Yeeeeehaaa

1.6K posts

Yeeeeehaaa

Yeeeeehaaa

@ContraScriptor

dua titik

Bukan di Indonesia Katılım Kasım 2019
135 Takip Edilen58 Takipçiler
Yeeeeehaaa retweetledi
Han🍀
Han🍀@0xhanyfa·
Semalem gue baru belajar istilah baru Kalian pernah denger “duck syndrome” gak? Duck syndrome itu kondisi pas seseorang keliatannya santai, hidupnya aman2 aja. Padahal aslinya lagi capek, banyak tekanan, burnout, sama stres yang dipendem sendiri. Kenapa dianalogiin sama bebek?
Indonesia
373
29.8K
123.4K
1.7M
Yeeeeehaaa retweetledi
Dosen Pembimbing
Dosen Pembimbing@Dospemz·
BREAKING: media Jepang menyebut pemerintah Indonesia memakai buzzer untuk membungkam publik dengan cara menuduh warga yang kritis sebagai "antek-antek asing" --- Antek-antek asing mendunia guys.
The Japan Times@japantimes

Indonesian authorities used online disinformation campaigns to brand activists and journalists as "foreign agents" and silence dissent, sometimes leading to physical threats, Amnesty International said. ebx.sh/zikbcA

Indonesia
370
35.5K
78.8K
967.3K
Yeeeeehaaa retweetledi
Karima A
Karima A@karimakayyim·
The Economist tumben banget dari kemaren memasak soal Indonesia terus. Dari awal jd jurnalis suka bgt sama media ini, karena kebijakan redaksinya cukup unik & sangaaat kritis. Ciri khasnya, kebanyakan artikel di The Economist gak nyantumin nama penulis (biar tulisan diwakili institusi), mereka jg konsisten dukung free trade (pasar bebas), kebebasan individu & pemerintahan yg ramping. Bagus lah kalo Indo disenggol terus sama nih media buat digampar soal kebijakan Prabowo ttg stabilitas keuangan dan kemunduran demokrasi. Nah, terus ada bagian “thin-skinned” yg ditulis di sini (mudah tersinggung), merujuk ke gaya kepemimpinan Prabowo yg dianggap kurang nerima kritik, dan rekam jejak masa lalu yg memicu kekhawatiran kembalinya gaya otoriter yg memusatkan kekuasaan pada satu sosok. Dari style dan isi pidatonya Prabowo dari kemaren, emang Indonesia ini lagi ngeri2 sedep ya.
The Economist@TheEconomist

Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths econ.st/3RE0Fum Photo: Getty Images

Indonesia
73
3.1K
12.8K
316.6K
Yeeeeehaaa retweetledi
(Om) Adit
(Om) Adit@masakpartikelir·
Dari semenjak pertama kuliah, analisis gembel saya begini.. Kita takpernah sepenuhnya hitam atau putih. Mostly abu-abu, dan lingkungan yang akan nentuin abu-abunya condong ke mana..
(Om) Adit tweet media
Indonesia
5
166
922
15.7K
Yeeeeehaaa retweetledi
Lisa
Lisa@elisabetguwanto·
dulu, kayaknya aku ga pernah diajarin ANALYTICAL READING di sekolah. semua pertanyaan mentok di "kalimat utamanya apa?" atau "mana pernyataan yg benar menurut teks di atas?" kalo dikasih soal2 yg jawabannya tersirat atau disuruh interpretasi, malah jadi bingung sendiri 🥲
Lisa tweet media
Indonesia
9
1K
4.5K
92.1K
Yeeeeehaaa retweetledi
Rido
Rido@ridoarbain·
Waktu ketemu Eka Kurniawan kemarin, saya sempat minta rekomendasi sastra Indonesia dan beliau menyebut beberapa judul novel/kumcer setidaknya dari 4 orang penulis. Ada yang bisa tebak siapa saja penulisnya?
Indonesia
48
113
1.1K
89.7K
Yeeeeehaaa retweetledi
listyantidewi
listyantidewi@listyantidewi·
Ketika siswa memakai ChatGPT terlalu awal, proses berpikirnya “diambil alih”, sehingga retensi pengetahuan menjadi lebih rendah. Jadi ChatGPT harus diposisikan sebagai alat bantu SETELAH berpikir, bukan pengganti proses berpikir. Trik untuk guru: Gunakan ChatGPT untuk MENANTANG jawaban siswa, bukan memberi jawaban final.
Nicholas Fabiano, MD@NTFabiano

Students who used AI to study remembered less than those who did not.

