Guys, Luna Maya dan Maxime baru ngobrol soal lebaran pertama mereka sebagai pasangan suami istri.
Dan ada beberapa hal yang mereka bilang yang bikin gue diem sebentar.
Lebaran pertama dan mereka malah liburan ke Raja Ampat.
Bukan mudik.
Bukan kumpul keluarga besar.
Tapi naik pinisi, salat Id di pulau kecil, dan nikmatin laut berdua.
Luna yang suka laut.
Maxime yang lebih suka gunung tapi tetap ikut.
Dan itu bukan keputusan yang diributin.
Itu keputusan yang dibicarain kita mau tradisi apa sebagai keluarga baru?
Karena mereka sadar dua orang yang datang dari keluarga berbeda, dengan ritme kerja yang padat dan jadwal yang nggak bisa diprediksi harus dengan sengaja membangun tradisi berdua.
Kalau nggak disengajain, nggak akan pernah ada.
Dan soal siapa yang pindah ke rumah siapa ini yang menarik.
Maxime yang pindah ke rumah Luna.
Dan dia ngaku awalnya ada pertanyaan dalam dirinya. Kok cowok yang pindah ke rumah cewek?
Tapi setelah ditimbang-timbang logika menang. Rumah Luna lebih besar, lebih privat, lebih masuk akal.
Yang gue suka dari cara dia cerita dia nggak pura-pura pertanyaan itu nggak ada.
Dia akuin, tapi dia juga nggak biarkan ego mengalahkan akal sehat.
Dan Luna bilang sesuatu yang gue rasa banyak orang butuh dengar
Maxime memberikan banyak kebebasan buat aku untuk tetap berkarya, tetap jadi manusia yang utuh. Bukan kamu kan udah istri, kamu harus nurut.
Kita adalah dua individu yang merdeka yang memilih untuk bersama.
Soal konflik mereka juga jujur.
Ada cekcok.
Ada momen yang salah.
Ada reaksi yang seharusnya beda.
Tapi ada satu kesepakatan yang mereka pegang jangan tidur dalam keadaan masih marah.
Maxime cerita pernah sekali mereka tidur dalam kondisi belum selesai dan itu nggak nyaman. Istirahatnya nggak bagus.
Dan dari situ mereka belajar.
Walaupun tidurnya telat, selesaikan dulu.
Say sorry dulu.
Baru tidur.
Dan ini yang paling gue catat dari seluruh obrolannya.
Mereka bilang kesalahan yang sama berulang kali itu mungkin saja terjadi.
Dan cara terbaik mengubah orang bukan dengan marah tapi dengan mengapresiasi perubahan kecil yang sudah dia upayakan.
Mungkin sedikit bagi kita, tapi berat bagi dia.
Ngubah 1 kilo aja butuh effort gede apalagi mengubah kebiasaan mental yang sudah terbentuk bertahun-tahun.
Intinya dari semua yang mereka ceritain:
Pernikahan yang kelihatan perfect dari luar tetap ada cekcoknya,
tetap ada adaptasinya
tetap ada hal-hal yang harus dibicarain dan dikompromiin.
Yang bedain bukan ketiadaan masalah tapi cara mereka menghadapinya.
Dua individu yang merdeka.
Yang pilih untuk saling bukan saling mendominasi, tapi saling melindungi, saling memaafkan, dan saling memberi ruang untuk tetap jadi diri sendiri.
Pelajar SMK mengirim surat kepada Presiden, ia menolak menerima MBG dan meminta jatah makan MBG miliknya diberikan untuk kesejahteraan guru. Para pelajar kita, ada yang pikirannya tajam dan halus perasaannya. Rafif Arsya, anda membuat sejarah.
🔥🔥🔥🔥🔥
Perempuan dan moodnya ada-ada aja, kemaren impulsive beli tiket ke Jepang. Trus hari ini nyesal, kaget lihat tiket pulang 2x lipat dan bingung juga mau ngapain ke Jepang.
Kita menangisi Vidi yang meninggalkan.
Kita juga menangisi Dara yang ditinggalkan.
Padahal, di saat yang sama, keduanya sedang mengajarkan kita satu hal yang sering kali luput kita pahami, tentang cara yang benar dalam mencintai.
Kalau menelusuri laman sosial media Dara, sosok Vidi mungkin tampak jarang hadir di sana. Bahkan sempat membuat banyak orang meragukan cintanya dan mempertanyakan kesetiaannya.
Padahal sejak awal, Dara sudah menunjukkan cinta yang begitu besar untuk Vidi.
Ia tetap memilih berjalan bersama Vidi, bahkan ketika ia tahu durasi bahagia mereka mungkin sebentar.
Dara memilih bertahan di sisinya, di saat ia menyadari betul tak akan pernah ada kata 'menua bersama' dalam romansa mereka.
Dan barangkali di situlah letak cinta paling tinggi yang mampu Dara berikan. Ia memilih tetap hidup bersama seseorang yang ia tahu suatu hari nanti akan mengucap kata pamit duluan.
Sementara Vidi pun mencintai Dara dengan cinta yang sama besarnya.
Vidi tahu hidupnya mungkin tidak sepanjang yang diharapkan.
Ia tahu suatu hari namanya hanya akan tinggal sebagai kenangan.
Ia tahu cepat atau lambat, dirinya akan menjelma menjadi kehilangan dalam hidup perempuan yang ia cintai.
Dan karena ia tahu durasi hidupnya begitu sebentar, ia berikan seluruh cintanya kepada Dara dengan porsi yang tak akan pernah bisa ditakar.
7 Maret 2026, bukan hanya keluarganya yang memeluk kehilangan. Bukan hanya hidup Dara yang tak lagi terasa utuh. Tetapi kita juga turut merasa runtuh.
Hari ini kita kembali menyaksikan romansa dua manusia yang akhirnya dikalahkan oleh waktu, di saat cinta masih menyala di hati mereka.
Di saat mereka masih ingin terus berbagi mesra.
Dan mungkin, inilah pelajaran paling berharga yang bisa kita petik dari kepergian Vidi. Tentang mencintai pasangan dengan seluruh cara terbaik yang kita punya, dan menghabiskan sisa waktu di dunia dengan menjadi sebaik-baiknya manusia.
Semoga Allah merahmati perjalanan pulangmu. Semoga dilapangkan kuburmu. Semoga selalu terang rumah barumu nanti, seperti halnya kamu yang selalu menjelma terang di banyak hati.
Oxavia Aldiano, Kamu orang baik.
Kamu suami Sheila Dara selamanya.
Kamu hidup di hati kami selamanya.