Aidul Fitriciada A
43.3K posts

Aidul Fitriciada A
@AidulFa
A father and a husband. Professor of constitutional law; UMS International Relation Studies Program; Dean of UMKT Law Faculty-Samarinda
Solo-Samarinda INDONESIA Bergabung Ekim 2012
497 Mengikuti5.8K Pengikut

@KompasTV Bela bangsa tidak sama dg sama dg bela Pemerintah. Sebagai produk demokrasi via pemilu, Pemerintah harus akuntabel kpd publik yg ditunjukkan dg keterbukaan thd kritik.
Indonesia

Prabowo: Sepintar Apa Pun Kalau Tak Bela Bangsa, Tidak Ada Tempat di Sekitar Saya
kompas.tv/nasional/66600…
Indonesia

Prabowo says “smart” people are free to leave if they believe the nation is moving toward a “dark age”:
“Matanya buram, Indonesia gelap. Indonesia terang. Ada yang mau kabur, kabur saja. Kau kabur saja ke sana. Mungkin ada yang mau kabur ke Yaman. Silakan. Mau kabur ke mana. Hei orang-orang pintar, bukalah berita, lihatlah kita ditempatkan sebagai tempat yang paling aman di dunia sekarang. Kabur saja deh. Iya, kabur saja, biar kita enggak gaduh.”
(nasional.kompas.com/read/2026/04/2…)

Indonesia
Aidul Fitriciada A me-retweet
Aidul Fitriciada A me-retweet
Aidul Fitriciada A me-retweet
Aidul Fitriciada A me-retweet
Aidul Fitriciada A me-retweet
Aidul Fitriciada A me-retweet

Subuh 1945, ia justru mengirim telegram saat semua raja lain masih menunggu arah. Di meja istananya, keputusan itu langsung memotong masa depan keluarganya sendiri.
Namanya Sultan Syarif Kasim II. Raja terakhir Siak Sri Indrapura.
Isi pesannya singkat.
Tidak ada syarat.
Tidak ada negosiasi.
Kesultanan Siak berdiri penuh di belakang Republik Indonesia.
Beberapa hari kemudian, ia tidak berhenti di kata-kata.
Ia membuka kas kerajaan.
13 juta gulden keluar. Jumlah yang, jika dihitung hari ini, setara lebih dari Rp1 triliun.
Belum selesai.
Mahkota emas dilepas. Pedang bertatahkan berlian ikut diserahkan. Perhiasan kerajaan menyusul. Saat itu, Republik bahkan belum punya kas negara yang jelas.
Di titik ini, pilihannya sebenarnya masih terbuka. Ia bisa seperti Yogyakarta.
Tetap berkuasa...
Mendapat status istimewa !
Ia tidak memilih itu
Siak dilebur penuh ke dalam NKRI.
Tanpa syarat !
Tanpa kursi !
Tanpa jaminan masa depan politik !
Bersamaan dengan itu,
wilayahnya ikut masuk. Termasuk kawasan yang kelak dikenal sebagai Blok Minas. Salah satu ladang minyak terbesar Indonesia.
Negara tumbuh...
Devisa mengalir...
Hidupnya justru mengecil 😢
Ia meninggalkan istana. Pindah-pindah antara Jakarta, Aceh, lalu kembali ke Siak.
Tidak ada jabatan...
Tidak ada protokol...
Catatan tentang masa tuanya selalu sama : sederhana !
23 April 1968, ia wafat di RS Caltex, Rumbai.
Bukan di istana..
Bukan sebagai raja..
Tiga puluh tahun kemudian, negara baru memberi gelar.
Pahlawan Nasional, 1998.
Dan satu hal yang jarang disebut di awal cerita :
Ia tidak kehilangan tahta karena direbut.
Ia yang menyerahkannya sendiri !

Indonesia
Aidul Fitriciada A me-retweet

Hallloooo rakyat Kalimantan. Ini lho gubernur kalian. Dinasti dinasti jaya jaya jaya..🤭
Mar Teg@LexMarteg
Peringatan Buat Para Pejabat's........ Kalian dipilih oleh rakyat Dannnnnn..... Jgn bikin marah rakyat
Indonesia

@Naz_lira Segede itu, ya?
Kok gak ngajak saya, ya?
Padahal sesama Solo
😁
Indonesia

@geminijahat Tapi, kuliahnya hebat². Rerata dari universitas terbaik di Indonesia. Wajar juga dipromosikan ortunya
Indonesia
Aidul Fitriciada A me-retweet

