Mas Kendi
8.7K posts

Mas Kendi
@adtyo08
hanya akun biasa yang peduli kepada negara ini...Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur..❌buzzer ❌cebi ❌PL
AD-AB-B Inscrit le Ağustos 2009
1.5K Abonnements877 Abonnés

@DedynurPalakka Orang kalau sdh kultus individu seperti ini, apalagi kalau merangkap termul kebohongan, kemunafikan hal yg biasa demi perut bahkan urat malu pun dihilangkan
Indonesia

@DianSandiU Orang kalau sdh jd termul otaknya pasti kebalik kebohongan dan kemunafikan merupakan hal yg biasa apalagi demi perut dan berharap jabatan makan tai junjungannya pun dijalani
Indonesia
Mas Kendi retweeté
Mas Kendi retweeté
Mas Kendi retweeté

Total ada : 21.801 unit
Harga : 56,8 Juta
Total : 1,238 Triliun Rupiah
Kita ambil asumsi rata-rata gaji guru (gabungan honorer dan ASN) di angka Rp4.000.000 per bulan.
Angka 1,238 Triliun itu setara dengan:
- Membayar gaji 309 ribu guru selama satu bulan.
- Atau membiayai 860 guru dari mulai mereka pertama mengajar sampai pensiun (30 tahun).
- Skala Nasional: Di Indonesia, total ada sekitar 149.000 SD. Jadi, uang itu bisa menggaji 20% (seperlima) dari seluruh guru SD di Indonesia secara bersamaan dalam satu bulan.
- Skala Kota: Satu kota besar (seperti Jakarta atau Surabaya) biasanya memiliki sekitar 1.000 hingga 2.000 sekolah. Artinya, uang tersebut bisa menggaji seluruh guru di 15 sampai 20 kota besar sekaligus.
- Barisan Sekolah: Jika 30.957 gedung sekolah SD tersebut dijejerkan berdampingan, barisannya bisa memanjang sekitar 900 kilometer, atau hampir sepanjang Pulau Jawa (dari Jakarta sampai Surabaya).
Uang ada emang udah ada dari dulu
tapi emang guru itu dipandang sebelah mata
pendidikan itu kagak cuan soalnya
susah di tilep walaupun udah bnayka yang di tilep

Indonesia
Mas Kendi retweeté
Mas Kendi retweeté
Mas Kendi retweeté
Mas Kendi retweeté
Mas Kendi retweeté

@BangPino__ @SianiparRismon bacotanmu persis mulyono ngeles soal ijazah, coba tunjukkan ijazah yamaguchi.mu rasah nggedabrus
Indonesia

@harsono__ Yang namanya termul apapun akan ditempuh walaupun harus mengingkari kebenaran dg berbagai dalih dan narasi demi junjungannya dan perutnya.....tinggal tunjukin ijazah beres.....
Indonesia

