nov.em me-retweet

This explains a lot about us! 😂
“Prospective memory” = kemampuan otak buat ingat sesuatu yang HARUS dilakukan di masa depan.
Contohnya:
Ingat minum obat jam 8, ingat kirim email setelah rapat.
Nah, TikTok merusak kemampuan ini karena satu hal: context switching yang brutal.
Setiap 15-60 detik otak dipaksa pindah konteks. Dari video kucing, loncat ke tutorial masak, loncat ke berita politik. Terus-terusan.
Akibatnya? Otak jadi terlatih untuk TIDAK menyelesaikan satu niat sampai tuntas. Kamu scroll TikTok sambil niat “sebentar lagi mau belajar” tapi niatnya itu literally keburu dilupain sebelum sempat dieksekusi.
Twitter beda karena formatnya teks, lebih lambat, dan kamu cenderung masih dalam satu “mode berpikir” yang sama.
Jadi bukan soal platform mana yang lebih bagus. Tapi soal seberapa sering otakmu dipaksa ganti jalur dalam satu menit.
Mushtaq Bilal, PhD@MushtaqBilalPhD
Watching TikTok videos damages your prospective memory — the ability to remember to perform a planned task. Using Twitter doesn't.
Indonesia













































