chaca
9.6K posts


Pingkan Mambo mengungkapkan Pendapatannya dari live tiktok 1x24 jam pernah tembus Rp 30jt , Kali 30 hari sebulan dapat Rp 900jt😲👏 Namun ia menceritakan pendapatan dari live TikTok tidak menentu rata2 harian berkisar antara Rp1-10 juta.bahkan pernah tidak dapat samsek


PTRO , BUMI , VKTR, MINA, BUVA , RATU , CDIA . sepertinya menarik esok kalo market enak , besok kita lihat ya sama-sama.



karna omongan adalah doa, apa yang lagi kamu pengen sekarang?

Wow punyaku udh sampai, kaget besar juga ya 😁👍 @siPisces22




$GOLD $XAU update. EMAS JATUH! 2 Minggu berlalu, harga emas sudah jatuh: MINUS >13.3%. Kalau cek tweet saya sebelumnya, titik jatuh dan timing-nya kena sangat akurat! Pertanyaannya: Kenapa emas malah jatuh padahal ada perang? Ini jawaban teknikal dan fundamentalnya: # Teknikal: Emas mungkin sudah "priced in" Banyak yang bilang harga harga emas sudah PRICED IN. Price In intinya adalah ketika pasar sudah berekspektasi lebih dulu akan suatu peristiwa besar tak tentu di masa datang, seperti terjadi perang atau resesi. Jadi, harga naik duluan sebelum peristiwanya benar-benar terjadi. Sebelum perang, harga emas sudah naik >150% dalam dua tahun, nyaris tanpa katalis besar apapun. Ini cepat sekali! Waktu itu, Kita nggak tahu kenapa emas naik tajam sesingkat ini. Satu opini cukup masuk akal: Pasar sudah lebih dulu masuk ke emas sejak Trump kembali jadi Presiden AS. Kenapa? Karena Trump identik dengan kebijakan yang sulit ditebak, tensi geopolitik, dan potensi konflik yang lebih liar. Jadi saat perang Iran–AS benar-benar meledak, emas justru kehabisan tenaga. Minyak: Naik tajam. Emas? Malah jatuh. Kenapa? Karena naiknya sudah duluan (priced in). Kalau lihat tweet saya sebelumnya (yang saya quote), saya sempat galau: apakah keluar dari emas dan emiten terkait, atau tetap mengikuti narasi perang? Namun, secara teknikal, sinyalnya cukup jelas: Emas sudah memasuki area supply. Saatnya turun. # Fundamental: The Fed belum lunak Kemaren (18/3), FOMC* mengumumkan mempertahankan target range suku bunga 3.50–3.75%. Masalahnya bukan cuma di keputusan itu, tapi di statement setelahnya: mereka memberi sinyal bahwa inflasi dan ketidakpastian ekonomi masih tinggi. Artinya, peluang pemangkasan suku bunga ke depan jadi: lebih kecil, atau setidaknya lebih lambat dari ekspektasi pasar. Hal ini berbeda dengan ekspektasi pasar yang lebih pilih pemotongan suku bunga (dovish). Akibatnya, emas yang tidak memberikan yield jadi kalah menarik dibanding US Dollar. Ingat: Safe Haven bukan cuma Emas, tetapi juga USD. Kalau suku bunga tetap tinggi, pegang USD jadi lebih menarik dari emas. Ditambah banyak yang profit taking karena emas sudah naik tinggi selama 2 tahun terakhir. Btw, US Dollar Index terus menguat sejak perang Iran. Mata uang dunia kompak melemah dibandingkan USD. Rupiah? Selamat datang Rp17.000 per 1 USD. Ini adalah posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah. Lebih lemah dibandingkan pada Juni 1998. # Kesimpulan: Emas jatuh bukan karena perang tidak penting, tapi karena pasar sudah mengantisipasi perang jauh sebelum perang itu benar-benar terjadi. Headline baru muncul. Pasar sudah selesai bergerak. Kalau di saham, ingat saham farmasi langsung rontok pada saat presiden Jokowi vaksin COVID. Ket. *FOMC (Federal Open Market Committee), adalah komite di dalam the FED yang urusi suku bunga dan open-market operations. Rilis FOMC: federalreserve.gov/newsevents/pre…









