan pintu belakang yang terbuka.
Dan sejarah sudah membuktikan lebih dari sekali apa yang terjadi ketika brankas seperti itu ditemukan oleh orang yang salah.
Malaysia butuh bertahun-tahun dan kejatuhan satu pemerintahan untuk mengungkap 1MDB.
Dan sampai sekarang otak di balik semuanya masih minum kopi santai di Shanghai.
Indonesia tidak harus belajar dengan cara yang sama. Tapi untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama transparansi bukan pilihan. Itu keharusan.
Dan selama website Danantara lebih banyak berisi tagline indah daripada data yang bisa diverifikasi pertanyaan apakah kita sedang menonton film yang sama dengan versi berbeda tetap sangat relevan untuk terus diajukan.

Indonesia
Pipit retuiteado

Rupiah melemah dan cara baca yang moderat
Udah baca tulisan Pak Chatib Basri tadi pagi cuman butuh waktu lama buat dipikirin dan sialnya lagi banyak tanggapan yang miss terhadap tulisan beliau, memang perlu baca buku-buku pengantarnya biar bisa jump in.
Tulisan beliau ini sopan santun sekali, jadi biar saya aja yang bagian "lancangnya", izin 🙏😏
Karena saya anak politik, maka framework saya ekonomi-politik ya.
Thread bedah singkat.
#ZalkadAnalisis

Indonesia
Pipit retuiteado

Pengadaan tablet hingga semir sepatu untuk Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) yang nilainya diduga berada di atas harga pasar disebut pengamat menjadi alarm serius bagi tata kelola keuangan negara. bbc.com/indonesia/arti…
Indonesia
Pipit retuiteado

Total ada : 21.801 unit
Harga : 56,8 Juta
Total : 1,238 Triliun Rupiah
Kita ambil asumsi rata-rata gaji guru (gabungan honorer dan ASN) di angka Rp4.000.000 per bulan.
Angka 1,238 Triliun itu setara dengan:
- Membayar gaji 309 ribu guru selama satu bulan.
- Atau membiayai 860 guru dari mulai mereka pertama mengajar sampai pensiun (30 tahun).
- Skala Nasional: Di Indonesia, total ada sekitar 149.000 SD. Jadi, uang itu bisa menggaji 20% (seperlima) dari seluruh guru SD di Indonesia secara bersamaan dalam satu bulan.
- Skala Kota: Satu kota besar (seperti Jakarta atau Surabaya) biasanya memiliki sekitar 1.000 hingga 2.000 sekolah. Artinya, uang tersebut bisa menggaji seluruh guru di 15 sampai 20 kota besar sekaligus.
- Barisan Sekolah: Jika 30.957 gedung sekolah SD tersebut dijejerkan berdampingan, barisannya bisa memanjang sekitar 900 kilometer, atau hampir sepanjang Pulau Jawa (dari Jakarta sampai Surabaya).
Uang ada emang udah ada dari dulu
tapi emang guru itu dipandang sebelah mata
pendidikan itu kagak cuan soalnya
susah di tilep walaupun udah bnayka yang di tilep

