
@Octivanny @tanyakanrl AI banget. Nulisnya gak pake hati. 😂
Octivanny
1K posts

@Octivanny
Thinking in systems, power, and meaning. Writing to clarify—not to persuade.

@Octivanny @tanyakanrl AI banget. Nulisnya gak pake hati. 😂

Unpopular Opinion. Saya menjawab berdasarkan analisis pribadi. Menurut saya jodoh adalah satu-satunya orang yang mampu untuk menerima kelemahan terbesar pasangan seumur hidup. Seringkali defenisi jodoh disebutkan sebagai orang terbaik. Maaf, saya tidak sepenuhnya setuju dengan statement tersebut. Pernyataan ini seperti mengartikan apabila tidak berjodoh artinya dia adalah orang buruk. Belum tentu. Diluar sana banyak kok pasangan berkepribadian baik, satu visi dan misi, sefrekuensi, financial stable, sudah matang, namun tidak berjodoh. Karena apa? Karena Tuhan tahu bahwa dia bukan orang yang mampu untuk menerima kelemahan terbesar pasangannya seumur hidup. Benar selama berpacaran mereka sudah saling mengenal kekurangan masing-masing, tapi kan itu hanya apa yang terlihat. Bagaimana untuk yang belum terlihat? Perjalanan sesungguhnya belum dimulai. Masing-masing individu masih berlomba menampilkan versi terbaik karena dalam fase mabuk asmara atau pacaran. Mari kita lihat case ini bersama-sama: Case 1, pria dengan sifat tempramen memiliki istri seorang Ibu rumah tangga. Mereka sudah menikah 45 tahun. Tidak ada perceraian hingga maut memisahkan. Apakah dia pasangan terbaik? Tentu tidak. Memang kebaikan apa yang bisa didapatkan dari pria tempramen? Tidak ada. Lalu mengapa mereka berjodoh? Karena hanya sang istri satu-satunya dari miliaran wanita di dunia yang mampu menerima kelemahan suami. Memiliki hati yang sabar dan sangat luas untuk bisa menghadapi suami setiap hari sampai maut memisahkan mereka, sehingga Tuhan mempersatukan mereka. Case 2, wanita dengan IQ 100 alias sedikit lemot menikah dengan seorang dokter. Perbedaan yang mencolok seperti film drama korea. Padahal mantan sang dokter adalah seorang pramugari. Lalu mengapa dia berjodoh dengan si lemot bukan pramugari? Sama seperti case 1, karena hanya sang dokter lah pria yang mampu menerima kelemotan istrinya untuk seumur hidup, sehingga Tuhan mempersatukan mereka. Walaupun setiap hari puyeng menghadapi istri, namun mereka tidak akan bercerai selain dipisahkan oleh kematian. Case 3, bagi pembaca yang sudah menikah mari melihat kembali kelemahan pasangan masing-masing. Jangan menggeneralisir seperti pemalas, tukang ngambek, itu adalah sifat umum. Tapi cek kembali kelemahan spesifik yang paling buruk. Apakah kamu sanggup bertahan? Tentu iya. Kemudian intropeksi kelemahan diri sendiri. Apakah pasangan sanggup menerima? Tentu saja sanggup. Jika tidak kalian pasti sudah bercerai. Ini hanya analisis saya pribadi, berdasarkan pengalaman diri sendiri, teman dan keluarga. Hal ini juga yang saya tanamkan ketika hubungan berakhir dengan mantan: pasti kedepannya bakal ada satu kelemahan terbesar dia yang nggak sanggup aku hadapi seumur hidup atau mungkin kelemahanku yang nggak sanggup dia hadapi, itulah mengapa kami nggak jodoh, huhhh baiklah.

Btw kalo cewek dan cowoknya muslim dan udah nikah, wajar kalo dibilangin gini Di qrt, cewek2 muslimah banyak yg support, padahal bagus si cowok punya rasa cemburu, jangan jadi dayyuts ya cowok2 Keindahan tubuh perempuan memang hanya untuk dinikmati suaminya, bukan laki2 lain


Dosenku dulu pernah sharing sampai mana batas manusia. Dia mengeluh hal yang sama, duitnya tidak cukup-cukup padahal gaji dan pendapatan selalu naik. Pada suatu titik dia sadar semakin naik gaji, semakin naik gaya hidup. Padahal dulu mereka sederhanapun bisa hidup.

Orang yang marah-marah ditanyain kapan nikah itu lebay dan emang gak asik aja orangnya, padahal kalo lu ditanyain gitu ama sodara/tetangga ya bales aja bahas anak2 mereka yang belom nikah🤣 Menurut gw yg agak nylekit itu kalo lu nganggur tpi ditanya kerja di mana🗿



ya emang. being an introvert kalau masih miskin jatuhnya penghambat. kalau lu ngikutin rasa nyaman lu karna lu introvert, dengan alasan energi lu yang cepet abis itu, lu akan stuck di situ situ aja. trus gimana? paksa. ngga bisa basa basi? paksa. paksa diri lu buat mulai obrolan meski jatuhnya awkward. nanti lama lama juga lu tau kok gimana caranya biar ngga awkward. lu ngga punya energi buat tampil depan umum? paksa. paksa walau terbata bata, nanti bakal terbiasa. energi lu cepet abis kalau ketemu orang? paksa buat berangkat. paksa diri lu buat berangkat atau lu ngga punya relasi atau ngga punya temen sama sekali. gpp jadi introvert, gw juga introvert, tapi jangan jadi introvert yang terlalu memanjakan diri. kalau terlalu ngikutin zona nyaman lu itu, nanti lu ngga berkembang.

