She

2.2K posts

She banner
She

She

@shewget

Meleng dikit oversharing😐

Bergabung Haziran 2024
470 Mengikuti254 Pengikut
She me-retweet
ncipia
ncipia@fistaloka·
Be aware with hypertension!! Kemarin aku ketemu pasien mash 38/39 tahun datang dengan mimisan massive, ada yg ngalir keluar ampe mulut, tegaklah epistaksis posterior. Karena dia dateng mimisan banyak, kita belum sempat nensi, akhrinya ditengah tengah di tensi 250/118 🙂🙂🙏🏻✨ Please mulai sekarang jalanin pola hidup sehat, kita gabakalan tau pembuluh darah mana yg pecah/kesumbat krn pola makan kita ini, amit amit klo ACS/Stroke di usia muda. Please sewajarnya aja jadi manusia ya😭👍🏻
Indonesia
5
10
32
2.4K
She me-retweet
Woodsy Corner.
Woodsy Corner.@muncorner·
🍀 cara munculin spark hidup kembali ngapain ya? i’ve been through so many bad moments in just one month it made me lose my spark and my energy. is it normal? ☹️
English
127
1.6K
7.6K
139.6K
She
She@shewget·
@chiwby Siap kak terima kasih yaaa. Tentu sumbernya tidak akan aku hilangkan 🫶
Indonesia
0
0
1
5
VIolet
VIolet@chiwby·
@shewget oooh, boleh bangett kakk. kalau bisa usn akunya jangan ditutup yaaa. supaya bisa tau sumbernya
Indonesia
1
0
0
6
VIolet
VIolet@chiwby·
tolong bantu aku nebar awareness mengenai hal ini yaa 🫶🏻
VIolet@chiwby

Apakah orang dengan mental illness itu lemah? Atau… selama ini kita cuma terlalu terbiasa meremehkan hal yang nggak kelihatan? Banyak dari kita masih percaya kalau masalah mental itu soal ‘kurang kuat’, ‘kurang iman’, atau ‘kurang bersyukur’. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu. Aku harap thread ini bisa sampai ke orang-orang yang lagi butuh—atau setidaknya, ke orang-orang yang selama ini tanpa sadar pernah meremehkan. Kalian yang sudah terdiagnosis mental illness, pasti nggak asing sama momen ini: Lagi capek banget, lagi berusaha bertahan, akhirnya memberanikan diri buat cerita… tapi yang didapat malah: ‘Coba mindset-nya diubah’ ‘Kurang bersyukur kali’ ‘Dibawa santai aja’ ‘Jangan overthinking’ Seolah-olah semuanya sesederhana memilih untuk “berpikir positif”. Padahal pertanyaannya: Apakah penyakit mental sesederhana pola pikir yang salah? Jawabannya: nggak. Secara scientific, mental illness itu brain-based disorder. Artinya, ada proses biologis yang benar-benar terjadi di otak—melibatkan neurotransmitter seperti serotonin, dopamine, dan sistem regulasi emosi yang kompleks. Ini bukan sekadar ‘pikiran negatif’ yang bisa dimatikan dengan kemauan. Ada dysregulation nyata dalam cara otak bekerja. Bahkan dalam studi neuroimaging (MRI/fMRI), terlihat adanya perbedaan aktivitas di area otak tertentu pada beberapa kondisi mental. Makanya ada terapi. Makanya ada psikiater. Makanya ada obat. Karena ini kondisi medis—bukan sekadar “kurang kuat”. Kalau semuanya bisa selesai dengan ‘ubah mindset’, bidang psikiatri nggak akan pernah berkembang. Dan orang-orang nggak akan berjuang sekeras itu hanya untuk sekadar “merasa normal”. Jadi mungkin, lain kali sebelum bilang: ‘coba lebih positif’ ‘jangan dipikirin terus’ kita bisa mulai dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana— dengerin. Tanpa menghakimi. Tanpa meremehkan. Tanpa merasa paling tahu. Karena buat sebagian orang, bangun dari tempat tidur aja sudah butuh tenaga yang luar biasa. Dan bertahan hidup sampai hari ini… itu bukan kelemahan. Itu usaha yang nggak semua orang bisa lihat. #HealingIsNotLinear