Indonesia
Pipit retuiteado

Untuk mahasiswa ekonomi atau yg tertarik international finance, ada banyak pertanyaan yg diajukan ke saya soal Krisis 98. Pertanyaan secara reguler diajukan setiap kali rupiah melemah. Platform X tentu bukan forum yg adil untuk membahas secara lengkap soal ini, krn keterbatasannya.
Yg paling baik adalah membaca kembali study2 tentang beberapa krisis yg dialami Indonesia. Sumber tiap krisis bisa berbeda.
Berikut saya berikan beberapa potongan dan referensi dari tulisan saya “Role of Exchange Rates in Threes Financial Shocks in Indonesia, yg di edit olen Maurice Obstfeld dan Douglas Irwin, dalam buku Floating Exchang Rate at Fitfy. Obsteld dan Irwin kerap dianggap “guru guru” dalam internationa trade and finance.
Dalam tulisan ini saya menunjukkan bagaimana tingkat bunga yg tinggi akibat inflasi yg tinggi mendorong private sector meminjam dari luar, dimana tingkat buat di luar negeri relative lebih rendah.
Dan krn depresiasi rupiah “ di garansi” 5% melalui managed floating exchange rate sejak 1978 membuat pelaku ekonomi menghiraukam resiko exchange rate. Pinjaman jangka pendek swasta naik.
Ketika peg rupiah harus dilepas oleh BI krn tekanan nilai tukar akibat krisis Thai Bath di Thailand, maka utang tsb dalam nilai rupiah melompat, ini yg disebut Carmen Reinhart dan Calvo sbg fear of floating.
Situasi ini dikombinasina dg banking sector yg buruk. NPL sangat tinggi dst. Silahkan membaca lengkapnya …
Menariknya ketika mulai mengadopsi flexible exchange rate, ia membantu untuk membuat pelaku pasar terbiasa dg resiko exchange rate dan membantu portfolio balancing mereka shg “risk” menjadi “calculated risk”. Lengkapnya bisa dibaca dalam buku ini
cup.columbia.edu/book/floating-…
Untuk mhs ekonomi saya sangat menganjukan membaca buku ini, krn banyak guru”internationa finance” spt Frankel, Krugers, Helene Rey, Hyun Song Shin, Linda Goldber dsb menulis dalam buku ini.
Namun dalam chapter ini, dan juga dalam paper saya di Oxford Review of Economic Policy, “ The Impossibility of the impossible trinity? The case of Indonesia, link nya
academic.oup.com/oxrep/issue/39…
saya menunjukkan floating exchange rate ala Mundell-Flemming juga tdk bisa diterapkan sepenuhnya, krn costnya thd perekonomian juga besar terutama dalam kondisi arus modal yg volatile, krn itu Central Bank tetap perlu melalukan intervensi, bukan untuk pegging the level tetapi smoothing the volatility.
Karena itu perlu managing capital flow dan integrated framework. Silahkan membaca
Saya juga menulis
Perbandingan 3 krisis (Krisis 98, Glibal Financial Crisis dan Taper Tantrum) secara lebih rinci juga bisa dilihat dalam chapter saya Twenty Years after the Financial Crisis (free access) dalam buku yg diterbitkan oleh IMF (free access ini link nya elibrary.imf.org/display/book/9…
Tentu tidak ada jawaban tunggal untuk issue ini. Tulisan2 ini adalah upaya untuk memahami apa yg terjadi dan tentu tidak bisa mengklaim sebagai satu2nya penjelas final. Ilmu pengetahun harus bisa dibuktikan salah, dan karena itulah pemikiran berkembang, krn ia tidak difinalkan. Dan paling tidak, ini membantu mengingatkan saya: bahwa saya belum selesai jg bodohnya.




Indonesia
Pipit retuiteado
Pipit retuiteado

Dear MSc or PHD students,
Here are 10 AI Tools for Reading & Understanding Research Papers
1) ChatPDF
Lets you upload a research paper and interact with it like a chatbot. You can ask for summaries, explanations of methods, or clarification of results, making it ideal for quickly grasping key points without reading everything.
2) Humata AI
Analyzes long academic PDFs and allows you to ask detailed questions about specific sections. It’s especially useful for extracting insights and understanding dense or technical documents efficiently.
3) Paper Digest
Generates concise summaries of research papers, highlighting key findings and contributions. It’s a fast way to understand the main points of a paper without reading it fully.
4) Scholarcy
Transforms research papers into structured summaries by extracting key points such as findings, methodology, and limitations. This is particularly useful for literature reviews and quick evaluation of papers.
5) Explainpaper
Allows you to highlight difficult sentences or paragraphs and get simplified explanations instantly, helping you understand challenging academic writing without needing external resources.
6) NotebookLM
Enables you to upload multiple papers and generate summaries, insights, and connections between them. It helps build a deeper understanding across several sources rather than just one paper.
8) Scite
Shows whether a research paper is supported or contradicted by other studies. This helps you evaluate the credibility and reliability of what you’re reading.
9) Semantic Scholar
Highlights key insights, influential citations, and important sections of papers, allowing you to quickly assess relevance and importance without deep reading.
10) Mathpix
Converts complex equations and PDF content into readable and editable formats, making it especially useful for understanding technical or math-heavy research papers.
English
Pipit retuiteado

I think the window for strikes against Iran opens tonight, with a very high probability of them taking place this week
Dmitri Alperovitch@DAlperovitch
Looks like military action against Iran could commence within days…
English
Pipit retuiteado

Gokil emang prediksi doi. Akurat juga dulu waktu Rusia pertama kali nyerang Ukraina.
Dmitri Alperovitch@DAlperovitch
I think the window for strikes against Iran opens tonight, with a very high probability of them taking place this week
Indonesia
Pipit retuiteado
Pipit retuiteado
Pipit retuiteado
Pipit retuiteado

Pipit retuiteado
Pipit retuiteado
Pipit retuiteado










