
Dirgabyte | Open Commission (3/5)
8.6K posts

Dirgabyte | Open Commission (3/5)
@dirgabyte
• ディルがバイト • IRL Human | Virtual Existence (VTuber) • https://t.co/SFuFoSgHHV
New Santara Bergabung Kasım 2012
243 Mengikuti246 Pengikut
Tweet Disematkan

Yo Mari Mantap! 🔥
Gua buka commission kecil2an, bisa cek link ini atau cek bio gua.
linktr.ee/dirgabyte
Yang minat boleh DM ya.
100% AI-HM Generated (Asli Ini Hand Made Generated). Tentunya dengan style gua sendiri.
Slot gua batasi 5 dulu. #CommissionOpen
Indonesia

@ChronoNEKO95 Semangat dalam pernikahannya 🙏🏻
Indonesia

@Frederett_ Ketika masih single dulu benci bgt sama ortu karena merasa gak bebas
Tapi setelah menikah, justru nyesel benci sama ortu. Nyesel gak dengerin mereka.
Indonesia

hmm, ortu gw sangat strict, sampai detik inipun.
alhasil? iya gw suka bohong ke mereka sampai detik ini juga.
positifnya? gw sekarang anak baik2, ga pnah ikut kehidupan malam, dugem club ga pernah, cuma ngetem di rumah, ga pernah nginep2, literally anak baik.
negatifnya? gw sampai detik ini masih benci ortu, sampai dititik pengen lepasin hubungan keluarga.
@
Jadi.. selama 10 tahun terakhir, cara parenting yang katanya "lembut dan baik" itu TERNYATA gagal total. Iya, gagal. Penelitian di tahun 2025 di Amerika menunjukan: keluarga yang pake aturan tegas—jam malam nggak bisa ditawar, batasan gadget jelas PUNYA HUBUNGAN SAMA ANAKNYA
Indonesia
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet

@KalanaraDika Bro tau darimana orang yg mau bundir sadar dengan tindakannya?
Indonesia

Teman-temanku yang baik hatinya, kita gak bisa mengatakan "Sudah pasti dia disiksa di dalam neraka selamanya."
Islam itu menyeluruh, termasuk menjaga adab dan etika dalam menghadapi orang yang sudah meninggal.
Kenapa pernyataan semacam ini sangat bermasalah?
Rasulullah SAW bersabda:
"Barangsiapa yang mengatakan kepada saudaranya, 'Kamu penghuni neraka,' maka ucapan itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya. Bila saudaranya itu benar seperti yang dikatakannya, (maka perkataan itu berlaku padanya). Namun jika tidak benar, perkataan itu kembali kepada dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim)
Hadits ini menunjukkan betapa berbahayanya memvonis seseorang akan masuk neraka. Hanya Allah yang berhak menentukan hal tersebut.
Kita pun tidak tahu kondisi batin seseorang saat meninggal, apakah ia sedang sakit jiwa, dalam tekanan ekstrem, atau kehilangan kesadaran penuh.
Dan jangan lupa mengenai taklif, taklif adalah beban hukum syar'i yang dikenakan kepada seseorang. Namun, taklif ini tidak berlaku tanpa syarat. Salah satu syarat utamanya adalah akal yang sehat dan kesadaran penuh.
Rasulullah SAW bersabda:
"Diangkat pena (tidak dicatat dosanya) dari tiga golongan: orang yang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia baligh, dan orang gila hingga ia sembuh." (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)
Para ulama sepakat bahwa hilangnya akal, baik permanen maupun sementara, dapat menghapus atau mengurangi pertanggungjawaban seseorang di hadapan Allah. Gangguan mental berat seperti psikosis, depresi mayor, atau kondisi yang menghilangkan kemampuan berpikir jernih, masuk dalam pertimbangan ini.
Islam mengakui bahwa manusia bisa berada dalam kondisi yang melampaui kendali akalnya.
Maka menghakimi seseorang yang meninggal dalam kondisi demikian adalah sesuatu yang melampaui batas pengetahuan kita sebagai manusia. Hanya Allah yang Maha Mengetahui keadaan hamba-Nya.
Yang lebih sesuai dengan adab Islam adalah mendoakan almarhum, berempati kepada keluarga yang berduka, dan tidak berkata kecuali yang baik.
Nabi SAW bersabda: "Sebutlah kebaikan orang-orang yang telah meninggal di antara kalian." (HR. Abu Dawud)
Diam, lebih mulia daripada menyakiti.
@
@KalanaraDika Dia sadar kok dengan tindakannya, hanya saja dia tak memilih untuk mencari obat, dia memilih solusi yang cepat yang sudah jelas hukumnya, jadi ya udah pasti, NERAKA dan disiksa sesuai dengan caranya dia mati selamanya :)
Indonesia
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.
tempo.co@tempodotco
JUST IN: Kemendikti Bakal Tutup Prodi yang Tak Relevan dengan Industri
Indonesia
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet
Dirgabyte | Open Commission (3/5) me-retweet


Mohon maaf jika saya tidak cerdas dan masih fakir ilmu.
Maaf sekali, maaf.
Saya tidak bermaksud memelintir omongan anda.
Saya gak menolak bahwa dalam Islam orang bunuh diri itu masuk neraka. Tapi hal itu hanya berlaku untuk orang berakal.
Jadi, menurut saya, kita jangan judge orang lain akan masuk neraka tanpa tahu kondisi dia seperti apa.
Bukankah hidup akan lebih baik jika kita membiasakan untuk bertutur kata yang baik, saling mengasihi satu sama lain mas?
Semoga mas dilimpahi banyak rezeki dan kebaikan dari Allah yaa. 😊
Indonesia













