Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei
29.4K posts

Peniel Gawei
@GaweiPeniel
Kubersyukur disetiap helaan nafasku. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah alasan kita bersatu dalam NKRI
Katılım Ekim 2019
10.1K Takip Edilen9.6K Takipçiler
Peniel Gawei retweetledi

ini berita paling sedih hari ini sih
jadi ceritnya banyak driver ojol
datang ke pengadilan untuk meilhat sidang
kasus chrombook yang menyeret nadiem makarim
buat yang belum tahu nadiem ini pendiri gojek
dia buat gojek karna resah opang banyak
tapi harus jalan kaki dulu jauh
makanya dia dirikan gojek di tahun 2010
buat gambaran driver ojol perhari ini
mencapai 4 juta orang
artinya ada 4 juta lapangan pekerjaan
yang di ciptakan oleh nadiem makarin sendiri
bayangkan 4 juta orang itu punya keluarga
anggap per orang punya 2-3 kerabat yang di hidupi
berartti ada 8 - 12 juta orang yang merasakan
manfaat langsung dengan hadirnya gojek ini
ini belum lagi diluar merchant atau toko tko
yang jualan makanan
bisa bisa 19 juta lapanagn pekejraan
dari nadiem makarim sendiri
dan para driver sedih jika orang yang sudah
mengangkat derjat mereka
memberi mereka pekerjaan
bahkan untuk bertahn hidup
pada akhirnya bisa di fithnah korupsi
betapa sakit negeri ini
orang yang jelas jelas membuat
lapangan pekerjaan
bisa bisa nya di diskriminasi
seterang terangan ini
salut buat para driverr yang mau bersuara
dan mau melijhat beliau
dari awal sampai sekarang sidangg
bantu kawal guyss



Indonesia
Peniel Gawei retweetledi

Melawan fitnah Jaksa langsung di daerah 3T.
Chromebook faktanya dapat digunakan. Kami cross check langsung faktanya di Kecmatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
Bebaskan Nadiem dan Ibam! Kriminalisasi seperti ini hanya membuat Indonesia semakin tidak aman untuk orang muda!
Indonesia
Peniel Gawei retweetledi

18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
Indonesia
Peniel Gawei retweetledi

Guys, alhamdulillah...
akhirnya hari ini aku mau cerita sesuatu yang udah lama banget aku pendem sendiri.
Hampir 8 bulan suami aku nganggur.
8 bulan yang terasa kayak seumur hidup.
Aku nggak pernah tau rasanya bayar listrik sambil nahan napas, atau belanja bulanan sambil ngitung-ngitung di kepala takut lebih.
Tapi sekarang aku tau.
Suami aku orangnya gengsi, tapi demi keluarga dia tetep mau ngelamar ke mana-mana.
Ditolak berkali-kali. Pulang sambil senyum depan aku, tapi aku pernah denger dia nangis pelan di kamar mandi tengah malem.
Dikira aku tidur.
Aku pura-pura tidur, tapi air mata aku ngalir sendiri.
Seminggu lalu dia pamit pagi-pagi, bilang mau interview lagi.
Aku cuma bilang "iya, semangat" sambil senyum. Tapi begitu pintu ditutup aku langsung sujud, nangis, minta sama Allah tolong jangan biarkan suami aku patah lagi hari ini.
Dan tadi sore dia pulang...
Senyumnya beda.
"Mama, aku keterima. Sales Wifi MyRepublic."
Guys aku langsung nangis duluan sebelum dia selesai ngomong.
Dia malah ketawa ngeliat aku.
Tapi matanya merah juga.
Alhamdulillah ya Allah.
Sekecil apapun rezekinya, ini pintu yang Kau bukain buat keluarga kami 🤲
Indonesia
Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei retweetledi