Indonesia
3
0
5
185
She me-retweet
elly
elly@sunseelly·
naruh link affiliate di postingan orang tuh gak sopan loh🥹
Indonesia
54
12
194
35.4K
She
She@shewget·
@chiwby Di story wa sama feed fb kak
Filipino
1
0
0
19
VIolet
VIolet@chiwby·
@shewget mau di mana kak? kalo boleh tau
Indonesia
1
0
0
12
She me-retweet
VIolet
VIolet@chiwby·
Apakah orang dengan mental illness itu lemah? Atau… selama ini kita cuma terlalu terbiasa meremehkan hal yang nggak kelihatan? Banyak dari kita masih percaya kalau masalah mental itu soal ‘kurang kuat’, ‘kurang iman’, atau ‘kurang bersyukur’. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu. Aku harap thread ini bisa sampai ke orang-orang yang lagi butuh—atau setidaknya, ke orang-orang yang selama ini tanpa sadar pernah meremehkan. Kalian yang sudah terdiagnosis mental illness, pasti nggak asing sama momen ini: Lagi capek banget, lagi berusaha bertahan, akhirnya memberanikan diri buat cerita… tapi yang didapat malah: ‘Coba mindset-nya diubah’ ‘Kurang bersyukur kali’ ‘Dibawa santai aja’ ‘Jangan overthinking’ Seolah-olah semuanya sesederhana memilih untuk “berpikir positif”. Padahal pertanyaannya: Apakah penyakit mental sesederhana pola pikir yang salah? Jawabannya: nggak. Secara scientific, mental illness itu brain-based disorder. Artinya, ada proses biologis yang benar-benar terjadi di otak—melibatkan neurotransmitter seperti serotonin, dopamine, dan sistem regulasi emosi yang kompleks. Ini bukan sekadar ‘pikiran negatif’ yang bisa dimatikan dengan kemauan. Ada dysregulation nyata dalam cara otak bekerja. Bahkan dalam studi neuroimaging (MRI/fMRI), terlihat adanya perbedaan aktivitas di area otak tertentu pada beberapa kondisi mental. Makanya ada terapi. Makanya ada psikiater. Makanya ada obat. Karena ini kondisi medis—bukan sekadar “kurang kuat”. Kalau semuanya bisa selesai dengan ‘ubah mindset’, bidang psikiatri nggak akan pernah berkembang. Dan orang-orang nggak akan berjuang sekeras itu hanya untuk sekadar “merasa normal”. Jadi mungkin, lain kali sebelum bilang: ‘coba lebih positif’ ‘jangan dipikirin terus’ kita bisa mulai dengan sesuatu yang jauh lebih sederhana— dengerin. Tanpa menghakimi. Tanpa meremehkan. Tanpa merasa paling tahu. Karena buat sebagian orang, bangun dari tempat tidur aja sudah butuh tenaga yang luar biasa. Dan bertahan hidup sampai hari ini… itu bukan kelemahan. Itu usaha yang nggak semua orang bisa lihat. #HealingIsNotLinear
VIolet tweet mediaVIolet tweet mediaVIolet tweet mediaVIolet tweet media
Indonesia
18
576
1.6K
61.8K
She me-retweet
Disya Arinda
Disya Arinda@disyarinda·
Sebagai psikolog klinis dan terapis trauma, aku gak pernah menyarankan klienku secara gamblang untuk memaafkan. Memaafkan itu baik tapi bukan syarat pemulihan trauma. Keinginan memaafkan perlu datang dari kesadaran dan kesiapan dalam diri. Menyalahkan ortu memang gak membantu, sehingga yg dibutuhkan adalah memahami bukan memaklumi atau menghakimi. Lalu perlahan melepaskan luka, berfokus pada pemulihan diri dan dorongan utk jadi individu yg lebih baik ☺️
ARES@RestuAwalliddin

Guys... ini akan jadi pertanyaan yang sediki panjang. Di umur berapa kalian memutuskan untuk berhenti menyalahkan orang tua untuk didikan, perlakuan, yang cukup membekas sampe sekarang? Kaya.. kefikiran aja karena at some point somehow we gotta stop blaming our parents for all the things they did in order to keep going in life. Bukan untuk membenarkan perlakuan, tapi untuk memaafkan. Karena w percaya kalo rasa maaf gak bisa timbul, itu marah yang ada dalem diri kayanya gak bakalan selesai-selesai sampe kapanpun. Cause I also believe that we can't change the past and live in the fear of it either. Emang gak akan pernah adil. Karena kita juga hidup baru pertama kali. Cuma, kadang jadi mikir juga kalo kondisi tersebut adalah kali pertama mereka jadi orang tua. Untuk hidup dengan ketidakstabilan, rasa takut, dan harapan yang cuma jadi angan kayanya kalo ada di posisi merekapun di saat itu akan susah untuk bisa berlaku 'adil'. Well... at least ini buat saya pribadi. Cuma jadi kefikiran kalo kalian gimana?

