harikamis
97 posts

harikamis retuiteado
harikamis retuiteado
harikamis retuiteado
harikamis retuiteado
harikamis retuiteado

"Amor fati, cintailah takdirmu"
Waktu kecil pas kita cekcok dengan orangtua, bisa jadi setidaknya kita pernah mikir "Gue gak pernah minta dilahirin di dunia".
Untuk pertama kalinya namanya sakit hati itu bukan cuma keluar air mata, tapi sesak di dada yg bener-bener nyata.
Kita menyayangkan terlahir dari keluarga yg gak cukup berada, kita menyalahkan dunia kecil yg pertama kali hadir dalam hidup kita.
Tapi makin dewasa, ternyata kita jadi lebih memahami mereka. Keinginan dan harapan yg gak pernah kejadian bukan karena orangtua kita gak mau, barangkali mereka benar-benar memang gak mampu.
Banyak perkataan dan tindakan orangtua setajam belati karena di masanya mereka gak pernah dapat kesempatan untuk pelajari.
Kita juga mulai melihat adik-kakak yg sering kita berantemin dengan renungan, "Gila ya, padahal ada manusia lain di dunia ini yg nasibnya sama kayak gue. Harusnya kami lebih menyayangi dan saling menguatkan."
Kita mulai menerima bahwa memang begitulah keadaannya, blood is thicker than water.
Tapi begitu kita pergi lebih jauh, berdamainya kita dengan dunia kecil--keluarga--gak cukup jadi tameng dari tamparan-tamparan dunia.
Dunia besar di luar sana ternyata bikin kita jauh lebih babak belur. Sepenuh-penuhnya tangki dengan belas kasih, bahkan belum cukup jadi penjamin ketiadaan rasa perih. Kali ini bukan lagi, "kenapa MEREKA begini?", tapi "kenapa GUE begini?".
Kita mulai menyerah, nodong pistol ke kepala sendiri atas segala keputusan tolol.
Kenapa gue milih jurusan ini?
Kenapa gue ikutin dia buat investasi yg gak gue pahami?
Kenapa gue diam saat harus bicara?
Kenapa gue bicara saat harus diam?
Meja hijau itu ada di dalam kepala, tanpa pembela, tanpa juri. Yg paling nyiksa bukan menanggung kesalahannya... tapi keyakinan bahwa di luar sana, ada orang lain yg lebih berhasil dengan tempat dan kartu yg sama.
We're playing the same game. So why am I the only one losing? Kenapa cuma gue yg gagal?
Saat depresi eksistensial maka cintailah takdirmu--bahkan walau ada api yg sedang membakarmu.
Nietzche--orang yg nulis 'Amor Fati' punya hidup yg tragis. Semasa hidup, dia sakit-sakitan. Tulisannya ga pernah laku. Satu-satunya perempuan yang dia cintai nolak dia dan memilih sahabatnya sendiri.
Dia nulis Amor Fati sembari sakit, miskin, dan sepi.
Bukan dari puncak. Dari dalam lubang.
Amor fati bukan menerima takdir, bukan pasrah.
Tapi cinta. Namanya cinta bukan berarti gak sakit. Justru sebaliknya. Kita mencintai sesuatu bukan karena sempurna, tapi karena milik kita. Kita mencintai orangtua kita yg gak sempurna. Kita mencintai saudara yg dulu kita musuhi.
Kenapa standar itu gak berlaku untuk diri kita sendiri?
Kita menghakimi diri dengan mata hari ini, atas keputusan yg dibuat oleh versi kita yang lebih muda, lebih takut, lebih gak tahu.
Kita juga gak selalu punya kesempatan. Kita juga manusia yg melakukan yg terbaik dengan apa yang ada.
Gapapa... guys.
Rungkad. Patah hati. Ditolak. Salah. Kalah investasi. Diam di saat yg salah dan bicara di saat yang lebih salah lagi.
Itu bukan kegagalan. Itu namanya kehidupan.
Dan hidup kita dengan semua apinya, semua lukanya, semua keputusan yg penuh sesal adalah milik kita sepenuhnya.
Cintai itu. Cintai dirimu. Cintai takdirmu.
Amor fati.
ningrat@SonyEricss6
@liabilitree Cara mengatasi depresi eksistensial gimana ya?
Indonesia

normal nder ak nulis 1 kalimat aja muntah2 gt terus
COLLE@collegemfs
[Cm] skripsian sampe hoek hoek tuh normal gak sih
Indonesia

harikamis retuiteado
harikamis retuiteado
harikamis retuiteado











