Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov.

16.5K posts

Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov. banner
Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov.

Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov.

@ProfMelankolis

Sol iustitiae illustra nos | Ad maiora natus sum

8 tobias asserlaan 参加日 Nisan 2013
730 フォロー中2.5K フォロワー
Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov.
GUEEEE SETUJUUU BANGETTTT SAMA TWEET INIIIIIIII
zhil@zhil_arf

Anak Soshum tidak dihargai dan dianggap bodoh di Indonesia, karena ketika SD SMP SMA, mata pelajaran IPS terlalu gampang. Mau Soshum dihargai? Simpel. Persulit ujiannya. Tidak boleh ada persepsi "IPA pintar, IPS bodoh". Keduanya harus sama-sama horor dan sadis. Reputasi matpel IPS masih dirasa kurang horor? Persulit lagi ujiannya. Persulit lagi quiz dan PR nya. Barangkali ini tidak akan sulit-sulit amat untuk diterapkan. Misal: 1 buku paket biasanya cukup untuk pelajaran eksak, karena ilmu pasti. Soshum harusnya tidak boleh begitu. Ujiannya harus didominasi pemahaman sosio-kontekstual akan hal yang ada di luar buku. Siswa yang survive hanyalah siswa yang banyak baca. Sastra juga demikian. "Bahasa Indonesia", misalnya, tiba tiba akan jadi sangat sulit apabila siswa hanya bisa lolos ujian jika dan hanya jika sudah sering membaca, menghayati, dan menghargai karya-karya sastra fundamental. Pada zaman dahulu, semua calon mahasiswa Soshum di Barat diwajibkan bisa bahwa Latin dan bahasa Yunani Kuno *sebelum* masuk kuliah, karena kebanyakan naskah penting ditulis dalam bahasa itu. Kemampuan bahasa ini mereka bangun lewat hobi membaca puisi, sastra, dan karya Latin dan Yunani Kuno. Menurut gw ini standar kompetensi minimum yang sangat bagus. Hari ini kita tidak literally butuh bahasa Yunani Kuno, tapi kita butuh sesuatu yang sama sulitnya. --- Kalau mau diseriusin lagi: - Idealnya, partisi STEM-Soshum-Sastra dalam bentuk apapun di level SMA dihapus. Di sekolah yang ideal, semuanya diajarkan dan dijelalkan masuk. Sayangnya ini hanya bisa berhasil apabila guru-gurunya elite dan bergaji tinggi. - Idealnya, akademis SMA sengaja dibikin sangat susah dan sangat sadis dan sangat horor. Alasannya satu, yaitu memaksa lulusan SMP mempertimbangkan opsi masuk SMK dengan serius. Masalahnya, kualitas SMK di Indonesia sangat buruk sehingga ini harus diperbaiki duluan. - Role edtech yang paling dibutuhkan adalah meringankan beban pekerjaan guru. Memeriksa soal, otomatisasi administrasi, memantau progress tiap siswa, dll. Barangkali siswa tidak perlu melihat atau menyentuh aplikasi edtech sama sekali. Spekulasi liar: - Di zaman AI, fungsi utama sekolah di bidang akademis barangkali akan berubah jadi ruang ujian saja. Bayangkan tiap hari ujian intensif, kertas dan pulpen, essay, tidak ada AI dan tidak ada kalkulator. Tapi jam pulang adalah jam 11 pagi. Setelah itu bebas mau ngapain. Pacaran, Valorant, motoran, ekstrakurikuler, belajar mandiri, silakan. Karena tiap hari ujian, anak terpaksa memiih belajar mandiri. Well, tinggal minta diajarin oleh AI. AI nya ngawur? Akan ketahuan di ujian besoknya dan menjadi shock therapy bagi anaknya. Salah sendiri terlalu percaya sama AI. - Ini diperkuat dengan sistem Romusha Tutor (atau Sistem Tutor Oxford). Tiap kakak kelas diberikan tanggung jawab terhadap prestasi akademis 1 adik kelas. Kalau adik kelas tidak lulus, kakak kelas tidak lulus. Asumsi di sini adalah bahwa hanya manusia yang bisa menyelesaikan hal seperti "memotivasi anak untuk belajar" dan bahwa AI tidak bisa melakukan ini. Well, ya sudah, romushakan saja kakak-kakak kelas untuk jadi tutor. Kakak kelas bingung harus ngapain? Tanya AI. AI nya ngaco? Akan ketahuan di ujian besok. - Spekulasi liar ini mengasumsikan bahwa pemerintah kita sama sekali tidak melakukan apa-apa dan useless dan gabut. Gw jauh lebih percaya bahwa teknologi AI akan bisa sangat murah Rp 2rb / bulan daripada percaya bahwa pemerintah akan peduli untuk "menaikkan gaji guru" atau semacamnya. Untuk isu yang ini, barangkali sebaiknya kita menyerah saja.

Indonesia
0
0
0
66
Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov.
Woy anak HI, Ilpol, Komunikasi. LIAT INI CEPETAN
Iran Embassy in Indonesia@IraninIndonesia

Hey @IRANinZIMBABWE Honestly, Indonesians have always been on the right side of history. And right now is no different. They’re standing strong and clearly showing support for Iran. This country has proven time and again that it’s brave, that it doesn’t stay silent in the face of aggression, colonialism, or injustice anywhere in the world. That’s the real vibe 🇮🇩🔥 So what about you guys? @Iran_in_India How’s everything over there? Give us an update!

Indonesia
0
0
11
518
Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov. がリツイート
โอบี ดีธาน
Mincotttt @hrdbacot udah liat ini belommm??? Kaget banget baca ini pagi-pagi di hari Senin gini bahahahaha Affaahhh iyyaa???
โอบี ดีธาน tweet mediaโอบี ดีธาน tweet media
Indonesia
1.3K
5.6K
24.1K
1.4M
Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov. がリツイート
Archive
Archive@ArchiveExplorer·
"Claude usage limit reached. Your limit will reset at 7pm" every. fucking. day. was about to pay $200 for Max. then I read this article 98.5% of tokens - wasted you're not paying for answers. you're paying for Claude to re-read its own homework 30 times spent months blaming Anthropic for being greedy. turns out the problem was how I write prompts 5 minutes of reading basic plan now handles more than my old Max
kaize@0x_kaize

x.com/i/article/2037…

English
290
710
10.1K
4.4M
Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov.
Jadi kalaupun harus maju its either mereka berpasangan atau Puan berpasangan sama yang lain yang tidak sepopuler itu tapi punya skill adminstrator yang baik, dan Retno bisa menjadi pendamping siapapun calon Populis/Non-Populis yang ingin maju jadi presiden RI
Indonesia
1
0
0
55
Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov. がリツイート
Steve 🇺🇸
Steve 🇺🇸@SteveLovesAmmo·
Bro went from 25 to 45 in seconds.
English
335
941
19.9K
5.1M
Prof.Dr (Az).Ardhito Prakaka, S.cov., M.Cov. がリツイート
Fr Calvin Robinson ©️®️
Tomorrow is Easter Sunday. So, to all you Christians out there, Happy Easter! And to the Jews, nice try!
English
125
2.1K
18K
605K