Ulish@uliisshh
Selain Banda Neira, ada satu tempat yg katanya jangan dulu mati sebelum ke sana, yaitu Tana Toraja.
Tana Toraja itu salah satu daerah di Sulawesi Selatan yg menurutku punya vibe beda. Dikelilingi gunung, udaranya dingin, kopinya juga terkenal, tapi yg paling bikin orang penasaran justru tradisinya.
Di sana, kematian bukan sesuatu yg buru-buru diselesaikan. Kalau ada yang meninggal, biasanya tidak langsung dikuburkan. Jenazahnya bisa disimpan dulu di rumah, sampai nunggu waktu pemakaman adat yang dianggap paling pas.
Aku baru benar-benar “ngeh” soal ini waktu teman kantorku yang orang Toraja cerita. Waktu ibunya meninggal, jenazahnya disimpan hampir setahun di rumah. Awalnya aku kaget, tapi buat mereka itu hal biasa. Aku bahkan diajak datang pas upacara pemakamannya.
Banyak kerbau dan babi yang dipotong saat upacara pemakaman. Katanya itu sumbangan dari keluarga besar. Tapi bukan sekadar sumbangan, lebih kayak “utang sosial” yang nanti harus dibalas kalau keluarga si penyumbang juga berduka.
Ibunya dimakamkan di Loko Mata, salah satu tempat kuburan di batu besar yang dipahat. Satu batu biasanya untuk satu keluarga. Yang bikin aku makin takjub, batu itu sudah disiapkan jauh sebelum ada yg meninggal. Jadi kematian benar-benar diperlakukan sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan sesuatu yang datang tiba-tiba.
Katanya, semakin tinggi letak kuburan, semakin tinggi pula derajat dan penghormatan bagi orang yang dimakamkan. Di Toraja, posisi makam bukan hanya soal tempat, tapi juga simbol status sosial, kehormatan, dan perjalanan menuju alam setelah kehidupan. Karena itu, banyak keluarga berusaha menempatkan orang yang mereka cintai di tempat yang tinggi, sebagai bentuk penghargaan terakhir yang penuh makna.
Belum lagi cerita tentang bayi yang dimakamkan di dalam batang Pohon Tarra. Batangnya dipahat, lalu nanti bayi dimasukkan di celah batang pohon tersebut, konon lubangnya akan menutup sendiri seiring waktu. Buatku, itu unik sekaligus menyentuh. Cara mereka menghargai kehidupan sampai ke detail seperti itu di sana.
Setelah dari Toraja, aku selalu ingat, ada tempat-tempat yang bukan cuma indah, tapi juga bikin kita melihat hidup dari sudut pandang berbeda, dan Toraja jelas salah satunya.