jujur.....gue suka banget tidur....soalnya kalo tidur gue ga overthink......kepala gue ga berisik......gue ga melihat/membaca hal2 yg triggering.....jadi ya gue menghilang aja gitu.....tapi ga meninggal......i'm not existing for a while......menikmati hari.....istirahatin pikiran
Ya gimana ya.... Banyak orang yg dari kecil mindsetnya udah dibiasain terus²an dalam Survival Mode 🥹
Tiap mau explore:
"Dek, jangan nakal..."
"Jangan nangis.."
"Jangan suka coret-coret!"
"Jangan dimainin!"
Tiap mau eksplorasi, dilarang.
Mau ekspresi, disuruh diam.
Sambil diberi ketakutan/ancaman yg intens... dipelototin, diteriakin, atau bahkan disentil, dicubit, yg bikin kita dulu kehilangan rasa aman tiap mau eksplorasi...
Akhirnya ya.. pas gede, energi kita habis cuma buat "menjaga diri" supaya nggak salah langkah, supaya Papa - Mama ngga marah, supaya perasaan orang lain terjaga,
energinya habis untuk memastikan kita tidak melakukan kesalahan atau tidak mengecewakan orang lain
sampai dewasa masih kebawa: lupa gimana caranya lari ngejar mimpi, demi menjaga agar diri kecil kita ini tetap merasa aman 🥹🥹🥹
GUYS AKU NANGIS BGT BENERAN NANGIS SAMA KATA2 JAY YG INI 😭😭
🐈⬛: “setiap orang di dunia ini mungkin menjalani hampir setengah hidupnya dengan kesulitan, dan bagiku setengah lainnya dipenuhi rasa syukur.”
🐈⬛: “aku sering mendengar bahwa hidup itu seperti kanvas.”
🐈⬛: “kalau itu benar, berarti aku bersama begitu banyak ENGENE sekarang, dan akan terus bersama kalian ke depannya.”
🐈⬛: “di momen terakhir hidupku nanti, aku sudah bisa melihat bahwa kanvasku akan dipenuhi warna yang lebih beragam daripada siapa pun.”
🐈⬛: “jadi aku harap ENGENE tidak menganggap ini hanya sekadar mendukung seseorang untuk bersenang-senang saja.”
🐈⬛: “hal-hal yang kita capai bersama, kesalahan yang kita lakukan bersama, dan hal-hal yang kita lewati bersama,”
🐈⬛: “kalian adalah satu warna dalam kanvas kehidupan setiap anggota yang sedang kalian dukung, dan itu tidak akan pernah terhapus.”
🐈⬛: “entah itu sebentar atau seumur hidup, itu tidak penting.”
🐈⬛: “aku berharap kita dan ENGENE bisa menjadi hubungan yang setidaknya saling berbagi satu warna—satu momen—dalam kehidupan masing-masing.”
guyss jangan jahat sama mereka-mereka yang mungkin tertinggal yaa. karena dari diri mereka pasti ada banyak keinginan untuk berjuang dan mengejar garis finishnya
Rusak lagi. Dibenerin lagi. Begitu terus.
Kalau kamu pernah melewati fase
hampir “gila” karena sibuk perang
dengan isi kepala sendiri...
lelah dengan keadaan,
ngerusak mood sendiri,
lalu mencoba membenahinya lagi.
Stres lagi,
menyalahkan diri lagi,
lalu pelan-pelan berdamai lagi.
Rusak lagi,
dibenerin lagi.
Kalau kamu pernah melewati itu semua,
kamu pantas mengapresiasi dirimu sendiri.
Karena tidak semua orang tahu
betapa beratnya berperang dengan pikiran sendiri.
“Ternyata aku lebih kuat dari yang aku kira.
Dan aku bangga pada diriku sendiri karena sudah
sampai sejauh ini.” 💙
Aku berhutang satu kata pada diriku sendiri: maaf.
Maaf ya,
untuk semua lelah yang sering kuabaikan,
untuk semua badai yang kupaksa kuat.
Di ramadhan berikutnya mari kita datang lagi dengan versi diri yang lebih baik, lebih sehat, dan penuh kelancaran dalam setiap apapun itu. 🤍
“Jelek banget sih kamu?”
“Udahlah, lu tuh g akan pernah bisa!”
“Knp sih lu itu bego banget?”
“Ga ada org yg suka sama lo!”
“Dasar pengecut!”
Sakit nggak baca kalimat2 itu?
Tentu saja. Ga ada org yg mau dikatain begitu.
Tapi knp justru kamu pake buat ngatain dirimu sendiri? 🥺
Anyway belated reminder karena aku agak ketriger waktu diskursus suic*de in public space kemarin, aku cuma mau bilang kalau emang kompas moral kamu enggak bisa nerima mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidup (di manapun itu) please don’t judge them
Yang lebih menakutkan, di balik senyum yang ditunjukkan ke dunia, sering ada satu pikiran gelap yang terus berulang: “Bagaimana kalau aku mengakhiri semuanya?”
Itulah alasan kenapa mereka tidak boleh ditinggalkan sendirian. Bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka sedang berperang melawan dirinya sendiri.
Mereka tidak butuh nasehat panjang. Mereka butuh pelukan. Tidak butuh dihakimi. Mereka hanya butuh diyakinkan kalau keberadaannya berarti, kalau hidupnya masih pantas diperjuangkan.
Kadang, sekadar duduk menemani mereka dalam diam bisa jadi alasan kenapa mereka bertahan satu hari lagi. Dan percayalah, satu hari itu bisa menyelamatkan sebuah nyawa.
Orang dengan gangguan mental itu luar biasa kuat.
Bayangkan saja, setiap hari mereka bisa pakai topeng, tersenyum di depan banyak orang, pura-pura bahagia, pura-pura tidak ada luka. Mereka bisa bilang “aku baik-baik saja” dengan suara tenang, padahal di dalam dirinya ada badai yang tidak pernah reda.
Tapi begitu sendiri, mereka berubah. Tawa berganti tangis. Nafas jadi berat, dada sesak. Tangan sendiri jadi sasaran untuk ditinju, rambut sendiri jadi pelampiasan.
Kepala penuh suara, ribut, bising, kacau, tapi tak ada kata yang bisa mewakili apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Hanya hampa yang menyakitkan.