고정된 트윗
arief
29.9K posts

arief
@arieph
I like to talk about football, politics, industry, investment, relationships, etc. whatever comes to mind. follow me I will follow u back
in the middle of nowhere 가입일 Mayıs 2009
387 팔로잉873 팔로워

mostly komedian itu IQ di atas rata2. soalnya g mudah nge jokes dan org2 g tersinggung
Bardan - Digital Marketer@bardanslm
gaes km setuju gak ada yg bilang kalau komedian itu IQ-nya diatas rata2???
Indonesia
arief 리트윗함
arief 리트윗함

bermanfaat pak, g ngabisin 1 T perhari jg
RisangP@rsngprad
SAYA BERTANYA KEPADA SAUDARA-SAUDARA, TWITTER BERMANFAAT ATAU TIDAK?
Indonesia

@mhuseinali salah satu perjudian terbesar saya adalah menikah, dan saya tidak menyesal
Indonesia

Salah satu kenikmatan menikah adalah berani ambil keputusan.
Kalau menghadapi masalah, kamu bisa minta saran ke teman.
Sayangnya saran temanmu itu terasa biasa karena mereka tidak menanggung konsekuensi atas saran tersebut.
Sementara minta saran ke pasangan itu terasa lebih menenangkan. Karena kamu tahu saran yang mereka sampaikan adalah sesuatu yang konsekuensinya akan ditanggung bersama.
Kamu jadi lebih berani ambil keputusan.
Indonesia

@LambeSahamjja gak kontra ama nih program, cm hrusnya tepat sasaran aja jgn buat smua anak. anggaran habis sia2
Indonesia