Dating dan married coach cuitannya kek giniiiiiiiii???????????? Iyuh.




Dari dulu gue mikir kayaknya taaruf tuh meskipun aturan agama keknya terlalu beli kucing dalam karung deh, tapi pacaran juga kan Allah swt larang karena mendekati zina. Eh setelah perjalanan panjang gw akhirnya nemu titik yg rasional dan dapat diterima pikiran gue kenapa tujuan menikah itu lebih realistis dengan taaruf dibanding pacaran, karena gue pernah pacaran dan kalo dibilang saling mengenal tuh kek ngga juga malahan ga ada pembahasan yg ntar nikah gimana, visi misi nikahnya gimana, which is jujur aja emg banyakan mendekati maksiatnya dan engga pun kayak malah ngebuang energi dan perasaan ke yg belom tentu jadinya karena ga ada aturan/ batasan mutlak. Ternyata bukan taarufnya yg kurang baik mengatur cara mengenal sebelum menikah, tp gue yg ga paham konsep dan aturan taaruf yg baik😭

Eileen menunjukkan apa yg tidak dimiliki murid Indonesia pada umumnya: ✨️ metacognition knowledge ✨️ Metakognisi itu kemampuan “ngeliatin isi kepala sendiri.” Gak cuma berpikir, tapi SADAR bahwa kita SEDANG BERPIKIR. Lebih jauh lagi, kita bisa mengevaluasi cara berpikir itu, apakah membantu, apakah bikin stres, apakah perlu diubah. Persis kayak Eileen yang pensive. Dia kelihatan banget kalau nyaman jadi orang yang banyak mikir. Dia nggak lihat proses refleksi itu sbg overthinking tapi malah dia jadiin tools to grow. Eileen ini bukti kalau orang hebat itu ya orang yg paham cara kerja pikirannya sendiri, gak cuma yang pintar/berbakat aja. Murid Indonesia belum banyak yg terlatih skill metakognisinya. Kenapa? Ini menarik bangettttt. 1. Budaya belajar berorientasi jawaban Pendidikan kita menjadikan murid terbiasa untuk fokus ngejar nilai, akhirnya selalu memikirkan 1-2 jawaban yg benar. Untuk jawab soal dengan cepat dan tepat, akhirnya juga sekadar menghafal konsep. Akibatnya, jarang dilatih bertanya: - kenapa harus pake strategi ini? - biar cepet paham harus ngapain? Padahal metakognisi itu berkembang ketika proses jauh lebih dihargai dibanding hasil. Sistem pendidikan kita gmn? Maunya ke mana? Please kami mah juga bingung, belajarnya disuruh ala finland, asesmennya ala asia. 2. Keamanan psikologis Ini masih berkaitan dengan poin 1. Naturally, murid itu akan reflektif ketika mereka merasa aman dalam mengekspresikan pikiran. Mereka gak takut salah jawab/bertindak atau gak takut dicap bodoh. Kalau lingkungannya masih menekankan budaya malu bertanya dan takut salah, ya udah selamanya akan terjebak pada pengetahuan level prosedural aja. Keamanan psikologis berkaitan erat dengan poin berikutnya. 3. Beban kognitif dan tekanan sosial Banyak murid menghadapi kondisi tekanan ekonomi keluarga dan lingkungan yang kurang suportif. Kondisi ini malah membuat murid dalam mode fight, energinya lebih banyak dipakai untuk mikir gimana cara bertahan hidup besok alih-alih belajar dan melakukan refleksi mendalam. Banyak kan kalian lihat di TikTok/Instagram, anak SD sepulang sekolah mulung beras di pasar, anak SMA bangun sebelum subuh karena masak risol buat dijual ke sekolah. Murid saya? Sepulang sekolah mereka ke ladang. Kalau musim panen, pasti wali kelas sering dapat izin "Assalamu'alaikum bu, besok saya izin gak masuk sekolah karena ikut panen kubis/jeruk/dll" 🥺 Kenapa ya anak kecil sampe punya beban ekonomi? Karena penghasilan ortunya gak cukup meski udah kerja siang malam. Kenapa kok bisa gitu? Emangnya gak ada lapangan pekerjaan kah? 4. Kurang contoh dan model berpikir Metakognisi itu bisa berkembang melalui modeling. Kalau murid jarang melihat - gurunya making thinking visible (thinking out loud) - orang dewasa yg merefleksikan pengalaman bisa jadi murid gak akan punya contoh bahwa proses berpikir dan merefleksi itu wajar. Nah sekarang pertanyaannya gaji pokok guru apakah layak?



Ramai konten Dwi Sasetyaningtyas soal " cukup aku saja yang WNI tapi anakku jangan" Dan Dwi sudah minta maaf, Berikut tanggapan menteri keuangan Purbaya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyesalkan tindakan alumni penerima beasiswa LPDP Dwi Sasetyaningtyas yang enggan anaknya menjadi WNI dalam kontennya. Menurut dia, konten Dwi seperti menghina negara, padahal dia dan suaminya yang saat ini masih menempuh S3 bisa kuliah di luar negeri karena uang negara. Buntut dari masalah itu, Purbaya akan blacklist mereka dari instansi pemerintahan dan meminta uang beasiswa yang mereka gunakan dikembalikan ke negara. Disampaikan Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa, Senin (23/2). 📸: Dok. YouTube Kementerian





