Tweet épinglé

Terdapat perbedaan kontras dalam gaya kepemimpinan dan dukungan politik terhadap Presiden Jokowi dan Presiden Prabowo di awal pemerintahan mereka. Jokowi memulai pemerintahan dengan dukungan politik sangat minimalis. Koalisi partai pendukungnya hanya menguasai 37% suara parlemen. Seluruh pimpinan dan alat-alat kelengkapan DPR dikuasai partai oposisi. Dampaknya beberapa program dan kebijakan pemerintah dihambat di DPR, bahkan muncul ancaman pemakzulan. Kabinet Jokowi hanya terdiri dari 34 menteri dan 3 wakil menteri. Tingkat kepercayaan/kepuasan terhadap Jokowi juga rendah hanya sekitar 45%, terutama ketika dia menaikkan harga BBM subsidi pada November 2014. Tingkat kepuasan masyarakat baru meningkat ketika program-program Jokowi mulai menunjukkan hasil: pembangunan infrastruktur, berbagai jenis bantuan sosial termasuk mulai berlakunya BPJS, serta gaya Jokowi yang suka “blusukan”. Pada April 2016 tingkat kepuasan masyarakat mencapai sekitar 67%, serta dukungan politik yang meningkat dengan bergabungnya Golkar dan PPP ke Jokowi,
Sebaliknya Prabowo sejak awal didukung partai dan kabinet yang maksimal. Dengan dukungan hampir 100% partai di parlemen, Prabowo membentuk kabinet sangat gemuk dengan 48 menteri dan 56 wakil menteri. Tingkat kepercayaan kepada Prabowo diawal pemerintahannya mencapai 80%, tetapi setelah satu setengah tahun tampaknya stagnan dan cenderung menurun. Program Prabowo paling masif dan memakan biaya sangat besar, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) justru dinilai kontroversial. Demikian pula penonaktifan sekitar 8 juta peserta BPJS bantuan pemerintah menimbulkan banyak keluhan masyarakat bawah.
Pengalaman Jokowi dan Prabowo ini menunjukkan bahwa besarnya dukungan politik tidak dengan sendirinya menjamin capaian pemerintahan yang lebih besar. Efektivitas pemerintahan tidak semata ditentukan oleh ukuran koalisi atau gemuknya kabinet, tetapi juga sejauh mana program pemerintah dirasakan manfaatnya oleh rakyat. Dukungan politik yang besar dapat memuluskan pengambilan keputusan, tetapi keberhasilan tetap bergantung pada kualitas kepemimpinan dan kemampuan eksekusi. Dalam perspektif ini, pemerintahan yang lahir dari keterbatasan politik justru dapat menghasilkan capaian yang lebih impresif daripada pemerintahan yang sejak awal menikmati dukungan hampir tanpa batas.
Indonesia