Bahaya Tabung gas CNG 3kg, Jika Meledak bukan hanya dapur yang hancur tapi rumah bahkan bangunan sekitar bisa hancur, dan serpihannya terbang seperti peluru.
Kanda @bahlillahadalia harus hati-hari sekali ini dengan idenya. Di seluruh dunia tak ada yang menggunakan tabung untuk memanfaatkan CNG (Metana) untuk keperluan rumah tangga.
Bukan karena mereka tidak mampu membuat tabung yang aman, tapi risiko besar yang akan muncul jika CNG dimampatkan ke tabung karena butuh tekanan SANGAT BESAR sampai 200 bar. Bandingkan dengan LPG yang hanya 5 bar.
Tekanan 200 bar itu sama seperti tekanan terhadap benda yang berada dalam kedalaman laut 2.000 meter alias 2 km (1 bar ekuivalen dgn kedalaman 10 meter).
Bayangkan, Kapal Selam TNI AL saja maksimal hanya mampu menahan tekanan sampai kedalaman 500 m (mungkin kurang), lebih dari itu bakal remuk dan pecah karena strukturnya ndak mampu menahan beban.
Sekarang ada tabung gas CNG, yang di dalamnya ada tekanan 200 bar, diurus ibu rumah tangga di Indonesia, yang pasti tidak tahu bahwa ada bom siap meledak jika salah penanganan.
Ingat, saat awal tabung 3kg LPG dibuat, berapa banyak kasus ledakan tabung, padahal cuma 5 bar.
--------------------------
Kenapa bahaya CNG disimpan di dalam tabung untuk didistribusikan? Ini karena sifat dari wujud benda dengan massa jenisnya.
- Benda padat, seperti besi, dengan berat 1kg, akan memiliki volume paling segenggaman tangan.
- Benda cair, seperti air, dengan berat 1kg, akan memiliki volume paling sebotol mineral 1 liter.
- Nah gas seperti CNG, dengan berat 1 kg, akan memiliki volume besar sekali, lebih kurang 1,4m2 atau 1.400 liter.
Bayangkan besarnya ruang (volume) yang dibutuhkan gas CNG dengan berat 3kg, yaitu lebih kurang 4,2m2 di tekanan ruang (normal).
Karena itu lah CNG perlu dimampatkan volumenya. Cilakanya, CNG tidak berubah bentuk saat dimampatkan, tetap dalam bentuk gas. Sehingga butuh besar sekali tekanan agar ukuran ruang yg diperlukan menjadi kecil untuk menyimpan CNG dengan berat 3kg.
Besarnya tekanan yang dibutuhkan dari sisi teknis sekitar 200 bar agar bisa dimasukan dalam tabung yg kecil (lebih besar sedikit dari tabung gas LPG 3g).
Untuk menahan tekanan yang besar sampai 200 bar tsb, butuh bahan tabung dari baja yang tebal, utuh, tanpa sambungan, tanpa las-lasan. Konsekuensinya tabung akan besar sekali, bisa 3-4x berat tabung LPG saat ini.
Berbeda dengan LPG (yang merupakan produk sampingan pengolahan minyak), hanya butuh tekanan sekitar 5-10 bar. Dan ajaibnya gas LPG berubah wujud menjadi cair saat diberikan tekanan 5-10 bar. Itu lah yang menyebabnya tabungnya menjadi kecil sekali, dan ringan.