Ini video lama yg menjelaskan bahwa Pak Prabowo & keluarga berpihak ke Amerika . Ternyata memang sudah dari dulu .
Dlm Video ini jelaskan secara gamblang oleh adek nya , Pak Hashim Sujono Djojohadikusumo.
**Parah nya … selain pro Amrik tapi juga nurut banget ya ..? Kayak gak ada kedaulatan saja negara kita sekarang ini 🤦
Indonesia
Aidul Fitriciada A me-retweet
Aidul Fitriciada A me-retweet

@Fahrihamzah Seskab itu dapur administrasi eksekutif. Tidak banyak muncul ke publik, tapi tidak ikut kemana² juga.
Indonesia

POSISI STRATEGIS SEKRETARIS KABINET
Di balik setiap keputusan Presiden, selalu ada satu posisi yang bekerja dalam senyap namun menentukan arah: Sekretaris Kabinet.
Posisi ini jarang tampil ke depan, tidak selalu terlihat hasil kerjanya secara langsung, tetapi berada di titik yang sangat krusial—menghubungkan kehendak Presiden dengan mesin negara yang besar dan kompleks. Dalam konteks pemerintahan Prabowo Subianto, peran ini menjadi semakin penting, karena arah kebijakan yang diambil bersifat strategis, lintas sektor, dan berdampak jangka panjang.
Di sinilah letak tantangan utamanya.
Sekretaris Kabinet bukan sekadar administrator rapat atau pencatat keputusan. Ia adalah penjaga konsistensi arah Presiden, penghubung antar-kementerian, sekaligus penerjemah visi besar menjadi langkah-langkah yang dapat dijalankan. Ia harus memahami cara berpikir Presiden—sering kali sebelum hal itu sepenuhnya terucap—dan memastikan bahwa arah tersebut tidak terpecah dalam pelaksanaannya.
Karena itu, kedekatan dengan Presiden bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan.
Dalam banyak sistem pemerintahan modern, posisi seperti ini memang menuntut tingkat kepercayaan yang sangat tinggi. Tanpa kepercayaan, koordinasi akan melambat. Tanpa kedekatan, pesan akan terdistorsi. Dan tanpa keduanya, arah kebijakan bisa kehilangan kohesinya.
Namun justru di titik inilah sering muncul salah paham di ruang publik.
Apa yang secara fungsional merupakan kebutuhan kerja, kerap terbaca sebagai kedekatan personal yang berlebihan. Apa yang seharusnya dipahami sebagai mekanisme institusional, sering kali dilihat sebagai relasi individual. Padahal, yang sedang bekerja bukan sekadar seorang individu, melainkan sebuah posisi yang secara inheren memang berada sangat dekat dengan pusat pengambilan keputusan.
Hal ini juga dialami oleh Teddy Indra Wijaya dalam menjalankan tugasnya. Sebagai figur yang relatif muda dan berada di posisi yang sangat strategis, ia menghadapi dua tekanan sekaligus: menjaga kepercayaan Presiden, sekaligus menghadapi persepsi publik yang tidak selalu memahami kompleksitas perannya.
Di satu sisi, ia harus mampu menangkap arah besar kebijakan Presiden dan memastikan seluruh jajaran pemerintahan bergerak dalam satu garis. Di sisi lain, ia berada dalam ruang publik yang cepat menilai, sering kali tanpa melihat keseluruhan konteks.
Ini adalah posisi yang secara alamiah sulit.
Lebih sulit lagi karena sebagian besar pekerjaannya terjadi di balik layar. Ketika koordinasi berjalan baik, ia tidak terlihat. Ketika arah kebijakan konsisten, ia tidak disebut. Namun ketika muncul persepsi yang keliru, posisi ini justru menjadi sorotan.
Di era komunikasi yang serba cepat dan fragmentatif, tantangan ini semakin besar. Publik cenderung melihat potongan-potongan peristiwa, bukan keseluruhan desain kebijakan. Dalam kondisi seperti ini, siapa pun yang berada di titik persimpangan antara Presiden dan sistem negara akan rentan disalahpahami.
Karena itu, penting bagi kita untuk melihat posisi Sekretaris Kabinet secara lebih utuh.
Ini bukan semata soal individu. Ini adalah soal bagaimana sebuah pemerintahan bekerja. Bagaimana visi Presiden dijaga agar tetap konsisten. Bagaimana keputusan tidak terfragmentasi. Dan bagaimana negara memastikan bahwa arah besar tidak hilang di tengah kompleksitas pelaksanaan.
Dalam perspektif ini, kedekatan dengan Presiden bukanlah keistimewaan, melainkan tanggung jawab. Bahkan bisa dikatakan, semakin dekat posisi tersebut dengan pusat kekuasaan, semakin besar pula beban yang harus ditanggung.
Di sinilah letak sesungguhnya dari posisi strategis itu.
Dan mungkin, juga letak dari kesulitannya.
Bagaimana menurut sedulur?
Indonesia
Aidul Fitriciada A me-retweet
















