Bambang@sibambaang
Berikut adalah analogi sederhana mengapa nilai Rupiah terus melemah terhadap USD.
Mari kita bayangkan dunia ini sebagai sebuah Mall Raksasa, Amerika Serikat adalah pengelola Mall Raksasa tersebut.
Dolar AS (USD) adalah Koin Resmi Mall. Pemilik Mall membuat aturan bahwa semua transaksi besar, sewa tempat, dan pembelian bahan baku utama wajib menggunakan Koin Resmi ini.
Indonesia adalah sebuah toko roti yang cukup besar dan ramai di dalam Mall tersebut. Rupiah adalah kupon khusus yang hanya berlaku di dalam toko roti kita.
Kupon toko kita (Rupiah) sangat laku kalau dipakai untuk menggaji karyawan pembuat roti atau membeli bahan lokal. Tapi masalahnya, oven canggih, gandum kualitas tinggi, sampai mesin kasir harus dibeli dari toko lain di dalam Mall. Dan toko-toko lain itu hanya mau dibayar pakai Koin Resmi Mall (Dolar).
Selain itu, dulu saat mau memperbesar toko, kita meminjam modal menggunakan Koin Resmi. Akibatnya, setiap bulan kita harus menukarkan kupon kita (Rupiah) dengan Koin Mall (Dolar) untuk membayar cicilan dan membeli bahan baku. Karena kita selalu butuh Koin Mall, harganya jadi terus naik.
Coba perhatikan grafik saat tahun 1998, 2008, atau saat pandemi 2020. Anggap saja saat itu Mall Raksasa tiba-tiba mati lampu atau ada isu bom. Pengunjung dan investor di seluruh Mall menjadi panik.
Dalam keadaan panik, orang-orang tidak mau memegang "Kupon Toko Roti" (Rupiah). Mereka semua berlari ke kasir utama untuk menukarkan semua kupon yang mereka punya kembali menjadi "Koin Resmi Mall" (Dolar) karena itu dianggap aset yang paling aman dan pasti laku di mana saja. Karena semua orang membuang kupon kita secara bersamaan, nilai kupon kita (Rupiah) langsung anjlok parah.
Apakah Pemilik Mall (Amerika Serikat/Elit Global) mengadakan rapat rahasia setiap malam untuk menghancurkan toko roti kita? Tidak perlu. Mereka cukup membuat sistem di mana mereka selalu untung.
Pemilik Mall memegang kunci brankas Koin Resmi. Ketika Pemilik Mall sedang butuh banyak uang untuk urusan keluarganya sendiri (masalah ekonomi internal AS), mereka cukup membuat pengumuman:
"Siapa yang mau menabung Koin Resmi di brankas saya, akan saya beri bunga/keuntungan yang tinggi!" (Ini analogi saat Bank Sentral AS / The Fed menaikkan suku bunga).
Mendengar itu, pengunjung dari seluruh penjuru Mall akan menyedot uang mereka dari toko-toko (termasuk dari toko roti kita) untuk ditabungkan ke brankas Pemilik Mall. Koin Resmi menjadi sangat langka dan mahal. Toko roti kita yang butuh Koin Resmi untuk bayar utang dan beli gandum jadi kelabakan, dan nilai kupon kita makin tidak ada harganya dibandingkan Koin Resmi.
Tidak perlu ada konspirasi harian yang secara spesifik menargetkan agar Indonesia tetap miskin. Hanya saja kita bermain di dalam sebuah Mall yang aturan utamanya sudah didesain sejak awal untuk selalu menguntungkan si Pemilik Mall.
Mengubah nasib berarti kita harus membuat toko kita begitu luar biasa lebih besar, sampai-sampai orang dari luar rela menukar Koin Resmi mereka hanya untuk mendapatkan produk kita (meningkatkan ekspor berkualitas tinggi), bukan cuma kita yang terus-terusan butuh membeli barang mereka.
Pertanyaan besarnya, kenapa kita berada di mall tersebut? Sampai kapan?