pengagum
9.7K posts


Ciuman aja heboh
Pelecehan, pemerkosaan, kdrt, pembunuhan, korupsi, narkoba, dll lu pada ga segininya 😂😂
Anw, happy pride month! 🥰🏳️🌈✨
#PerluDilindungi@Hexagon48_
perkara ciuman aja heboh, kaum hetero suka buang bayi nohh urusin
Indonesia
pengagum me-retweet

@yappingfess Kaum ini narasinya mainnya diperbandingan kayak Gini ya polanya. Padahal reaksi netizennya sama aja kok ke dua kasus itu. Kalau sanksinya beda ya tanya ke kampusnya lah
Indonesia

Yap! Pelaku KS/Pelecah@n yg merugikan perempuan masih diizinkan aktif berkuliah ( dengan sanksi diskor 1-3 semester), sedangkan queer harmless yg dirugikan juga diri sendiri lgsg di DO + diarak masa, WDYT guys ?
Indonesia

Engga, dua2nya sama2 berdosa
Natal.nya FM@L0vehe4ls
cuma di indonesia, jadi orang gay lebih berdosa daripada jadi pelaku pelecehan seksual wkwkkwkwkkwkwkkwkwkwkkwkwk
Indonesia

@tahubulat926 gw sumpahin mahasiswa2 homopobik yang ada di arak-arakan itu mudah lulus atau mudah dapet kerja + lancar rejekinya
Indonesia

@atmawiratna_ Analoginya salah, kita ga pernah punya masalah sama anak culun itu
Tapi sama pendukung2nya yang norak
Indonesia

Buat yang masih bingung kenapa fans Arsenal banyak yang tidak disukai oleh semua orang, ijinkan saya untuk menjelaskan dengan analogi yang sederhana.
Jadii.. Pada suatu hari di sebuah sekolah, ada seorang anak yang menjadi bahan tertawaan hampir setiap hari.
Ia culun, pendiam, dan tidak memiliki banyak teman.
Saat berjalan di koridor, kehadirannya nyaris tak pernah dianggap. Para pentolan sekolah menjadikannya sasaran favorit pembulian.
Mereka mengejeknya di depan banyak orang, mempermalukannya di kelas, dan terus membuatnya merasa bahwa dirinya tidak akan pernah menjadi siapa-siapa.
Setiap kali ia mencoba melawan, mereka tertawa.
Setiap kali ia mencoba membela diri, mereka meremehkannya.
Lama-kelamaan, anak itu berhenti berbicara. Ia memilih menyimpan semuanya dalam diam.
Namun ada satu hal yang tidak pernah mereka sadari.
Anak itu mengingat semuanya.
Ia mengingat setiap hinaan. Setiap tawa. Setiap hari ketika harga dirinya diinjak hanya untuk hiburan orang lain.
Waktu berlalu, dan masa sekolah pun berakhir.
Hidup membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Para pentolan sekolah masih hidup dengan kebanggaan masa lalu. Mereka terus bercerita tentang betapa hebatnya diri mereka dulu, seolah dunia masih berputar di sekitar reputasi yang mereka miliki saat remaja.
Sementara itu, anak yang dulu dibuli memilih bekerja dalam diam.
Tanpa banyak bicara. Tanpa mencari pengakuan.
Tahun demi tahun berlalu. Ia membangun karier. Membangun jaringan. Membangun pengaruh.
Hingga suatu hari, nasib mempertemukan mereka kembali.
Kali ini, posisi mereka tidak lagi sama.
Anak culun yang dulu mereka hina kini berdiri jauh di atas mereka. Ia memiliki kemampuan, pengaruh, dan kekuatan yang cukup untuk melawan orang-orang yang pernah merendahkannya.
Dan di situlah semuanya berubah. Para pentolan sekolah tidak terima.
Mereka mulai berkata bahwa ia sombong. Bahwa ia belagu. Bahwa ia lupa diri.
Padahal yang sebenarnya membuat mereka marah bukanlah sikapnya. Mereka marah karena kehilangan kendali.
Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa anak yang dulu mereka paksa menunduk sekarang bisa membuat mereka terganggu.
Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang dulu mereka tertawakan kini memiliki pilihan untuk melawan.
Dan yang paling menyakitkan bagi mereka adalah.. kenyataan bahwa semua itu bukan karena keberuntungan. Melainkan karena kerja keras orang yang pernah mereka hina.
Mereka mengira dia hanyalah seorang pecundang.
Padahal selama ini mereka hanya menjadi tokoh antagonis dalam cerita kebangkitan seseorang.
Dan tidak ada yang lebih sulit diterima oleh seorang pembuli selain melihat korban mereka berhasil... lalu membalasnya dengan menunjukkan siapa yang sebenarnya berada di atas sekarang.
Indonesia