---------------
Dari sisi ekonomi, Pemerintah harus membelanjakan anggaran yang cukup besar sekali untuk mengganti tabung LPG 3kg, yang digantikan tabung CNG 3kg.
Harga produksi tabung CNG sudah pasti jauh lebih mahal, bisa sampai 20x harga produksi tabung LPG. Berbagai sumber menyebut bisa sampai Rp1,5juta-Rp3juta per tabung.
Tabung semahal itu, dengan isi gas murah, selain membebani uang negara, juga ada risiko hilang dicuri karena mahalnya.
Saat ini saja, data kehilangan tabung gas LPG 3kg saja buanyakkkk pol. Modal Rp15-Rp19ribu, dengan berat tabung 3kg LPG yang 5kg, jika dijual kiloan masih cuan Rp15ribu-Rp20ribu per tabung.
Bayangkan bakal tingginya minat menyikat tabung CNG yang beratnya bisa sampai 20kg. 😅
Apa tidak amsiong itu pemerintah mengawasi dan mengganti jika tabung CNG hilang?
-----------------
Jadi risiko keamanan, risiko anggaran, dan risiko dikilo itu lah yang menyebabkan tidak ada negara di dunia yang mendistribusikan CNG dalam bentuk tabung ke rumah-rumah.
Yang layak secara ekonomi adalah lewat jaringan pipa gas.
-------------------
Saran saya, pemerintah tidak perlu mengkonversi LPG ke CNG dalam tabung 3kg demi mengurangi subsidi yang menekan fiskal. Justru kebijakan ini akan jauh lebih membebani fiskal, bukan menghemat fiskal.
Namun, harus diakui, negara kita yang kaya produksi CNG adalah salah jika tidak memanfaatkannya, malah mengimpor LPG. Impor ini selain akan cipatakan ketergantungan, juga akan membuat bengkak beban keuangan negara, terutama untuk LPG subsidi 3kg.
Untuk itu, solusi yang masuk akal, hemat saya, baik dari sisi keamanan dan ekonomi adalah menggunakan hybrid;
1. Untuk daerah-daerah yang saat ini potensial pemanfaatan CNG karena penghasil gas alam, solusi pipanisasi gas yang perlu dilakukan masif. Misal seperti di Sidoarjo, dan Gresik di Jawa Timur. Yang dapat diperluas ke Kota sekitar seperti Surabaya, Mojokerto, Lumajang.
Jika seluruh Rumah tangga (juga industri, restor, dll) di di daerah ini menggunakan jariangan pipa gas, ini akan dapat mengurangi kebutuhan LPG secara signifikan.
Ya tetu butuh investasi pipanisasi gas. Yang memang mahal, tapi jauh lebih aman dan ekonomis dibanding distribusi dgn tabung gas CNG.
2. Untuk daerah lain yang masih sulit diakses, karena jauh dari sumber gas alam, dan belum punya stasiun storage, baiknya tetap saja gunakan LPG 3kg. Sambil ke depan pelan-pelan bangun stasiun gas dan pipanisasi gas CNG.
Ini lebih masuk akal daripada konversi LPG 3kg ke CNG 3kg.
🙏
Salam
FK