Indonesia
20
536
2.8K
179K
Yeeeeehaaa retweetledi
Imelda
Imelda@mechnclgrl·
Udah keterima paper Q2 harusnya publish artikelnya this month, tapi ke detect AI checker 41%. Gue yang nulis manual tanpa AI, nambahin dari jurnal dan buku aja rasanya mau menangis. Sebenernya gimana sih sistem AI Checker???
Indonesia
135
335
5.6K
207.5K
Yeeeeehaaa retweetledi
dr. Adam Prabata
dr. Adam Prabata@AdamPrabata·
Awalnya gua kira nonton short video di HP itu bisa menjadi pengisi waktu luang. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak. Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG. Hasil penelitian ini cukup bikin gue kaget antara lain: -Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri -Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun Short video ternyata berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah. Yang menarik dari studi ini adalah: Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control) 𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡 Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.
Nicholas Fabiano, MD@NTFabiano

Addiction to short-form videos is associated with reduction of brain activity in the frontal lobe and weakened focus.

Indonesia
200
6.9K
17.4K
709.2K
Yeeeeehaaa retweetledi
Chris Wibisana
Chris Wibisana@ChrisWibisana·
Konde, kebaya, dan kain wiru adalah penjara Kartini yang sengaja dipilih dan diabadikan rezim Orde Baru setiap 21 April. Kita tidak lagi kenal Kartini sebagai pemikir dan "pendekar kaumnya untuk MERDEKA". Dia direduksi sekadar anak Bupati yang dimadu dan meninggal muda.
mas jono@yogvxp

Unpopular opinion about R.A. Kartini

Indonesia
38
2.6K
11.5K
329.4K
Yeeeeehaaa retweetledi
nomnomnom
nomnomnom@eunomiart·
@ChrisWibisana Dan herannya memperingati hari kartini sebagai bentuk emansipasi wanita adalah dengan menyuruh ibu2 pakai kebaya ke kantor, yang justru bikin repot ibu2 itu sendiri
Indonesia
0
26
239
7.2K
Yeeeeehaaa retweetledi
Handoko Tjung
Handoko Tjung@handokotjung·
Punya temen yang ga main Instagram, Tiktok, apalagi Twitter. Waktu ditanya jadi kalo ada waktu senggang ngapain? Dia jawab: Debat di Quora 😅.
Indonesia
326
1K
19.6K
520.1K
Yeeeeehaaa retweetledi
neohistoria Indonesia
neohistoria Indonesia@neohistoria_id·
Laki-laki Indonesia, bahkan yang progresif sekalipun rentan terjebak dengan penyamarataan suatu kondisi: tit for tat. Jika laki-laki melakukan A, maka perempuan melakukan A juga melakukan A. Pada akhirnya, mereka mengabaikan masalah sistemik yang sudah mengakar ribuan tahun, yakni patriarki dan penjajahan tubuh perempuan oleh mata laki-laki. Terlalu dangkal kalau hanya sekadar direduksi menjadi "bayangin kalo kejadiannya dibalik"... Pelecehan perempuan terhadap laki-laki itu adalah kesalahan individual, sementara pelecehan laki-laki terhadap perempuan itu sistemik (bandingkan jumlah komentar di Instagram Jefri Nichol dengan kasus catcalling di seluruh penjuru negeri)... Indonesia sepertinya akan lebih maju jika banyak orang lebih memahami apa itu relasi kuasa...
SobatMiskinTV@MiskinTV_

Bayangin kalo kejadiannya dibalik:

Indonesia
62
429
1.6K
115.7K
Yeeeeehaaa retweetledi
Lambe Saham
Lambe Saham@LambeSahamjja·
Guys, Sherly Tjoanda Gubernur Maluku Utara baru duduk di depan salah satu pewawancara politik paling tajam di Indonesia dan jawabannya lebih jujur dari kebanyakan politisi yang pernah gue dengar. Tapi justru itu yang bikin gue khawatir. Konteks yang perlu diingat dulu: Sherly bukan politisi karir. Dia pengusaha. Istri Bupati Morotai Benny Laos yang meninggal dalam kecelakaan kapal 12 Oktober 2024 42 hari sebelum pilkada. Malamnya ketua partai langsung datang ke rumah sakit dan bilang Sherly harus lanjutkan perjuangan. Sherly menolak. Lalu anak-anaknya minta dia maju. Dan dia akhirnya setuju bukan karena ambisi politik tapi karena tidak mau cita-cita suaminya selesai begitu saja. 51% suara di pilkada. Menang. Dilantik sebagai gubernur. Yang pertama langsung dihajar oleh host: "Anda tidak merasa dimanfaatkan oleh partai-partai politik itu?" Jawaban Sherly yang membuatnya berbeda dari politisi kebanyakan: "Dalam hidup ini kita semua saling memanfaatkan dengan tujuan masing-masing. Tujuan saya waktu itu saya harus menang dan menyelesaikan janji almarhum." Tidak defensif. Tidak berpura-pura murni. Tapi juga tidak naif dia sadar bahwa ada transaksi di balik semua dukungan itu. Pengakuan paling jujur dari seorang gubernur: "Saya ini kertas kosong. Kanvas kosong. I know nothing." Dan dia tidak bilang itu untuk merendah. Dia bilang itu karena itu fakta dan dia memilih belajar dari nol daripada pura-pura tahu. 9 bulan pertama dia habiskan untuk belajar teknis birokrasi ketemu semua dirjen, semua OPD, baca sendiri, bahkan tanya ChatGPT untuk hal-hal teknis yang belum dia pahami. "Saya bahkan bilang langsung ke delapan partai koalisi dari awal: saya tidak bisa bicara bahasa politik. Kalau menginginkan A katakan A. Saya tidak mengerti kalimat bersayap." Dan inilah yang membuat host langsung pasang sinyal bahaya: Maluku Utara bukan provinsi biasa. Ini provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia 39% karena nikel dan tambang yang luar biasa besarnya. Dari smelter saja ekspor per tahun mencapai hampir Rp150 triliun. IUP yang aktif menghasilkan sekitar Rp54 triliun setahun. Tapi Maluku Utara sebagai daerah tidak punya satu pun IUP sendiri. BUMD-nya tidak aktif sejak 2016 kena pemeriksaan BPK dan KPK dan untuk mengaktifkannya kembali butuh waktu 6 bulan sampai 1 tahun. "Kalau ini perusahaan BUMD punya satu IUP saja PAD bisa tambah 2 sampai 3 triliun per tahun." Tapi itu tidak dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya selama 10-15 tahun tambang jalan. Siapa yang menikmatinya? Bukan rakyat Maluku Utara. Dan di sinilah host menyampaikan pesan yang paling penting: "Anda sudah terlanjur bersepakat. Partai-partai mendukung Anda. Pada saatnya Anda harus tahu diri Anda harus bayar hutang." Sherly sadar akan ini. Tapi jawabannya jujur: "Belum. Saya belum menyiapkan diri untuk itu." Bukan karena tidak mau. Tapi karena dia benar-benar belum sampai ke titik itu dan dia tidak mau berpura-pura sudah siap untuk sesuatu yang belum dia pahami sepenuhnya. Soal oligarki dan dinasti pertanyaan yang paling tidak nyaman: Host bertanya langsung: apakah Sherly merasa bagian dari oligarki dan dinasti? "Saya tidak merasa bagian dari itu." Tapi host tidak membiarkan itu lewat begitu saja. Suami Sherly mantan bupati. Sekarang Sherly gubernur. Peta bisnis keluarga ditampilkan di layar puluhan PT terhubung dalam satu grup. Sherly menjawab: sebelum dilantik dia sudah keluar dari semua kepengurusan. Saham masih ada karena secara hukum boleh. Dan LHKPN almarhum suaminya justru turun selama 5 tahun jadi bupati bukan naik. "Semua yang dimiliki sudah ada sebelum beliau menjadi bupati. Almarhum bahkan tidak boleh saya menggunakan fasilitas jabatan. Dia bilang ada yang namanya korupsi kepatutan." Satu hal yang gue catat dan menurut gue penting banget: Sherly menang pilkada tanpa money politics. Tidak ada uang di hari H pemilihan. 367.000 orang memilihnya. "Saya harus memulai dengan benar. Karena ketika rakyat memilih pemimpin karena uang bukan karena hati nurani mereka akan menghasilkan pemimpin yang memperbudak nurani." Di negara di mana money politics sudah menjadi norma pernyataan itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Yang paling bikin gue mikir dari seluruh obrolan ini: Host menutup dengan satu kalimat yang tajam: "Ada kecerdasan di dalamnya. Ada keteguhan. Tapi ada juga naif di dalamnya." Dan itu mungkin diagnosis yang paling akurat. Sherly cerdas dan tulus tapi dia masuk ke sistem yang tidak dirancang untuk orang seperti dia. Sistem yang sudah menunggu untuk mengujinya dan yang paling berbahaya sudah menyiapkan tagihannya. Apakah dia akan tetap berdiri setelah 5 tahun? Atau akan menjadi satu lagi nama yang kita sebut sambil menggelengkan kepala? "Undang saya lagi 5 tahun dari sekarang. Saya akan duduk di sini dan bilang: I did it." Gue harap dia benar.
Lambe Saham tweet media
Indonesia
107
748
5.5K
469.6K