Indonesia
31
1.7K
6.2K
159.7K
She
She@shewget·
Ya Allah lancarkan rezeki customer ku yang sat set langsung tf ituuu yang belum cukup dana buat beli juga tolong kucurin rezeki yang banyak dan berkah ya Allah🤲
Indonesia
0
0
0
13
She me-retweet
Diyan Setyaji, S.Gz., MPH., Dietisien.
biasanya pascalibur lebaran begini, puskesmas dan IGD RS bakal rame pasien dengan keluhan dan gejala sama: • nyeri ulu hati, • diare, • muntah, • lemes. Ayo, makan yang teratur. Kemarin banyak banget makan santan, daging, cemil-cemil, keripik, manis-manis.
Indonesia
1
1
3
312
She
She@shewget·
"Sayangnya perasaan dan pikiran dalam fase tersebut memang tidak selaras. Tolong obatnya jangan putus-putus yaa"
Indonesia
0
0
0
17
She
She@shewget·
Akhirnya obat itu balik lagi, bener bener enak bgt abis minum bener2 dibikin tenang rasanya. Andai boleh diminum setiap relapse gak cape nahan sakit nyesek nya kali yaaa. Tapi mustahal sihhh bakal kejadian
Indonesia
0
0
0
21
She me-retweet
Adjie Santosoputro
Adjie Santosoputro@AdjieSanPutro·
Banyak anak sebenarnya tinggal satu rumah dengan bapaknya, tapi secara emosional merasa jauh. Bapaknya ada, tapi jarang ngobrol, jarang "hadir". Menurutmu, seberapa besar pengaruh kedekatan emosional bapak terhadap kesehatan mental anak?
Indonesia
16
52
205
59.3K
She
She@shewget·
Foto ini mengingatkan sama abaya yg hilang, warna nya masih satu series dengan warna ini. Dari beberapa bahan yang aku pernah coba, katun toyobo wnj nya waktu itu juara sih. Gak perlu setrika juga tetep rapi. Definisi abaya cuci kering pake. Lebar tapi nyaman gk ganggu pergerakan
Cigs@cigsaftermilk

NORMALISASI OUTFIT ISTRI SEPERTI INI

Indonesia
0
0
1
212
She
She@shewget·
Gaada alasan, kalo gabisa pagi ya berarti sore
Indonesia
0
0
0
5
She
She@shewget·
Takut bgt liat timbangan hari iniii😭
Indonesia
0
0
0
16
She me-retweet
Fardi Yandi
Fardi Yandi@fardiyandi·
Buat yang suka nunda-nunda, aku ada satu rekomendasi buku. Judulnya The Power of Now! Udah ada versi bahasa juga. Sering terjebak di masa lalu, terlalu khawatir dengan masa depan, padahal kita masih punya hari ini, saat ini.
Fardi Yandi tweet media
Indonesia
5
65
379
6.6K
She me-retweet
shasa
shasa@skinlovelies·
kalau tweet aku lewat dan kalian mau mulai ngonten jadi beauty creator, aku kasih tips REALISTIS yang aku lakuin pas aku ngulang dari 0 karna akun ilang. 1. pakai device atau hp yg kamu punya. aku dari 2022 hp aku masih pakai samsung a13 dan alhamdulillah hasil konten aku baik. jadi jgn ada kata harus punya iphone buat ngonten. kalau gak ada budget, jgn maksain atau dijadiin alasan buat gak ngonten ngontenn perkara gak punya iphone. 2. manfaatkan produk skincare dll yang kamu punya, gak perlu beli dulu gpp kalau gak ada budget. dibikin 1 produk 1 konten biar kamu bisa bikin banyak konten, apalagi kalau produknya km pakai dari lama, pasti kamu udah cocok dan tau ngaruhnya di kulit kamu gimana, itu dijelasin ajaa buat konten. beauty creator jg mencakup segalanya, alias ada skincare, bodycare, parfum, haircare atau lifestyle kalau ootd juga bisa. pasti kamu punya produk dongg, nah manfaatkan. 3. gak perlu beli lighting kalau blm ada dana, cukup beli background foto aja untuk foto produk, pencahayaan cukup manfaatkan sinar matahari, krna aku bertahun tahun jadi beauty creator masih mengandalkan cahaya matahari. tapi, kalau ada budget, beli lighting ajaaa biar bisa kerja malam juga. 4. JANGAN MALAS. cara biar dilirik brand itu kamu harus rutin 1x sehari up konten, itu bikin dinotice sama brand karna kamu keliatan niat dan beneran brandingan kamu itu seorang beauty creator. aku 1 bulan pertama rutin tiap hari up konten dapet barteran parfum, setelah 3 bulan aku dapet paid endorse dan berlanjut sampai seterusnya. JADI EMANG HRS KONSISTEN. 5. cari temen sesama beauty creator, krna kita bisa saling bantu untuk support konten. 6. kalau diajak kerjasama barter diawal merintis, terima aja. itu dijadikan awalan untuk membuka jalan kamu, belajar gimana kerjasama sama brand. kalau kamu udah merasa sudah pantas untuk dibayar brand, kamu bisa tentukan ratecard kerjasama paid endorsement. 7. kuatin mental, karna kalau awal ngonten pasti ada orang orang yg ngatain kamu, abaikan aja dan jangan malu. karna kalau kamu gak mau ngonten perkara km malu, kamu yg rugi sendiri dan gak akan maju maju. abaikan orang yg menyepelekan, fokus ke orang yg mendukung. nantinya kalau kamu bisa naik dan beneran jadi creator, km bisa kasih produk atau traktir temen temen yg dukung kamu. aku kasih insight apa adanya, karna ini beneran aku lakuin dan sesuai kenyatannya. semoga kebantu buat kalian ysng butuh insight gimana caranya jadi beauty creator. semangat ya guys, i love u🫶🏻
Indonesia
10
85
673
21.9K