Guys, ada cerita dari balik layar program MBG yang menurut gue perlu lo dengar langsung dari orang yang mengalaminya bukan dari siaran pers pemerintah.
Namanya Bu Ira.
Perempuan di atas 60 tahun yang punya passion di kuliner, ingin membantu program Prabowo, dan akhirnya mengubah restorannya menjadi dapur MBG dengan investasi hampir Rp2 miliar.
Sekarang dia menjual emas pribadi untuk bisa terus memasak makanan bagi anak-anak sekolah. Dan belum menerima satu rupiah pun pembayaran dari program yang sudah dia layani selama berbulan-bulan.
Kronologi yang perlu dipahami dari awal:
Seseorang berinisial MI yang mengaku sebagai orang BGN menghubungi Bu Ira. Iming-imingnya menarik: Rp15.000 per porsi, kontrak setahun, diperpanjang sampai 5 tahun.
Bu Ira tertarik. Dia merenovasi restorannya menjadi dapur standar BGN senilai hampir Rp2 miliar. Beli steamer, peralatan masak, semua dari kantong sendiri.
Kontrak akhirnya ditandatangani antara Bu Ira sebagai mitra dapur dan Yayasan MBN. Yang tertulis: Rp15.000 per porsi. Bu Ira masak, packing, kirim, semua sendiri.
Lalu program berjalan. Dan masalah mulai muncul:
19 hari operasional. 65.000 porsi sudah dikirim ke 19 sekolah TK dan SD di kawasan Kalibata-Pancoran. Semua sudah dimakan anak-anak.
Bu Ira menagih.
Yayasan MBN tidak mau bayar.
Alasan pertama: Bu Ira punya utang ke yayasan sisa pembayaran ompreng atau tempat makan senilai Rp300 juta yang memang belum dilunasi dan rencananya akan dibayar dari cash flow program. Yayasan langsung mencampuradukkan utang itu dengan tagihan yang seharusnya dibayar ke Bu Ira.
Tagihan kedua diajukan.
Yayasan masih tidak mau bayar kali ini dengan alasan tidak ada kuitansi dan bukti. Padahal semua sudah diserahkan.
Total yang belum dibayar sampai sekarang: lebih dari Rp1 miliar mencakup 65.000 porsi ditambah sekitar 5.000 porsi tambahan dari tahap ketiga yang juga dijalankan dengan dana pribadi.
Yang membuat kasus ini semakin aneh ada yang namanya potongan Rp2.500 per porsi:
Di lampiran kontrak tertulis jelas: dari Rp15.000 per porsi, yayasan memotong Rp2.500 sebagai fee mereka.
Itu berarti Bu Ira sebenarnya hanya menerima Rp12.500 per porsi. Untuk memasak, mempacking, dan mengirim makanan. Sendiri.
Tapi di lapangan lebih parah lagi. Ada porsi yang harganya dari BGN hanya Rp13.000 untuk TK sampai SD kelas 3. Dikurangi lagi Rp2.500 Bu Ira hanya dapat Rp10.500 per porsi untuk memasak, packing, dan antar.
Kepala BGN Dadan Hindayana sendiri ketika mendengar angka Rp2.500 langsung bereaksi: "Ini berarti ada yang salah. Ada kongkalikong." Karena menurut BGN keuntungan maksimal untuk yayasan itu Rp2.000. Bukan Rp2.500.
Hitung kasar saja: Rp2.500 dikali 65.000 porsi dalam 19 hari satu dapur saja menghasilkan sekitar Rp162 juta untuk yayasan yang tidak ikut masak, tidak ikut packing, tidak ikut antar.
Dan ada fakta yang lebih mengejutkan yang baru terungkap saat BAP di kepolisian:
Yayasan MBN ternyata tidak punya dapur sendiri. Kepala BGN Dadan baru mengetahui ini ketika mediasi.
Lebih jauh lagi ternyata di dalam tubuh Yayasan MBN ada dua oknum berinisial MI dan GR yang membuat perjanjian bagi hasil sendiri dengan yayasan.
Lalu MI dan GR inilah yang membuat kontrak dengan Bu Ira mengatasnamakan Yayasan MBN.
Jadi strukturnya adalah: BGN → Yayasan MBN → MI/GR (oknum internal) → Bu Ira sebagai mitra dapur. Ada subcon di dalam subcon. Berlapis-lapis. Dan setiap lapis mengambil potongan.
Uang dari BGN sebenarnya sudah turun.
Tapi tidak sampai ke dapur:
Ini yang paling penting untuk dipahami.
BGN sudah mentransfer dua tahap pertama ke Yayasan MBN sekitar Rp700 juta sekian.
Plus dana bantuan operasional untuk 10 hari ke depan yang sudah ada di virtual account yayasan.
Kepala BGN sendiri yang mengonfirmasi ini langsung kepada kuasa hukum Bu Ira: "Kami sudah bayar. Silakan berhubungan dengan yayasan."
Yayasannya yang menahan. Tidak mencairkan ke mitra dapur. Dengan berbagai alasan yang berganti-ganti dan tidak konsisten.
Selama tiga hari anak-anak tidak mendapat makanan:
Karena Bu Ira kehabisan uang pribadi dan tidak ada dana dari yayasan dapur berhenti beroperasi selama tiga hari.
Tiga hari. Anak-anak TK dan SD yang sudah terbiasa mendapat makan bergizi gratis tidak mendapat apa-apa. Tidak ada penggantian dari dapur lain. Tidak ada komunikasi resmi tentang penghentian sementara.
Saat ini Bu Ira masih beroperasi dengan dana pribadi, pinjaman dari investor, dan hasil menjual perhiasan emas. Tahap ketiga sudah berjalan 8 hari dan menghasilkan sekitar 5.000 porsi semuanya belum dibayar.
Respons BGN dan ini yang mengecewakan kuasa hukumnya:
Dana Noverius pengacara probono Bu Ira dari Lemhannas sudah mengirim surat ke BGN sebelum press conference. Tidak ada respons.
Satu hari sebelum press conference dia datang langsung ke kantor BGN. Dijawab: deputi hukumnya sedang keluar, datang lusa saja. "Tapi besok saya press conference," kata Dana. Jawabannya: jangan dulu.
Setelah press conference viral barulah dipanggil. Barulah BGN membuat nomor WhatsApp pengaduan. Barulah ada respons dari PCO atau Presidential Communication Office.
"No viral, no justice," kata Dana dan dia tidak melebih-lebihkan.
Langkah hukum yang sudah dan akan diambil:
Laporan pidana sudah masuk di Polres Jakarta Selatan. Pihak yayasan sudah dipanggil dua hari setelah laporan dibuat.
Gugatan perdata sudah disiapkan tinggal menunggu aba-aba dari klien. Dan tim kuasa hukum sedang berkonsultasi dengan Kejaksaan Agung tentang kemungkinan tindak pidana korupsi.
Yang menarik Dana dengan tegas menyatakan meski yayasan membayar lunas sekalipun proses pidana akan tetap dilanjutkan. Bukan untuk dendam. Tapi supaya ada efek jera.
"Kalau ini bisa diselesaikan dengan uang semua yayasan akan berpikir hal yang sama. Tarik dulu, kalau yang ada ribut bayar, selesai. Harus ada pelajaran."
Saran praktis dari pengacara ini untuk siapapun yang mau ikut program MBG:
Satu — kalau bisa, langsung daftar ke website BGN dengan yayasan sendiri. Jangan bergabung dengan yayasan yang sudah ada. Karena setiap perantara pasti mengambil potongan dan semakin banyak lapisan semakin besar potensi masalah.
Dua — kalau sudah terlanjur dengan yayasan pantau ketat setiap pergerakan dana. Minta transparansi LPJ atau laporan pertanggungjawaban. Minta tanda terima dari sekolah. Jangan mau tidak dilibatkan dalam proses klaim.
Tiga — kalau ada masalah dengan yayasan — segera lapor ke BGN. Jangan tunggu. Dan kalau BGN tidak merespons buat saja press conference. Terbukti lebih efektif.
Yang paling menohok dari seluruh cerita ini:
Bu Ira bukan penipu. Bukan pengusaha nakal. Dia perempuan di atas 60 tahun yang ingin membantu program presiden rela investasi Rp2 miliar, rela bekerja keras, rela jual emas pribadi — dan sekarang terjebak dalam sistem yang berlapis-lapis tidak transparan.
Dan sistem yang berlapis-lapis itulah yang menjadi masalah. BGN membayar ke yayasan. Yayasan tidak mencairkan ke mitra dapur.
BGN tidak mau tahu apa yang terjadi antara yayasan dan mitra. Tidak ada pengawasan di antara lapisan-lapisan itu.
Hasilnya: uang negara sudah keluar. Tapi tidak sampai ke orang yang memasak makanan untuk anak-anak.
Dan anak-anak sempat tiga hari tidak mendapat makanan dari program yang anggarannya Rp335 triliun.
Kalau ini terjadi di satu dapur di Kalibata pertanyaannya adalah: berapa banyak Bu Ira lain di seluruh Indonesia yang tidak viral dan tidak mendapat perhatian?
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan podcast Leon Hartono dengan kuasa hukum mitra dapur MBG — Dana Noverius. Semua pihak yang disebutkan berhak atas praduga tidak bersalah. Penyelidikan masih berjalan di kepolisian. Ini adalah fakta kasus yang sudah masuk ke ranah hukum — bukan tuduhan yang belum terverifikasi.