Melucuti Topeng Intelektual: Mengapa Keberanian Farhat Abbas Adalah "Alarm" Moral yang Diperlukan
Di tengah riuhnya panggung aktivisme digital Indonesia, sebuah hantaman keras datang dari arah yang tak terduga. Farhat Abbas, pengacara yang kerap disalahpahami karena gaya bicaranya yang tanpa filter, kembali mengguncang kemapanan. Kali ini, ia tidak sedang bermain-main. Tudingannya terhadap Refly Harun dan Dokter Tifa bukan sekadar bumbu karaoke, melainkan sebuah ujian integritas bagi mereka yang selama ini berdiri di atas podium moralitas publik.
Melampaui Retorika: Menguji Konsistensi Tokoh Publik
Publik sering kali terbuai oleh narasi konstitusional dan analisis medis yang keluar dari bibir Refly dan Tifa. Namun, Farhat Abbas mengajukan pertanyaan fundamental yang tidak berani disentuh orang lain: Apakah pribadi di balik argumen tersebut memiliki integritas yang selaras dengan pesan yang mereka bawa?
Pernyataan Farhat tentang insiden "satu kamar" bukan sekadar serangan personal murahan. Ini adalah upaya validasi karakter. Bagi seorang pemimpin opini, integritas pribadi adalah fondasi. Jika fondasi itu retak oleh dugaan "hubungan spesial" yang menyalahi norma, maka setiap argumen hukum dan kritik yang mereka lontarkan patut dipertanyakan validitas moralnya. Farhat sedang menjalankan fungsi kontrol sosial yang ekstrem, namun diperlukan.
Keberanian Menanggung Risiko: Langkah Sang Penantang
Banyak yang menuding Farhat "bermain api" dengan UU ITE. Namun, mari kita lihat dari perspektif lain: Hanya orang yang memiliki keyakinan kuat yang berani mempertaruhkan reputasi profesionalnya di garis depan. Farhat Abbas bukanlah pemain baru dalam dunia hukum. Keberaniannya melempar isu ini ke ruang publik menunjukkan bahwa ia memiliki "amunisi" yang belum sepenuhnya dibuka ke meja hijau.
Alih-alih berlindung di balik diksi hukum yang membosankan, Farhat memilih bahasa yang dipahami rakyat—bahasa kejujuran faktual. Ini adalah langkah pre-emptive strike untuk menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun, termasuk pakar hukum tata negara sekalipun, yang kebal terhadap pengawasan moral.
Membongkar Hipokrasi di Balik Kritik Konstitusional
Ada kesan bahwa Refly dan Tifa adalah sosok yang "tak tersentuh" karena jubah intelektual mereka. Farhat Abbas hadir untuk meruntuhkan dinding tersebut. Jika seorang aktivis vokal menuntut transparansi dari negara, maka mereka pun harus siap transparan terhadap perilaku pribadi mereka di ruang-ruang privat yang bersinggungan dengan etika publik.
Narasi "skandal karaoke" ini adalah instrumen untuk melihat siapa yang benar-benar konsisten dan siapa yang hanya pandai bersilat lidah. Farhat tidak sedang membunuh karakter; ia sedang membedah karakter untuk melihat apakah di dalamnya terdapat konsistensi atau sekadar kemunafikan yang dibungkus gelar akademis.
Menanti Pembuktian: Bola Panas Ada di Tangan Mereka
Diamnya Refly Harun dan Dokter Tifa hingga saat ini justru memperkuat narasi yang dibangun Farhat. Dalam dunia komunikasi krisis, diam bisa diartikan sebagai kegamangan. Farhat telah melempar tantangan terbuka. Jika tudingan itu salah, mengapa tidak ada bantahan instan yang menggelegar?
Kesimpulannya: Farhat Abbas telah menjalankan perannya sebagai katalisator. Ia memaksa publik untuk tidak hanya memuja argumen, tetapi juga memeriksa pembawa argumennya. Dunia hukum butuh orang-orang berani seperti Farhat untuk memastikan bahwa panggung demokrasi kita tidak diisi oleh para "aktor" yang pandai berakting di depan kamera, namun rapuh di belakang layar.
facebook.com/share/1Hk58E19…
✍️ Lentera Merah Putih

Indonesia

@DokterTifa Yang jelas alumni kagama gak ada yg percaya kalau mulyono alumni ugm, apa susahnya nunjukin ijazah...
Indonesia

Bayangkan ya,
Saya dan mas Roy Suryo
Melawan mantan Presiden yang menggunakan dokumen ijazah yang menurut keyakinan kami, berdasarkan hasil penelitian kami, 99,9% palsu.
Itulah mengapa POLDA pun pusing tujuh keliling bagaimana menyelesaikan ini.
Sampai-sampai POLDA butuh bantuan orang ini, yang kalau dilihat dari mukanya pun dia pusing lebih dari tujuh keliling.

Indonesia
Mas Kendi retweeté
Mas Kendi retweeté
Mas Kendi retweeté

Kalau info ini benar, betapa keji cara mainnya...!!!
Jadi si Momin Sianida diberi tugas khusus dari Geng Solo, bukan hanya menyerang Tifa dan Roy Suryo tapi untuk memfitnah AHY dan Puan.
Inti dari masalahnya adalah agar memfitnah AHY dan Puan sebagai dalang dari menggemanya isu Ijazah palsu.
Apa tujuan dari semua itu? Simak baik2 video ini....👇
Ceyemmm 😖
Indonesia

