Indonesia
Peniel Gawei retweetledi

Guys, Prabowo lagi kunjungan ke Gorontalo, ketemu nelayan di Kampung Nelayan Merah Putih. Terus dia nanya ke nelayan-nelayan di sana: "MBG sudah ada di sekolah-sekolah?"
Jawabannya? Banyak yang bilang belum.
Dan Prabowo bilang dia akan catat sekolah mana yang belum kebagian.
Oke. Gue mau berhenti sebentar di sini.
Program MBG sudah berjalan berbulan-bulan.
Dan presiden baru tahu ada sekolah yang belum kebagian dari nanya langsung ke nelayan di lapangan?
Ini bukan soal Prabowo-nya yang turun langsung ke rakyat itu bagus.
Tapi ini soal sistem monitoring yang harusnya sudah ada dari hari pertama program diluncurkan.
Kalau presiden harus nanya dulu ke nelayan untuk tahu sekolah mana yang belum dapat MBG, itu artinya data di atas meja tidak akurat atau tidak sampai ke atas sama sekali.
Soal pernyataan "anak orang kaya tidak perlu MBG, tidak apa-apa":
Secara logika benar.
Program bergizi gratis memang harusnya diprioritaskan untuk yang membutuhkan, bukan yang sudah berkecukupan.
Tapi tunggu dulu.
Dari awal program MBG dirancang dan dijalankan untuk semua sekolah bukan hanya sekolah miskin.
Anggaran Rp400 triliun lebih digelontorkan untuk menjangkau puluhan juta anak.
Dan baru sekarang presiden bilang yang tidak perlu tidak apa-apa?
Kalau dari awal targeted ke yang benar-benar butuh anggarannya bisa jauh lebih efisien, jangkauannya bisa jauh lebih dalam ke daerah yang benar-benar kekurangan gizi,
dan yang paling penting kualitasnya bisa jauh lebih baik dari anggaran Rp10.000 per porsi yang sudah sering dikritik habis-habisan.
Soal anggaran Rp10.000 sampai Rp12.000 per porsi ini yang paling menggelikan:
Rp10.000 di kantin sekolah dapat apa?
Nasi sama tempe goreng kalau beruntung.
Di beberapa daerah bahkan tidak cukup untuk itu.
Sementara program ini diklaim akan membangun generasi Indonesia yang kuat, cerdas, dan bersemangat.
Dengan Rp10.000 per hari.
Di negara yang harga bahan pokok terus naik.
Di tengah rupiah yang sudah di atas Rp17.400 per dolar.
Ibaratnya lo bilang mau bikin anak Indonesia sehat dan kuat, tapi modal yang dikasih cuma cukup buat beli seporsi nasi uduk tanpa telur.
Dan yang lebih ironis banyak anak yang MBG-nya tidak dimakan karena memang tidak enak atau tidak sesuai selera.
Jadi bukan cuma anggarannya kecil,
tapi makanannya pun tidak selalu dimakan.
Jadi sampah.
Yang paling miris dari kunjungan ini:
Nelayan di Gorontalo ngaku anaknya belum dapat MBG.
Prabowo janji akan dicatat.
Program MBG sudah berjalan.
Anggaran sudah dikucurkan ratusan triliun.
Tapi nelayan di Gorontalo anaknya belum dapat.
Sementara di tempat lain ada laporan MBG diterima tapi tidak dimakan karena tidak enak.
Ada SPPG yang ditutup tapi masih dapat insentif Rp6 juta.
Ada audit BPK yang mempertanyakan ribuan akun dan miliaran rupiah.
Jadi uangnya ada, programnya jalan, tapi yang butuh belum tentu dapat dan yang dapat belum tentu makan.
Niatnya bagus.
Tidak ada yang menyangkal itu.
Tapi program sebesar ini dengan anggaran sebesar ini seharusnya tidak bergantung pada presiden harus turun lapangan dulu untuk tahu ada yang belum kebagian.
Seharusnya ada sistem data yang real-time, transparan, dan bisa diakses publik sehingga tidak perlu nanya ke nelayan dulu untuk tahu kondisi di lapangan.
Dan pernyataan bahwa anak orang kaya tidak perlu MBG kalau memang itu prinsipnya dari awal, harusnya program ini dari hari pertama dirancang targeted, bukan universal.
Karena dengan targeted, Rp400 triliun lebih itu bisa punya dampak yang jauh lebih dalam untuk yang benar-benar membutuhkan.

Indonesia
Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei retweetledi

Ini bukan soal Teddy Indra Wijaya sebagai pribadi.
Ini soal sistem militer yang lagi dilipet seenaknya.
Begini faktanya:
Bagi lulusan Akmil 2011, seharusnya baru layak Letkol sekitar 2034.
Teddy adalah lulusan Akmil 2011, 2026 udah Letkol.
Loncat 8 tahun!!!
Dan ini bukan sekali.
Naik pangkatnya pakai istilah ajaib:
“kenaikan reguler dipercepat”
yang bahkan dikritik analis militer kayak Selamat Ginting sebagai gak ada dalam aturan TNI.
Masalah makin serius:
UU TNI cuma izinkan perwira aktif isi 10 jabatan sipil.
Seskab? Gak masuk.
Artinya?
Kalau mau jadi Seskab, harusnya mundur dulu dari TNI.
Tapi ini enggak.
Lebih aneh lagi:
Jabatan Seskab setara eselon 2.
Harusnya minimal Brigjen.
Sekarang malah cukup Letkol.
Belum cukup syarat, tapi sudah duduk.
Sementara itu:
Perwira lebih senior,
lebih lengkap pendidikan,
masih ngantri.
Pesan yang dikirim ke dalam TNI jelas:
Prestasi kalah sama kedekatan.
Kalau ini dibiarkan,
yang rusak bukan cuma satu orang.
Yang rusak: sistem.
Dan kalau militer mulai longgar terhadap aturan dan bisa dilangkahi,
yang kena dampaknya bukan cuma mereka.
Tapi kita semua.