Indonesia

berarti secara g langsung belio blg RI jaya sekitar 1000 taun lagi 😭
tempo.co@tempodotco
Prabowo Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi agar Bisa Saksikan Kejayaan RI
Indonesia

ASN Kemensultan.
.
.
.
.
.
yg sering dibilang Kemensultan itu, ga beneran Sultan. Masih banyak instansi yang gaji+tunjangannya jauh lebih pantes disebut SULTAN.
erpang@kehidupangs
pekerjaan yang gengsinya gede tapi gajinya kecil menurut kalian apa?
Indonesia

main twitter dari 2009. sehari kykny minimal ada lah 2 jam buka ni aplikasi. bulan ini memutuskan buat cenblu sapa tau ada rejeki nya disini karena dapat gaji disini kyk hobi yg dibayar.
saya tau bakal g mudah tp kykny sy bakal cenblu selama 6 bulan bru mutusin apakah lanjut atau engga, memungkinkan apa engga mendapatkan uang disini. untuk syrat pertama ngumpulkan 500 follower cenblu sepertinya g terlalu susah, syarat 5 juta impresi dalam 3 bulan yg kayaknya cukup sulit. mudah2an bisa minta doa dan dukungannya ya.
kalau follower lama saya ngerasa saya bawel jd bnyk ngetweet, feel free untuk unfollow gapapa kok 😁
Indonesia

Kalau lo ngerasa karier lo "jalan di tempat", coba audit satu minggu lo.
Ambil 7 hari terakhir, terus tulis:
- Berapa jam lo kerja
- Ngapain aja detailnya
- Mana yang kasih impact
- Mana yang beneran bikin lo belajar hal baru
Biasanya keliatan:
up to 80% waktu kepake buat hal repetitif.
Solusinya:
- Sisihin 1–2 jam/hari buat skill baru
- Pilih 1 skill yang paling relevan sama next role lo
- Track progress tiap minggu
Tanpa audit, lo cuma "ngerasa sibuk".
Bukan beneran berkembang.
Indonesia











