@abu_waras Petani Indonesia itu banyak, beri mereka pupuk murah, harga stabil, berantas tengkulak tengkulak yang permainkan harga. Pasti petani senang nanam tanaman pangan, bisa swasembada
Lucu saja, disaat negara lagi kerja untuk membangun ketahanan pangan yang dibuka di Merauke agar nggak lagi bergantung sama impor pangan dan agar Papua cepat maju dan berkembang tapi masih saja ada pihak yang sibuk bikin narasi "pesta babi".
Kalau mau jujur, seharusnya lihat juga ratusan ribu hektare lahan yang dikembangkan di Sumsel, Kalsel, Kalteng, Kalbar, Aceh, sampai Sulsel. Jangan cuma fokus ke satu isu lain lalu tutup mata dari manfaat besar buat jutaan rakyat.
Ketahanan pangan itu soal masa depan bangsa dan modal kemajuan, jangan dijadikan bahan gorengan politik.
Woi... DPR itu lembaga pengawas, bkn tim tim humas cadangan. Kalo ketua komisi bicara persis sprt juru bicara pemerintah, lalu siapa yg ngoreksi? Rakyat? Rakyat sdh capek ngoreksi sendiri ajig!
PENYAKIT SERIUS YANG DIMULAI DENGAN GEJALA SEDERHANA
1. penyakit ginjal – mata bengkak di pagi hari
2. kanker paru-paru – perubahan suara yang terus-menerus
3. penyakit parkinson – tulisan tangan menjadi lebih kecil
4. diabetes – selalu merasa haus
5. ketidakseimbangan tiroid – rambut rontok dari alis
6. penyakit hati – perut kembung setelah makan
7. kanker kolon – tinja yang lebih tipis
8. penyakit jantung – sesak napas saat menaiki tangga
9. penyakit alzheimer – sering salah menaruh barang
10. kanker pankreas – nyeri perut yang tidak dapat dijelaskan
11. kelelahan terus-menerus – bisa menandakan anemia
12. penurunan berat badan mendadak – bisa menunjukkan ketidakseimbangan metabolisme
Cerita lama.
Untuk menyambut kunjungan Bupati, seorang Kepala Desa (Kades) mengadakan acara hiburan musik sederhana.
Pertunjukan musik itu menampilkan tiga penyanyi wanita.
Penyanyi pertama, muda, paras cantik dan suara bagus, tapi pada saat selesai bernyanyi cuma beberapa penonton yang tepuk tangan.
Lanjut penyanyi kedua, muda, cantik dan suara yang juga bagus, tapi hal yang sama terjadi, begitu selesai cuma beberapa orang yang bertepuk tangan.
Lanjut penyanyi ketiga, wanita paruh baya, suaranya tidak bagus, dan terkesan biasa saja, tapi pada saat selesai bernyanyi penonton langsung bersorak-sorai dan bertepuk tangan sangat meriah.
Heran melihat reaksi penonton Bupati pun bertanya pada Kades, “Mas, saya heran."
Kades melihat Bupati, “heran kenapa Pak?”
“Kok bisa dari tiga penyanyi tadi, yang pertama dan kedua dapat respon yang biasa saja dari penonton," kata Bupati, "tapi untuk penyanyi ketiga malah penonton antusias banget,” lanjutnya.
“Oh, itu karena penyanyi pertama dan kedua mereka penyanyi luar desa yang kita undang kesini,” kata Kades.
“Lalu penyanyi yang ketiga?” tanya Bupati.
“Kalau penyanyi ketiga itu istri saya,” jawab Kades lagi.
"Oh," ucap bupati.
Alih-alih memberikan tangannya untuk dijabat dan dikecup bolak-balik seperti halnya petinggi agama, ustadz salafi ini (malah) memberikan nasihat yang indah untuk kita simak.
Barakallahu fiik @ustadzsyafiq Basalamah
🐂🍖 🔻Bapak ini mau yakinkan apakah betul ucapan Dadan yang bilang BGN potong sapi 19ribu per hari. 🤔🧐
Sampai diulang-ulang pertanyaannya.. 😅
Tetap jawaban nya :
"Keseringan telur."
"Kadang sebulan nggak ada."
😂😂😂😂
Se Indonesia ditipu Dadan.
Ada rutinitas ‘aneh’ menjelang Ramadhan, Syawal (Idul Fitri), dan atau Idul Adha. Dimana umat Islam di Indonesia bahkan di dunia memasuki fase berulang yang penuh ketidakpastian. Grup WhatsApp ramai, Facebook dan media sosial pun ikut gaduh penuh perdebatan. Yaitu, perdebatan klasik berulang: jadi puasanya kapan? Lebarannya hari apa?
Bahkan di era AI saat ini, umat masih harus menunggu malam hari H-1. Menunggu kepastian dari sidang isbat, rukyat, atau pengumuman yang kadang berbeda satu sama lainnya.
Padahal dunia modern saat ini justru dibangun di atas kepastian. Masyarakat global membutuhkan kalender yang akurat. Maskapai penerbangan tak bisa berkata, “Kita lihat hilal dulu baru tentukan jadwal.” Bursa saham tak bisa menunggu rukyat. Dunia pendidikan, industri, dan birokrasi berjalan dengan sistem waktu yang terukur, konsisten, dan ilmiah.
Di tengah realitas itu, gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) dari Muhammadiyah muncul sebagai tawaran solusi. Sebuah ikhtiar menyatukan penanggalan umat Islam secara global berbasis perhitungan astronomi yang akurat. Namun seperti banyak gagasan pembaruan dalam sejarah, KHGT tentu tidak datang tanpa pro-kontra. Menariknya, kita bisa melihat di masa lampu pertarungan pro-kontra semacam ini, déjà vu.
Artikel ini telah tayang di suaramuhammadiyah.id dengan judul: Pro-Kontra KHGT: Semua Akan Muhammadiyah pada Waktunya.
#Muhammadiyah#KHGT