Indonesia
Peniel Gawei retweetledi

KAMPUS DISURUH MASAK? WHAT??
"Tugas kami mendidik, bukan memasak!" Rektor UI
Seminggu belakangan ini, dunia pendidikan Indonesia diramaikan oleh satu permintaan yang bikin banyak rektor mengernyitkan dahi.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana
meminta perguruan tinggi turut
membuka
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias
dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bukan sekadar wacana permintaan ini disampaikan langsung dalam Forum U25 yang dihadiri para rektor dari 24 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) di Makassar,
seiring peresmian
dapur MBG pertama di lingkungan kampus di Universitas Hasanuddin.
ALASAN BGN: BUKAN SEKADAR MASAK-MASAKAN
BGN punya argumen yang lebih luas dari sekedar "tolong buatin nasi boks". Ini alasannya:
1. Kampus = Gudang Ilmu + Sumber Daya
Dadan menegaskan bahwa teknologi, SDM, dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi dinilai sangat bermanfaat bagi program MBG, mulai dari pengembangan peralatan, keamanan pangan, hingga pelatihan dan bimbingan teknis.
2. SPPG = Lab Hidup untuk Mahasiswa
SPPG di kampus dimaksudkan sebagai pusat pembelajaran berbasis praktik, sekaligus laboratorium hidup untuk mengembangkan riset dan inovasi mulai dari teknologi pertanian, pengolahan pangan, hingga manajemen rantai pasok.
3. Skala Kebutuhannya BESAR banget
Satu unit SPPG saja membutuhkan sekitar 8 hektare lahan sawah untuk suplai beras,
19 hektare lahan jagung
untuk pakan ternak, dan
3.700–4.000 ekor ayam petelur untuk kebutuhan protein harian.
BGN menilai kampus punya kapasitas untuk menyuplai semua itu dari civitas akademikanya sendiri.
4. Penggerak Ekonomi Lokal
SPPG di kampus diharapkan jadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal, menciptakan kolaborasi antara kampus, petani, peternak, dan UMKM dalam satu sistem ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
RESPONS REKTOR UI: TUNGGU DULU!
Rektor UI, Heri Hermansyah, menegaskan bahwa tugas utama perguruan tinggi adalah
pendidikan,
penelitian,
riset, inovasi, dan
pengabdian masyarakat
bukan operasional dapur.
Jika pun ada SPPG, seharusnya dikelola oleh unit usaha kampus yang relevan,
bukan universitas itu sendiri.
PRO VS KONTRA
Yang PRO:
Rektor IPB University, Alim Setiawan Slamet, menilai pelibatan kampus dalam MBG merupakan langkah strategis karena kampus memiliki keunggulan dalam mengintegrasikan sistem pangan berbasis ilmu pengetahuan, dari produksi hingga konsumsi dan gizi.
Yang KONTRA:
Akademisi dari Pusat Studi Kebijakan Publik Universitas HKBP Nommensen mengingatkan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh diperlakukan sebagai ruang operasional proyek. Kampus harus tetap menjadi institusi yang menjaga kebebasan berpikir dan otonomi intelektual.
LBH Makassar bahkan mengkritik keras Unhas yang sudah terlanjur membangun dapur MBG, menyebutnya menyimpang dari mandat Tridharma Perguruan Tinggi dan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan.
Niat BGN sebenarnya mulia melibatkan kampus sebagai knowledge hub yang mengintegrasikan sains, riset, dan praktik dalam program gizi nasional.
Tapi pertanyaannya tetap relevan: apakah ini tugas kampus, atau seharusnya ada lembaga lain yang mengambil peran operasional ini?
Yang jelas, antar
"kampus sebagai mitra riset" dan "kampus sebagai pengelola dapur"
itu
bedanya jauh banget.
Dan Rektor UI sudah memilih jawabannya dengan elegan
Gimana menurut kamu? Kampus seharusnya ikut masak atau cukup kasih resep ilmiahnya? Komen di bawah!

Indonesia
Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei retweetledi
Peniel Gawei retweetledi














