Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi
2.8K posts

Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet

Şiddetli bir trafik kazasında burnu ağır hasar gören bir hasta, enfeksiyon nedeniyle normal yöntemlerle tedavi edilemez hale geldi.
Çin’deki Fujian Tıp Üniversitesi Hastanesi’ndeki cerrahlar, son derece ileri bir rekonstrüktif cerrahi uyguladı: Hastanın kendi kaburgasından kıkırdak alarak yeni bir burun yapısı oluşturdu.
Bu yapıyı, kan dolaşımının güçlü olduğu alın bölgesindeki derinin altına yerleştirdi.
Aylar süren beklemenin ardından yeni burun, kendi damarlarını geliştirerek canlı kaldı. Şimdi ise yüzündeki asıl yerine yerleştirilmeye hazırlanıyor.

Türkçe
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet

Tumbal Tragedi Bintaro 1987: Kisah Pilu Masinis Slamet Suradio yang Terbuang dan Menanti Keadilan
JAKARTA — Tragedi Bintaro yang terjadi pada 19 Oktober 1987 masih menyisakan luka mendalam dalam sejarah perkeretaapian Indonesia. Insiden maut yang merenggut 139 nyawa dan melukai 254 orang tersebut selalu dikenang sebagai bencana kelam. Namun, di balik puing-puing besi lokomotif yang hancur, ada satu kepingan sejarah yang hingga kini dibiarkan usang dimakan waktu: kisah pilu Slamet Suradio, sang masinis KA-225 yang dituduh sebagai tersangka utama.
Selama puluhan tahun, publik disuguhi narasi bahwa Slamet adalah pihak yang paling bersalah. Namun, benarkah demikian?
Kesalahan Komunikasi dan Surat PTP yang Diabaikan
Hari itu, Slamet Suradio dituduh memberangkatkan kereta api tanpa seizin petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA). Narasi ini menyudutkannya seolah ia bertindak ceroboh dan melanggar aturan.
Faktanya, sebelum lokomotifnya melaju, Slamet telah mengantongi surat Pemindahan Tempat Persilangan (PTP). Dalam dunia perkeretaapian, surat tersebut adalah nyawa dan perintah; surat itu adalah izin resmi bahwa keretanya sah untuk diberangkatkan. Celakanya, terjadi kesalahan komunikasi fatal antara petugas PPKA Stasiun Sudimara dengan Stasiun Kebayoran. Kesalahan sistemik inilah yang pada akhirnya menempatkan dua kereta baja melaju di satu jalur yang sama, berujung pada tabrakan hebat yang tak terhindarkan.
Sepanjang perjalanan maut itu, Slamet mengaku tidak melihat satu pun rambu-rambu darurat yang mengisyaratkan perintah untuk menghentikan kereta.
Bertahan di Balik Kemudi: Mematahkan Stigma "Pengecut"
Selain dituduh berangkat tanpa izin, Slamet juga harus memikul fitnah keji bahwa ia melompat keluar dari lokomotif sesaat sebelum tabrakan terjadi demi menyelamatkan diri.
Kenyataan di lapangan berbanding terbalik. Ketika jarak antara dua kereta sudah terlalu dekat, asisten masinis-lah yang melompat keluar. Sementara itu, Slamet Suradio memilih bertahan di dalam kabin lokomotif. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik tuas rem darurat hingga tangannya tak lagi sanggup bertahan.
Saat benturan keras terjadi, tubuhnya terpental ke lantai lokomotif. Hantaman itu membuat tulang pinggulnya retak dan matanya terluka akibat pecahan kaca yang berserakan. Dalam kondisi kritis, berlumuran darah, dan menahan sakit yang luar biasa, ingatannya hanya tertuju pada satu hal: bukti kebenarannya. Ia meminta tolong kepada seseorang untuk memfotokopi surat PTP yang masih ada di dalam kantong seragamnya sebanyak mungkin. Di atas surat itu, bercak darah Slamet ikut tertoreh, menjadi saksi bisu tragedi tersebut.
Ketidakadilan di Meja Hijau
Namun, segala bukti dan pembelaan Slamet seolah menguap begitu saja di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Fotokopi surat PTP yang telah ia perjuangkan tak berarti apa-apa di hadapan majelis hakim. Pengabdiannya selama 23 tahun sebagai masinis runtuh seketika.
Ia divonis sebagai terpidana. Tidak hanya itu, ada rentetan ketidakadilan lain yang menimpanya. Ia mengaku kerap dipaksa menandatangani dokumen-dokumen tak jelas asal-usulnya oleh oknum tertentu. Puncaknya, ia dipecat dari pekerjaannya sebagai masinis tanpa diberikan pesangon sepeser pun.
Pengkhianatan dan Bertahan Hidup dari Sebatang Rokok
Kehancuran karier dan kebebasannya ternyata bukan satu-satunya cobaan. Di saat ia sangat membutuhkan dukungan moral, sang istri justru menggugat cerai dan memilih menikah dengan pria lain, meninggalkan Slamet sendiri meratapi nasibnya.
Kini, masa kejayaan sang masinis telah lama redup. Pria renta itu kini harus mengais rezeki dengan berjualan rokok eceran. Setiap hari, ia harus menempuh jarak sekitar 15 kilometer dari tempat asalnya untuk berdagang. Hidupnya jauh dari kata layak. Pernah suatu ketika, ia tidak bisa pulang ke rumah selama dua bulan penuh karena sama sekali tidak memiliki ongkos. Untuk merebahkan tubuh rentanya, ia menjadikan musala sebagai tempat bernaung sehari-hari.
Indonesia
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet

BREAKING NEWS seorang oknum angota polisi di perumahan candra baru,jatirahayu,bekasi..
#beritaterkini #infoterkini #beritaviral #bekasi #polisi
Indonesia
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet
Paramarta Yogi me-retweet




















